Jejak Gelisah Kiai Wahab
DETAK jantung sejarah terdengar seperti ketukan palu yang cemas pada dinding-dinding waktu. Di sebuah sudut gang di Surabaya, di sela-sela aroma pesing pelabuhan dan bau rempah gudang-gudang kolonial, di masa-masa sebelum fajar 1926, seorang pemuda bernama Wahab Chasbullah sedang duduk menatap pelita yang bergetar. Ia tidak sedang menghitung hari.
Ia sedang menghitung gelombang yang kelak akan menggulung atau menyelamatkan sebuah peradaban santri. Ada kegelisahan yang subtil dalam batinnya sepulang dari Mekah. Kecemasan profetis yang menolak membiarkan tradisi mati menjadi fosil di tengah kepungan angin badai zaman yang bergerak begitu cepat
Surabaya pada dekade kedua abad kedua puluh adalah kuali yang mendidih. Ideologi dan aliran pemikiran anyar meledak dari segala penjuru. Marxisme merayap di sela-sela bengkel kereta api. Modernisme Islam berteriak lantang dari podium kota. Kolonialisme Belanda tetap mencengkeram angkuh. Di tengah kepungan ancaman ajaran liyan itu, kaum santri di pedalaman tampak gagap. Mereka laksana kumpulan kunang-kunang di tengah badai gurun—setia pada cahaya sendiri, namun terlalu ringkih untuk menerangi malam yang mahaluas.
Kiai Wahab tak bisa tidur. Ia melihat setumpukan kitab kuning --kitab karya ulama yang dicetak kekuningan-- yang lembarannya mulai rapuh dimakan rayap di pojok pesantren. Di sebelahnya, duduk bersila para santri yang hafal ribuan bait Imriti, kitab klasik pesantren yang berisi kaidah-kaidah dasar ilmu nahwu, tata bahasa Arab, dalam bentuk bait-bait syair.
Namun lidahnya kelu berhadapan dengan retorika modernitas. Lahirlah kemudian Tashwirul Afkar (Potret Pemikiran) pada 1914. Dari Kertopaten, Surabaya, kelompok diskusi para kiai muda yang ia dirikan bersama KH Mas Mansur dan kawan-kawan ini bergemuruh merespon isu sosial, agama dan kebangsaan—juga startegi perlawanan melawan penjajah. Gerakan ini ternyata berkembang menjadi ruang pembebasan spiritual. Apalagi suasana kebatinan kiai dari Tambakberas, Jombang, itu berada di persimpangan: perpaduan antara ketakutan hilangnya warisan leluhur dan keberanian seorang arsitek yang meruntuhkan sekat keangkuhan.
Di bawah temaram lampu minyak di kawasan Ampel di Utara Surabaya, ia duduk melingkar bersama para pemuda gelisah lainnya. Di sana, fikih tak dibaca sebagai hukum yang mati. Tapi diperdebatkan dan dibenturkan dengan realitas sosial di sekitarnya. Ada ketegangan yang suci di udara: suara helaan napas yang berat, gemerisik sarung yang bergeser, dan denting cangkir kopi yang mendingin.
Kiai Wahab sedang menyuntikkan keberanian ke dalam urat nadi kaum tradisionalis—yang juga kerap disebut kaum sarungan ini. Ia meyakinkan mereka bahwa berpikir kritis tidak akan membuat iman rontok. Terbebas dari kejumudan berfikir, bahkan semakin membuat akar-akar iman menghunjam lebih dalam ke pusat bumi.
Namun pikiran yang merdeka takkan bermakna jika tak punya bumi sebagai landasan berpijak. Ketika memandang ke luar jendela madrasahnya, Kiai Wahab melihat kemiskinan yang terstruktur. Martabat bangsa yang diinjak-injak sepatu lars penjajah, dan kepasrahan yang akut di wajah petani jelata. Di sinilah teologi bertransformasi menjadi nasionalisme.
Kebatinan Kiai Wahab beralih dari dialektika pemikiran menuju sebuah kerinduan magis akan kemerdekaan melalui Nahdlatul Wathan, organisasi pendidikan dan madrasah gelombang pertama yang dia dirikan bersama Kiai Mas Mansur pada 1916. Nama itu adalah sebuah doa yang diucapkan dengan gemetar. Pada masa ketika kata "Indonesia" masih berupa bisikan berbahaya di telinga intelijen Belanda, Kiai Wahab sudah berani meneriakkan "wathan" dari atas mimbar bambu. Di ruang batinnya, mencintai tanah air adalah ekstensi syahadat.
Tanah tempat sujud ini adalah tanah suci tempat Islam harus dirawat. Setiap pagi, ketika mendengar para santri menyanyikan lagu gubahannya, Yaa Lal Wathan, hati Kiai Wahab seperti diremas. Lagu itu adalah ratapan cinta. Ada haru yang menderu ketika bait-bait itu dinyanyikan dengan suara cempreng anak-anak desa: "Pusaka hati wahai tanah airku... Jangan halangkan nasibmu..."
Di saat-saat seperti itulah, Kiai Wahab menyadari bahwa perjuangan tak bisa lagi dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Kaum santri harus dibangunkan dari tidur tasawuf yang pasif. Mereka diajari bahwa membela tanah air bisa menebalkan keimanan. Hakikatnya merupakan ikhtiar menjaga kesucian agama.
Puncak dari seluruh badai kebatinan Kiai Wahab terjadi pada pertengahan era 1920-an, ketika sebuah telegram spiritual datang membawa kabar yang meremukkan hati dari tanah suci. Dinasti Saud telah menguasai Mekah dan Madinah, membawa paham puritan yang mulai meratakan kuburan sahabat, menghancurkan situs sejarah, dan mengancam kebebasan bermazhab.
Bagi Kiai Wahab, Mekah adalah paru-paru spiritual dunia. Tempat sanad keilmuannya mengalir melalui Syaikhona Kholil Bangkalan, Syaikh Achmad Khatib al-Minangkabawi, dan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Ketika paru-paru itu hendak disumbat, dia merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Ia tak bisa diam, namun untuk bergerak, butuh restu dari samudra keilmuan Nusantara di Tebuireng.
Bayangkan perjalanan rahasia Kiai Wahab dari Surabaya ke Jombang dengan kereta uap tua yang bising atau dokar yang bergoyang di jalanan berlumpur. Di sepanjang jalan, batinnya dipenuhi untaian doa dan kecemasan: "Bagaimana jika Hadratussyaikh menolak? Bagaimana jika para kiai sepuh menganggap ini tindakan yang terburu-buru?"
Saat menghadap Kiai Hasyim Asy’ari, suasana batin di kamar santri itu berubah menjadi sakral. Dua raksasa spiritual bertemu dalam keheningan yang pekat. Kiai Hasyim yang penuh wara' menatap Kiai Wahab yang matanya menyala oleh api kegelisahan didera ancaman robohnya sebuah tradisi suci. Kiai Wahab bersimpuh. Ia memohon izin membentuk kepanitiaan darurat yang kelak dikenal sebagai Komite Hijaz pada tahun 1926. Inilah momen tatkala lokalitas Nusantara berani mendikte pusat dunia Islam. Komite yang digerakkan oleh keyakinan suci bahwa Islam tradisional di tanah Jawa memiliki tanggung jawab peradaban untuk menyelamatkan pluralisme pemikiran di tanah haram.
Ketika utusan Komite Hijaz akhirnya berangkat menembus ombak samudra, Kiai Wahab berdiri di pelabuhan dengan air mata yang meniti. Ia tahu bahwa tirai sejarah baru saja disingkap. Tashwirul Afkar adalah benih pikiran, Nahdlatul Wathan adalah tanah tempat benih itu tumbuh, dan Komite Hijaz adalah benteng yang melindunginya dari badai global. Ketiga arus kebatinan ini menyatu pada tanggal 31 Januari 1926. Setelah Kiai Wahab mendapat restu dari Rais Akbar Kiai Hasyim Asy’ari. Diperkuat isyarat spiritual simbolik berupa kiriman tongkat dan tasbih dari Kiai Kholil Bangkalan, melalui seorang santri Situbondo bernama As’ad, sebuah rumah besar bernama Nahdlatul Ulama resmi berdiri.
Mari kita renungkan kembali suasana kebatinan Kiai Wahab di masa-masa perintisan itu. Ia adalah sosok yang gelisah bukan karena urusan dirinya sendiri. Tapi karena ia mendengar rintihan masa depan yang belum lahir. Di dalam dadanya yang dilapisi sorban dan sarung kasar, tersimpan kompas peradaban yang sangat peka. Ia berhasil membuktikan bahwa tradisionalisme tidak selalu berarti ketertinggalan. Di tangan seorang Kiai Wahab, tradisi menjadi digdaya. Tradisi menjelma menjadi sebuah energi kinetik yang melompat melewati zamannya, lalu meninggalkan catatan kaki yang abadi. Bahwa di bawah rindangnya pohon pesantren, sebuah bangsa sedang dirawat keseimbangannya dengan cinta, doa dan air mata
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar