Feature

Kala Sang Surya Benar-benar Tenggelam

SW60Plus.com, 28 September 2026, 07:40 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 17x dilihat

BUMI pertiwi mendadak hening dari melodi yang paling anggun. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, putra bungsu sang proklamator Bung Karno dan Ibu Fatmawati, telah menghembuskan nafas terakhirnya menjelang subuh, Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun, di Rumah Sakit MRCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.


Kepergian maestro seni, budayawan, sekaligus politikus legendaris ini bukan sekadar hilangnya sebaris nama dalam catatan silsilah negeri. Melainkan redupnya satu lentera kebudayaan yang selama puluhan tahun menenun jiwanya yang merdeka dalam bait-bait gerak dan nada.


Ada kepedihan yang teramat puitis sekaligus khusyuk dalam prosesi keberangkatannya menuju keabadian. Tubuh sang maestro dibalut kain kafan yang dilapisi kain ihram dari ibadah umrah terakhirnya, dan di atasnya terbujur dua kain batik peninggalan ibundanya, Ibu Fatmawati. 


Kain-kain itu menjadi sebuah perlambang pelukan terakhir dari rahim sejarah yang melahirkannya. Mengiringi langkahnya untuk beristirahat selamanya di samping makam sang ibu di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. Di sanalah, lingkaran takdir sang anak bungsu yang lahir di Istana Merdeka itu akhirnya genap menjumpai keheningan yang hakiki.


Guruh memikul beban sejarah yang mahabesar sejak tangisan pertamanya menggema. Ia justeru membelokkan arah takdirnya menuju altar kesenian ketika dunia mengira ia akan berdiri di podium politik membakar massa dengan kepalan tangan layaknya sang ayah. Tersebab baginya mencintai Indonesia tidak selalu harus lewat manifesto politik, melainkan lewat kelembutan budaya. 


Sejak usia belia darah seninya menyala-nyala. Jemari dan langkah kakinya telah akrab dengan legong Bali, gemulai tari Sunda, serta ketukan tuts piano klasik. Dari ketekunan spiritual itulah lahir proyek eksperimental yang revolusioner, Guruh Gipsy, bersama Chrisye pada 1977. Karya ini mengawinkan progresif-rock barat dengan magisnya gamelan Bali. Tak berlebihan jika karya ini diyakini sebagai sebuah prasasti modernitas tradisi yang tak tertandingi.


Langkah kreatifnya tidak berhenti di sana. Hasratnya berkesenian itu lalu melahirkan panggung kolosal lewat kelompok Swara Mahardhika dan GSP Production. Laku budaya yang ia mainkan ini membuktikan kepada dunia bahwa tradisi Indonesia bisa menari dengan sangat moderen dan anggun di bawah lampu sorot zaman. 


Lagu-lagunya bernyawa abadi. Coba simak lagu-lagu karyanya seperti Kala Sang Surya Tenggelam, Kala Cinta Menggoda dan Renjana. Lagu Renjana ini pertama kali memenangkan Festival Lagu Populer Indonesia pada tahun 1976, saat itu dibawakan oleh Grace Simon, namun akhirnya melekat kuat lewat vokal khas Chrisye. 


Lewat lagu Renjana ini, Guruh dan Chrisye berhasil mengubah arti "renjana" yang tadinya sekadar hasrat emosional, menjadi sebuah simbol resiliensi (ketangguhan) dan secercah cahaya setelah melewati kegelapan malam. Karya-karyanya itu menjadi bukti kepekaan rasanya yang menyaring kegelisahan budaya menjadi harmoni universal. 


Guruh juga mengabdi selama tiga dekade sebagai legislator di Dewan Perwakilan Rakyat bersama PDI Perjuangan. Tapi publik akan selalu mengenangnya sebagai seorang estetikus—seorang Marhaenis sejati yang berjuang menyelamatkan kepribadian bangsa melalui kebudayaan.


Kini, panggung megah itu telah gelap gulita. Tepuk tangan riuh berganti menjadi doa-doa yang merayap syahdu di langit subuh. Penghormatan tertinggi pun diberikan oleh PDI Perjuangan yang mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari sebagai tanda duka mendalam atas berpulangnya sang pejuang budaya. 


Guruh telah menyelesaikan simfoninya. Ia mengembalikan, juga membalikkan, semua beban sejarah menjadi warisan keindahan yang takkan lekang oleh kemarau waktu.
Selamat jalan, Mas Guruh, di bawah langit pertiwi yang kau puja, karyamu akan tetap abadi, bernyanyi bersama angin, dan menolak untuk dilupakan.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000