Jam 3 Pagi
MENGAPA ide terbaik sering datang saat kita berhenti memikirkannya? Ada tiga jenis manusia yang bangun pada pukul tiga pagi. Yang pertama adalah mereka yang bangun untuk menunaikan shalat tahajud, memanfaatkan sepertiga malam terakhir untuk bermunajat, mencari ketenangan, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Yang kedua adalah mereka yang tiba-tiba terbangun sambil panik karena teringat, "Jangan-jangan kompor belum dimatikan!" Mereka bergegas menuju dapur dengan jantung berdebar, lalu mendapati kompornya sudah mati sejak tadi. Otak memang kadang suka membuat film thriller berdurasi 2 menit.
Kelompok ketiga adalah mereka yang mendadak terbangun karena sebuah ide yang terasa begitu jelas sehingga spontan duduk tegak di tempat tidur sambil berkata, "Nah, ini dia solusinya!" Anehnya, kelompok ini ternyata tidak sedikit. Ide-ide seperti itu sering muncul ketika pikiran sedang tenang, tidak lagi dijejali tekanan, dan memiliki ruang untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian orang yang bangun untuk shalat tahajud juga mengalami hal yang sama. Setelah hati menjadi lebih tenteram melalui ibadah dan doa, mereka justru memperoleh kejernihan berpikir, inspirasi, atau jalan keluar atas persoalan yang sebelumnya terasa buntu.
Dengan kata lain, kelompok pertama sering kali sekaligus menjadi kelompok ketiga. Fenomena "ide jam tiga pagi" ternyata bukan sekadar cerita yang enak dijadikan bahan ceramah atau obrolan sambil menyeruput kopi. Dalam bukunya Creating the Impossible, Michael Neill (2018) mengisahkan pengalaman Don Donovan, seorang pemimpin divisi di sebuah perusahaan kedirgantaraan internasional, yang menghadapi proyek yang nyaris mustahil diselesaikan. Kisah ini kemudian menjadi salah satu ilustrasi paling menarik tentang bagaimana kreativitas sering kali muncul justru ketika tekanan mulai berkurang.
Pengalaman itu juga cukup akrab bagi saya. Tidak sedikit tulisan JAM 6 TENG yang justru mulai saya tulis sekitar pukul tiga pagi. Entah mengapa, pada jam-jam itu kalimat terasa lebih mudah mengalir. Mungkin karena dunia masih sepi, mungkin karena pikiran belum dipenuhi rapat, pesan WhatsApp atau daftar pekerjaan yang menunggu. Walaupun, harus diakui, sesekali yang muncul bukan ide besar, melainkan pertanyaan sederhana: "Masih ada kopi, tidak, ya?"
Balik ke kisah Donovan, suatu ketika dia menerima tugas yang membuat siapa pun mungkin ingin mengecek apakah surat penugasannya tertukar dengan naskah film fiksi ilmiah. Ia dan timnya diminta memangkas waktu penyelesaian sebuah proyek militer dari 18 bulan menjadi hanya 9 bulan. Bukan dipercepat sedikit, melainkan dipotong separuh.
Untungnya, tim Donovan bukan tim sembarangan. Anggotanya adalah para insinyur lulusan kampus terbaik seperti MIT, Caltech, dan Stanford. Kalau kecerdasan bisa ditimbang, mungkin ruang rapat mereka sudah harus diberi fondasi tambahan.
Selama enam minggu mereka bekerja keras. Berbagai sesi brainstorming dilakukan. Simulasi dijalankan. Perhitungan diulang berkali-kali. Papan tulis dipenuhi rumus, sementara kopi berganti kopi. Namun, hasilnya tetap sama. Mereka mentok.
Sempat muncul satu solusi yang secara teori dapat menyelesaikan masalah tersebut. Sayangnya, solusi itu mengharuskan mereka membangun ulang sebagian fasilitas produksi, sebuah pekerjaan yang membutuhkan waktu sekitar 1 tahun. Artinya, untuk menyelesaikan proyek dalam sembilan bulan, mereka harus lebih dulu menghabiskan dua belas bulan untuk mempersiapkannya. Secara logika mungkin benar, tetapi kalender tampaknya tidak mau bekerja sama.
Setelah enam minggu bergulat dengan kebuntuan, Donovan akhirnya mengambil keputusan yang berat. Ia mengumpulkan seluruh anggota tim, mengucapkan terima kasih atas dedikasi mereka, lalu mengatakan bahwa mereka harus menyerah. Keesokan paginya ia akan menghubungi pihak militer dan mengakui bahwa target tersebut tidak mungkin dipenuhi. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Perusahaan bisa kehilangan salah satu kontrak terbesar mereka, dan karier Donovan sendiri kemungkinan besar ikut dipertaruhkan.
Namun, justru setelah keputusan menyerah itu diambil, sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan terjadi. Keesokan paginya Donovan datang ke kantor lebih awal. Betapa terkejutnya ia ketika melihat area parkir sudah dipenuhi mobil. Beberapa anggota tim ternyata sudah datang sejak dini hari.
Salah seorang insinyur kemudian menceritakan pengalamannya. Setelah mendengar keputusan untuk menyerah, ia pulang tanpa lagi membawa beban proyek di kepalanya. Ia bermain bersama anak-anaknya, menikmati waktu bersama istrinya, lalu tidur lebih nyenyak daripada biasanya. Sekitar pukul tiga pagi ia terbangun dengan sebuah ide yang terasa sangat jelas. Begitu jelasnya hingga ia khawatir akan lupa jika tidak segera dicatat.
Yang lebih mengejutkan lagi, ia bukan satu-satunya. Beberapa insinyur lain juga mengalami pengalaman yang hampir sama. Mereka sama-sama terbangun pada dini hari dengan gagasan yang sebelumnya tidak pernah muncul selama enam minggu penuh. Tanpa saling berjanji, mereka datang lebih awal ke kantor untuk menguji ide tersebut.
Hasilnya benar-benar di luar dugaan. Ide yang lahir ketika pikiran mereka sudah tidak lagi dipaksa bekerja justru menjadi solusi yang selama ini mereka cari. Proyek yang semula dianggap mustahil akhirnya berhasil diselesaikan dalam sembilan bulan, bahkan tetap berada dalam batas anggaran yang telah ditetapkan.
Donovan kemudian mengatakan bahwa ia bangga karena timnya berhasil mencapai target. Namun, yang lebih membanggakan lagi adalah cara mereka mencapainya. Mereka tidak harus bekerja dalam kepanikan, tidak harus hidup dengan tekanan yang terus-menerus, dan tidak harus mengorbankan kewarasan demi mengejar produktivitas.
Kisah itu kemudian berkembang menjadi legenda di perusahaan. Setiap kali ada seseorang yang mentok memecahkan persoalan, rekan-rekannya akan bertanya sambil tersenyum, "Sudah menyerah belum?"
Tentu maksudnya bukan menyerah pada tujuan, melainkan menyerah pada tekanan yang membuat pikiran terus berputar-putar tanpa arah. Kadang-kadang yang perlu dilepaskan bukanlah mimpinya, melainkan cara kita memaksakan diri untuk mencapainya.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Michael Neill tentang pendekatan inside-out. Menurutnya, pengalaman manusia lebih banyak dibentuk oleh kondisi pikiran daripada oleh keadaan di luar dirinya. Neill menjelaskan bahwa pengalaman kita lahir dari interaksi tiga prinsip, yaitu Mind, Consciousness, dan Thought. Ketika pikiran dipenuhi kecemasan, kita cenderung melihat jalan buntu di mana-mana. Sebaliknya, ketika pikiran menjadi lebih tenang, ruang bagi kreativitas pun mulai terbuka.
Neill juga mengingatkan bahwa produktivitas bukanlah perlombaan untuk melihat siapa yang tampak paling sibuk. Produktivitas adalah kemampuan menghasilkan lebih banyak nilai dengan usaha yang lebih cerdas. Orang yang menikmati pekerjaannya umumnya lebih fokus, lebih kreatif, dan lebih mudah memasuki keadaan flow, yaitu kondisi ketika pekerjaan terasa mengalir tanpa harus dipaksa.
Ia bahkan merumuskan proses penciptaan menjadi dua langkah sederhana. Pertama, beranilah melangkah menuju tujuan meskipun belum mengetahui seluruh jalannya. Kedua, tanggapilah apa pun yang muncul selama perjalanan. Masa depan memang tidak dapat diprediksi secara sempurna, tetapi selalu dapat diciptakan melalui tindakan dan respons yang tepat terhadap berbagai peluang yang muncul.
Barangkali di situlah letak pelajaran terbesar dari "jam tiga pagi". Pikiran manusia bukan mesin yang menghasilkan ide lebih banyak hanya karena dipaksa bekerja lebih keras. Justru ketika diberi kesempatan untuk tenang, ia sering memberikan jawaban yang selama ini dicari.
Jadi, kalau suatu malam Anda terbangun pukul tiga pagi dengan sebuah ide yang terasa sangat masuk akal, jangan buru-buru menganggapnya sekadar mimpi atau efek kebanyakan minum kopi. Catatlah. Siapa tahu, itulah jawaban yang selama berminggu-minggu tidak kunjung datang saat Anda sibuk mengejarnya.
Dan kalau ternyata Anda bangun pukul tiga pagi hanya untuk memastikan kompor sudah dimatikan, tidak apa-apa juga. Setidaknya Anda sudah memastikan rumah tetap utuh. Ide brilian bisa menunggu lima menit lagi. *
Rujukan:
Neill, M. (2018). Creating the impossible: A 90-day program to get your dreams out of your head and into the world. Hay House UK.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar