Esai

Jejak Estetis Maestro Indonesia di Paris

SW60Plus.com, 11 Oktober 2026, 22:06 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 294x dilihat

PARIS bukan sekadar titik di atas peta. Tapi ada masa ketika ibukota Perancis ini menjadi ruang sakral tempat garis dan warna menemukan jiwanya. Bagi sejumlah maestro pelukis Indonesia, kota ini adalah sebuah bentang rasa. Panggung megah tradisi Timur yang bersahaja, berbenturan, melebur, dan akhirnya berdansa dengan modernisme Barat yang bergelora. 


Menulis tentang Paris dan para pelukis kita bukan sekadar mencatat sejarah migrasi artistik, tapi merupakan sebuah laku kontemplatif. Misinya untuk meraba kembali denyut nadi estetika yang tertinggal di celah-celah trotoar berbatu, di sepanjang tepian Sungai Seine yang tenang, dan di bawah temaram lampu kafe Montparnasse.
Bayangkanlah langit dan cahaya matahari di akhir musim panas yang jatuh miring.

Seperti saya saksikan pada medio September lalu, cahayanya seolah menembus jendela studio tinggi, dan memprovokasi imajinasi mereka. Ke kota inilah mereka membawa ransel yang sarat  memori tanah air: aroma tanah basah setelah hujan tropis dan siluet pohon kelapa yang meliuk. Juga kegelisahan kolektif sebuah bangsa yang baru saja melepaskan belenggu kolonial. 


Namun, sederet memori itu tak dibiarkan membeku. Kota ini menuntut mereka untuk melihat kembali diri mereka dari kejauhan. Sebuah jarak panjang introspeksi diri yang jujur. Jarak yang mampu menelanjangi identitas mereka, dan melahirkannya kembali dalam bentuk karya seni baru yang universal, tanpa meninggalkan jejak negeri tercinta.


Sebut saja sang pengembara agung, Raden Saleh. Jauh sebelum istilah "modernitas" akrab di telinga bangsa Indonesia, ia telah menapaki jalanan Paris pada abad ke-19. Baginya, Paris adalah sebuah cermin besar yang memantulkan keagungan sekaligus tragedi romantisisme. Di kota ini, Raden Saleh tidak sekadar meniru para mahaguru Eropa.


Raden Saleh menyerap drama kehidupan. Cahaya Paris yang dramatis mengajarinya cara menangkap ketegangan antara hidup dan mati, lalu ia tumpahkan ke dalam lukisan perburuan singa yang legendaris. Melalui sapuan kuasnya yang emosional, ia membuktikan bahwa seorang bumiputera mampu menguasai bahasa visual barat tanpa kehilangan kepekaan jiwanya yang terdalam. Paris membebaskannya dari batasan rasial zamannya. Menjadikannya seorang kosmopolitan yang melukis dengan darah dan air mata.


Melompat ke abad berikutnya, kita mendapati Affandi Koesoema. Sang maestro ekspresionisme inilah yang meletakkan seluruh eksistensi jiwanya di atas kanvas. Ketika Affandi tiba di Paris, ia tidak datang untuk tunduk pada keindahan arsitektur kota yang simetris. Baginya, Paris adalah ruang ujian bagi kejujuran rasa. Alih-alih melukis kemegahan Menara Eiffel dari sudut pandang turis, Affandi melihat Paris melalui lensa kemanusiaan yang intim dan rentan. 


Garis-garis cat yang ia tekan langsung dari tubenya membentuk potret-potret menara yang meliuk. Menimbulkan kesan seolah-olah struktur baja itu sedang bernafas dan merintih di bawah langit Perancis. Di Paris, Affandi menemukan bahwa kebenaran artistik tidak terletak pada kesempurnaan bentuk, tapi pada kemurnian emosi yang meledak. Paris memberikan Affandi panggung untuk berteriak secara visual, dan dunia mendengarkannya.


Kontras dengan Affandi, Sindudarsono Sudjojono, atau S.Sudjojono membawa Kota Cahaya (La Ville Lumière) itu ke dalam ranah kontemplasi yang lebih politis namun puitis. Sebagai bapak seni rupa moderen Indonesia yang selalu mendengungkan "jiwa ketok" (jiwa yang tampak), Sudjojono melihat kota ini sebagai sebuah paradoks. Di satu sisi, ia mengagumi pencapaian estetikanya, namun di sisi lain, Paris memperkuat keyakinannya akan pentingnya akar tradisi. Kunjungan dan persinggahannya di sana menjadi momen refleksi yang mendalam: bagaimana menjadi modern tanpa menjadi asing bagi bangsa sendiri?


Paris menjadi katalisator yang memaksa Sudjojono untuk menyaring esensi keindonesiaan. Memastikan bahwa setiap goresan kuasnya tetap berbau lumpur sawah dan keringat rakyat, meski dipamerkan di bawah sorot lampu galeri Eropa yang mewah.


Jangan melupakan sosok seperti Saraochim Salim, pelukis yang memilih Paris sebagai rumah abadinya. Saya pernah suatu saat menemuinya di sana yang kala itu tinggal di sebuah apartemen kuno, ditemani sang kekasih hati yang sudah sepuh dan kura-kura bernama Soledad. Pelukis kelahiran Sumatera Utara –versi lain menyebut lahir di Sumatera Barat-- ini wafat 2008 lalu dalam usia 100 tahun. Ia pernah menjadi asisten pelukis kenamaan Fernand Leger pada 1929-1932.


Bagi Salim, Paris bukan lagi sekadar tempat singgah untuk berkarya, melainkan ruang eksistensial tempat ia merajut sunyi. Di tengah hiruk-pikuk kota modern, lukisan-lukisan Salim justru menampilkan kesederhanaan yang meditatif. Bentuk-bentuk geometris yang tenang, warna-warna yang diredam, dan harmoni yang subtil mencerminkan bagaimana ia telah berdamai dengan dualisme identitasnya. Paris memberinya kemerdekaan untuk tidak berteriak, menjadi sunyi di tengah keramaian, dan menemukan spiritualitas dalam sepotong roti atau sudut meja studionya.


Berada di Paris bagi para maestro ini adalah sebuah ziarah sunyi. Ada kepedihan tersembunyi yang kerap luput dari catatan sejarah: rasa asing yang menusuk di tengah dinginnya musim dingin, kerinduan yang mendalam pada sinar matahari khatulistiwa yang hangat, dan perjuangan konstan untuk diakui di tengah kiblat seni dunia. 


Justeru dalam ruang-ruang isolasi dan kerinduan itulah, mahakarya dilahirkan. Rasa rindu pada tanah air tidak melemahkan mereka. Malah bertransformasi menjadi energi puitis yang memperkaya estetika global. Mereka menyadari bahwa untuk memahami Indonesia sepenuhnya, terkadang mereka harus memandangnya dari seberang lautan, dari sebuah studio kecil yang pengap di sudut kota Paris.


Sungai Seine yang membelah kota bertindak seperti metafora bagi perjalanan kreatif mereka. Airnya mengalir pelan, membawa refleksi bangunan-bangunan tua yang bergerak maju dan berubah setiap detiknya. Seperti Seine, para pelukis Indonesia di Paris menyerap arus zaman—kubisme, impresionisme, ekspresionisme—namun mereka tetap mempertahankan hulu mereka sendiri. Bukannya hanyut dan tenggelam dalam arus kebaratan, tapi mereka berenang di dalamnya dengan keanggunan bak seorang peselancar yang tahu persis ke mana arah angin bertiup.


Bertahun-tahun setelah para maestro itu meletakkan kuas mereka, jejak spiritual mereka tetap tertinggal di Paris. Ketika kita berjalan menyusuri gang-gang di Montmartre atau duduk di taman-taman kota yang dipenuhi daun-daun kering yang berguguran, kita seolah-olah dapat mendengar kembali bisikan diskusi estetis mereka. Bisa membayangkan mata mereka berbinar melihat permainan cahaya di atas permukaan air. Tatkala tangan mereka gemetar menahan haru ketika sebuah karya selesai diciptakan.


Paris bagi maestro pelukis Indonesia adalah sebuah takdir estetis. Ia adalah tempat tatkala batas-batas geografis meleleh dan digantikan oleh batas-batas kreativitas yang tanpa tepi. Di sana, mereka telah menorehkan warna Indonesia pada kanvas dunia. Membuktikan bahwa keindahan dan kedalaman rasa adalah bahasa universal yang tidak membutuhkan terjemahan. 


Kota pusat mode dan kiblat senirupa dunia itu telah menginspirasi karya seni para maestro kita. Namun dengan cara yang sama, kehadiran mereka juga telah memberikan warna tersendiri pada spektrum cahaya Kota Cahaya itu—sebuah kontribusi sunyi yang abadi dalam sejarah seni rupa kita.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000