Esai

Jika Negara Kehilangan Semar

SW60Plus.com, 02 Agustus 2026, 19:23 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 225x dilihat

Pada beberapa kesempatan tampil di panggung, saya mencoba memerankan Semar. Sayapun berusaha memahami Semar yang menurut cerita wayang Jawa, Semar  adalah anak Sang Hyang Tunggal  yang menguasai jagad raya. Sebagai Dewa,  aslinya Semar berwajah  tampan dan berperawakan ideal sebagaimana ksatria.  Menurut cerita pedalangan Sang Hyang Tunggal memiliki tiga putra yaitu Sang Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya, dan Sang Hyang Manikmaya.  


Dod dog dog dog dog punika kang cinarito...Dalam perlombaan membuktikan kesaktian, Antaga berusaha menelan Gunung Mandara hingga mulutnya robek dan wajahnya berubah. Ismaya mencoba menelannya dari bawah hingga tubuhnya berubah tambun dengan perut yang besar. Karena kesombongan mereka, Sang Hyang Tunggal menegur dan menghukum keduanya. Antaga diturunkan ke dunia sebagai Togog. Ismaya diturunkan ke dunia sebagai Semar. Manikmaya diangkat menjadi Batara Guru, pemimpin para dewa. 


Ketika turun ke bumi, Semar bukan menjadi raja. Ia tidak duduk di singgasana. Ia tidak mengeluarkan titah. Walaupun sakti mandraguna, ia bukan pula panglima yang memimpin bala tentara. Ia menjadi orang biasa, yang mendapat tugas menjadi pemomong atau pengasuh para ksatria, mendampingi para raja memberikan nasihat, manakala seorang raja atau ksatrian melenceng dari kebaikan. Ia menjaga agar kekuasaan tidak kehilangan nurani. Ia mengingatkan ketika para kesatria mulai dikuasai amarah. Ia menenangkan ketika kesombongan mulai mengaburkan kejernihan berpikir. Ia mengajak kembali kepada jalan yang benar ketika ambisi mulai mengalahkan akal sehat. 


Yang menarik, Semar tidak pernah memaksa. Ia tidak menuntut agar nasihatnya selalu diikuti.  


Filosofi mengenai penasihat itu ternyata tidak hanya hidup di panggung pewayangan Nusantara.                                                                              


Para pendiri bangsa kita pun memahami bahwa sebesar apa pun kewenangan seorang Presiden, ia tetap memerlukan ruang untuk mendengar berbagai pertimbangan. Karena itulah Undang-Undang Dasar 1945 sebelum perubahan membentuk Dewan Pertimbangan Agung (DPA), sebuah lembaga negara yang bertugas memberikan jawaban atas pertanyaan Presiden serta menyampaikan usul dan pertimbangan kepada pemerintah. Setelah Reformasi, DPA memang dihapus sebagai lembaga negara melalui amandemen UUD 1945. Namun para penyusun amandemen tidak menghapus fungsi kepenasihatan kepada Presiden. Yang dihapus adalah bentuk kelembagaannya, bukan nilai yang dikandungnya.


Pasal 16 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang di amandemen, tetap diatur bahwa Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan, yang pengaturannya diatur lebih lanjut dengan undang-undang. 


Perubahan itu sesungguhnya mengandung pesan yang sangat menarik. Nama boleh berubah. Bentuk organisasi kenegaraan boleh berganti. Tetapi negara tetap mengakui bahwa seorang pemimpin memerlukan ruang untuk mendengar suara kebijaksanaan sebelum menetapkan keputusan. Kini kita mengenal adanya sejumlah Dewan Penasihat Presiden.


Karenanya, dengan kata lain, setidaknya dalam bahasa saya, negara tetap memerlukan "Semar". Mengapa ? 


Jika kita baca kembali referensi antara lain dari pemikiran Warren G. Bennis dikemukakan pentingnya penasihat. Bennis menyatakan bahwa  kepemimpinan bukanlah kemampuan mengetahui segala sesuatu. Kepemimpinan adalah kemampuan membangun lingkungan di mana orang-orang terbaik berani menyampaikan pandangan mereka secara jujur. 


Bagi mahasiswa manajemen atau peserta pendidikan kepemimpinan dikenalkan dengan  Learning Organization dari Peter Senge. Melalui bukunya yang sangat berpengaruh, The Fifth Discipline (1990), Senge mendefinisikan learning organization sebagai:


"Organizations where people continually expand their capacity to create the results they truly desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning how to learn together."


Dalam learning organization misalnya dikemukakan bahwa pemimpin yang besar adalah pemimpin yang selalu bersedia belajar bersama dengan seluruh unsur manajemen, dan menjadikannya organisasinya menjadi pembelajar.


Karena itu, pemimpin yang matang tidak takut kepada perbedaan pendapat. Ia justru menyadari bahwa keputusan yang baik lahir dari keberanian mendengar berbagai sudut pandang sebelum menentukan pilihan. Konsep kebijakannya selalu dibicarakan, strategi pencapaian tujuannya pun dirumuskan bersama, setidaknya oleh tim pakar dan staf yang bertanggung jawab.


Dalam pewayangan jawa, para pujangga membuat cerita atau lakon Semar Mbangun Kahyangan. Semar meninggalkan para Pandawa karena mengetahui raja dan satria yang diasuh dan didampinginya, sedang kehilangan kompas kebaikan. Mereka menganggap dirinya tak diperlukan. Maka ketika itu Semar menyingkir. Suasana di kerajaanpun gonjang ganjing. Terjadi mistrust, maaf ini bukan bahasa wayang ya. Terjadi saling tidak percaya. Bahasa wayang menyebutnya sebagai pageblug karena tidakadilan dan tidakjelasan kebijaksanaan bersimaharajalela.    


Barangkali di situlah para leluhur Nusantara melalui kearifan cerita wayang menyampaikan  pesan yang begitu dalam. Ketika rapat dan musyawarah berubah menjadi formalitas. Ketika kritik yang tulus dianggap sebagai gangguan, ketika semua orang berlomba mengatakan "setuju", saat itulah kebijaksanaan perlahan meninggalkan ruang pengambilan keputusan.


Jika terjadi yang sedemikian, saya ingin mengatakan bahwa dalam keadaan seperti itulah sesungguhnya sebuah negara mulai kehilangan Semar. karena nilai-nilai yang diperjuangkannya tidak lagi dilaksanakan dengan kebersamaan dan  kebijaksanaan, dan nasehatpun   tak lagi didengar dan dianggap tidak diperlukan.    


Semoga ini tidak terjadi di negeri kita, sehingga pageblug dan gara gara tidak menimpa.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000