Esai

Jangkar Diam Seorang Rais Am

SW60Plus.com, 30 Agustus 2026, 21:20 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 76x dilihat

DI hamparan sajadah sejarah yang membentang, Nahdlatul Ulama berdiri laksana pohon raksasa. Akarnya menghunjam dalam ke pertiwi. Cabang-cabangnya menggapai langit zaman. Di puncak tertinggi pohon rohani itu, duduklah seorang figur yang sunyi namun menggetarkan: Rais Am. 

Ia bukan sekadar jabatan dalam bagan organisasi yang kaku. Bukan juga sebuah pusaka dalam anggaran dasar. Ia adalah pemegang sanad, penjaga gawang spiritual, dan nahkoda yang mengemudikan bahtera di tengah samudra ummat yang kerap bergolak.

Ketika badai modernitas bertiup kencang dan arus politik acapkali mengayunkan nalar awam, Rais Aam hadir sebagai jangkar. Ia yang menahan agar perahu tidak hanyut. Ia yang memastikan kompas tetap menghadap ke kiblat kebenaran, bukan ke arah angin kepentingan.

Mari kita mundurkan jarum jam, kembali ke masa ketika fajar Nahdlatul Ulama baru saja menyingsing di tanah Jawa. Silsilah kemuliaan ini bermula dari sang mahaguru, Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari. Di Jombang yang sunyi, ia merajut simpul-simpul ulama. 

Ketika ia dipilih menjadi Rais Akbar—sebuah gelar yang tak pernah diulang untuk menghormati kedudukannya yang tak tertandingi—ia tidak sedang menerima mahkota. Ia sedang memikul tanggung jawab yang teramat berat.

Hadratusyaikh adalah jangkar pertama. Ketika bumi Nusantara masih dicengkeram kuku penjajah, fatwanya adalah api. Resolusi Jihad yang lahir dari rahim pemikirannya bukan sekadar kalimat di atas kertas. Ia adalah mantra yang mengubah para santri menjadi penegak kedaulatan. 

Namun, di balik ketegasan sikap politiknya, Hadratusyaikh adalah samudra ketenangan. Ia menetapkan fondasi keilmuan yang kokoh. Dari tangannya, prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan i'tidal (tegak lurus) bukan lagi sekadar teori kitab kuning, melainkan urat nadi yang mengalir dalam tubuh organisasi.

Waktu berlalu, dan tongkat estafet berpindah kepada KH. Abdul Wahab Chasbullah. Jika Hadratusyaikh adalah ketenangan samudra, maka Mbah Wahab adalah gelombang yang dinamis. Sebagai Rais Am setelah sang guru wafat, ia adalah arsitek yang lincah. Di masanya, NU harus mengarungi labirin politik Indonesia yang rumit—dari parlementer hingga Demokrasi Terpimpin. 

Di sinilah peran jangkar itu diuji dengan cara yang berbeda. Mbah Wahab membuktikan bahwa menjadi jangkar tidak berarti membuat perahu diam membeku. Menjadi jangkar adalah memastikan bahwa seberapa jauh pun perahu bermanuver di antara karang-karang politik, ia tidak akan pernah karam atau kehilangan jatidirinya. Ia menjaga prinsip dengan fleksibilitas strategi yang mengagumkan.

Lalu kita mengenang KH. Bisri Syansuri, sosok wara’ yang teliti. Di bawah tatapannya yang teduh namun tajam, fikih menjadi kompas yang sangat presisi. Mbah Bisri adalah jangkar moral yang kokoh. Ketika dunia luar menawarkan kompromi yang menggiurkan, ia berdiri tegak di atas garis hukum Tuhan. Ia mengingatkan umat bahwa di dalam gerak maju zaman, ada batas-batas suci yang tidak boleh dilanggar. Kepatuhannya pada syariat memberikan rasa aman bagi jutaan warga nahdliyin yang merindukan kepastian hukum di tengah transisi sosial yang membingungkan.

Zaman terus bergerak, membawa angin baru yang menuntut pembacaan yang lebih kontekstual. Datanglah masa KH. Ali Ma’shum dan KH. Achmad Siddiq. Di pundak kiai dari Jember, Jawa Timur ini, disokong KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU, sebuah keputusan monumental telah lahir: kembalinya NU ke Khittah 1926 dan penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam bernegara.

Dengarlah bisikan sejarah di muktamar itu. Di tengah perdebatan yang menguras emosi dan menguji kesetiaan ideologis, Kiai Achmad Siddiq tampil merumuskan gagasan dengan jernih. Ia menjangkarkan kembali NU pada khittah keagamaannya, membebaskan organisasi ini dari belenggu politik praktis yang melelahkan. Perannya sebagai Rais Am pada masa itu adalah peran seorang penyembuh. Ia memulihkan ingatan kolektif ummat tentang hakikat sejati didirikannya NU: untuk pendidikan, dakwah, dan sosial.

Langkah ini diteruskan oleh KH. Ali Yafie dari Gorontalo, KH Ilyas Ruhiyat dari Pesantren Cipasung, Jawa Barat, dan kemudian KH. Sahal Mahfudz dari Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Mbah Sahal membawa faset baru dalam kepemimpinan Rais Aam melalui gagasan Fikih Sosial. Di tangannya, fikih tidak lagi berjarak dari realitas kemiskinan dan keterbelakangan. Fikih ditarik dari langit teks menuju bumi kenyataan. Sebagai jangkar, Mbah Sahal memastikan bahwa spiritualitas NU tidak bertransformasi menjadi kesalehan individual yang egois, melainkan menjadi kesalehan sosial yang menggerakkan pemberdayaan ekonomi dan kemanusiaan.

Kita juga tidak boleh melupakan kehadiran KH. MA. Sahal Mahfudz yang kharismatik, disusul oleh KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang membawa kelembutan puisi dan kesejukan rasa ke dalam ruang-ruang organisasi.

Gus Mus, meski dalam waktu yang singkat sebagai Penjabat Rais Am, mengingatkan kita bahwa jangkar itu bisa berwujud kebudayaan. Di saat ketegangan politik internal merayap naik, senyum Gus Mus dan bait-bait puisinya menjadi peredam amarah. Ia menjangkarkan NU pada rasa kemanusiaan yang paling dalam, mengingatkan semua orang bahwa di atas politik, ada persaudaraan yang jauh lebih suci.

Hingga kemudian kepemimpinan berlanjut kepada KH. Ma'ruf Amin dari Tanara, Banten dan KH. Miftachul Akhyar asal Surabaya. Tantangan mereka tidak lagi sama dengan masa Hadratusyaikh atau Mbah Wahab. Mereka menghadapi dunia yang terkoneksi oleh algoritma digital, tatkala kebenaran seringkali tenggelam dalam riuh rendah hoaks, dan otoritas keagamaan mengalami fragmentasi.

Di era distrupsi ini, peran Rais Am sebagai jangkar justru semakin krusial. Ia harus menjadi rujukan di tengah kesimpangsiuran, menjadi titik diam di tengah pusaran informasi yang berputar tanpa kendali.

Mengapa Rais Am begitu dikeramatkan? Mengapa posisinya ditempatkan di atas Ketua Tanfidziyah yang mengurusi kerja-kerja administratif sehari-hari?

Jawabannya ada pada hakikat kepemimpinan spiritual itu sendiri. Tanfidziyah adalah tangan yang bekerja, tangan yang membangun gedung, tangan yang mengelola keuangan, dan tangan yang menjalankan roda organisasi. Namun, Rais Am adalah mata hati. Ia adalah mainspring, pegas utama yang menggerakkan seluruh sistem nilai.

Ketika struktur eksekutif tergoda untuk melangkah terlalu cepat atau berbelok terlalu tajam demi mengejar efisiensi atau pragmatisme, tatapan sunyi dari Rais Am adalah rem yang menyelamatkan. Sebaliknya, ketika organisasi stagnan dan kehilangan gairah, restu dan doa dari Rais Aam adalah berkah yang mengalirkan energi baru.

Menjadi jangkar NU berarti memikul beban sejarah keislaman Nusantara. Seorang Rais Am harus mampu mempertemukan kemegahan masa lalu dengan ketidakpastian masa depan. Di dalam dirinya, ribuan kitab klasik yang ditulis ratusan tahun lalu harus berdialog dengan isu-isu kontemporer seperti kecerdasan buatan, perubahan iklim, dan geopolitik global. 

Ia tak boleh sekadar menjadi penjaga museum masa lalu yang berdebu. Tetapi harus menjadi mata air yang airnya terus mengalir, menyegarkan dahaga generasi muda nahdliyin yang hidup di abad ke-21.

Melihat kembali silsilah Rais Aam dari masa ke masa adalah membaca sebuah epik tentang keteguhan. Mereka berbeda dalam gaya kepemimpinan, berbeda dalam latar belakang pesantren, dan berbeda dalam pendekatan fiqhiyah. Ada yang ahli hadis, ada yang ahli politik, ada yang begawan fikih, dan ada yang budayawan. 

Namun, di dalam dada mereka mengalir detak jantung yang sama: cinta yang tanpa syarat kepada umat dan kesetiaan yang tanpa batas kepada kebenaran Islam yang ramah, rahmatan lil 'alamin.

Kini, di malam-malam yang panjang, ketika lampu-lampu pesantren di seluruh pelosok negeri mulai meredup. Para santri terlelap dalam mimpi mereka, di ruang tengah atau di dalam mihrab masjid. Tapi seorang Rais Aam barangkali sedang menengadahkan tangan. Di atas pundaknya yang mulai sepuh, ia membawa beban jutaan nyawa dan jutaan iman.

Ia adalah jangkar yang tak terlihat namun kekuatannya mencengkeram dasar samudra. Selama jangkar itu belum tercabut, selama tradisi penghormatan terhadap kearifan para sepuh masih terjaga, maka bahtera Nahdlatul Ulama akan terus berlayar. Ia akan terus menembus ombak zaman, membawa penumpang di dalamnya menuju pantai keselamatan, menjaga Indonesia, dan merawat dunia dengan senyuman kasih sayang yang tak terbilang.***

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000