Feature

Kontemplasi Codex Mashhad, Perkamen Mushaf Al Qur`an Abad Pertama Hijriah

SW60Plus.com, 03 November 2026, 09:12 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 2x dilihat

DI bawah langit Jakarta yang kerap berkejaran dengan deru mesin dan kepungan beton, sebuah ruang hening tercipta di jantung kota. Ratusan pasang mata-para akademisi, filolog, penelaah aksara, dan pencinta teks suci-berkumpul di ballroom sebuah hotel untuk melangkah mundur, melintasi jembatan waktu sepanjang empat belas abad silam. 


Mereka berkumpul dalam Seminar Internasional bertajuk Ancient Qur`anic Manuscripts in the History of the Qur``an: Learning from the Mashhad Razavi Manuscript. Forum ini menjadi sebuah oase intelektual sekaligus spiritual yang digelar Sabtu, 24 Oktober 2026 lalu. Di sinilah, lembar demi lembar faksimile Codex Mashhad-sebuah warisan agung beraksara Hijazi purba dari abad pertama Hijriah-dihamparkan untuk didekati dengan takzim, dibaca dengan ketelitian sains, dan diresapi dengan keheningan jiwa.


Ada kontras yang magis ketika Morteza Karimi-Nia, sang doktor studi Qur`an dan Hadis dari Universitas Teheran kelahiran Qum, penelaah kodikologi yang mengabdikan bertahun-tahun usianya demi menyusun kepingan teka-teki naskah ini, mulai menjabarkan rahasia di balik garis-garis tinta kuno tersebut. Di dalam ruangan seminar, waktu seolah melambat, memadat, lalu mencair menjadi keharuan sejarah. 


Tulisan berikut adalah sebuah catatan perjalanan batin menelusuri untaian tinta suci yang melintasi benua, menjembatani kota Mashhad atau bisa juga disebut Masyhad dan Jakarta dalam satu frekuensi keimanan dan ilmu pengetahuan. Intinya mempertanyakan: bagaimana mungkin sesuatu yang lahir dari kesunyian gurun abad pertama Hijriah, kini bergema di tengah riuh rendah megapolitan abad kedua puluh satu? Aksara Hijazi kuno yang meliuk tegak pada lembaran perkamen Codex Mashhad ini seolah-olah membawa aroma pasir purba dan ketulusan para juru tulis awal Islam. 


Karakter tulisannya miring, memanjang, tanpa titik-titik diakritik yang biasa memandu lidah moderen kita. Ia adalah tulisan dalam bentuknya yang paling murni, paling bersahaja, namun memancarkan otoritas spiritual yang menggetarkan. Ketika proyeksi lembaran Codex Mashhad ditampilkan di layar besar aula seminar, seisi ruangan terkesiap. Ada keindahan yang ganjil pada rupa tulisan yang tidak simetris secara mekanis, melainkan organik. Setiap coretan adalah jejak nafas manusia yang menyalin firman Tuhan dengan jemari yang gemetar oleh takzim. 


Di Jakarta, kota yang segalanya dicetak dengan presisi mesin dan algoritma instan, melihat goresan tangan dari masa lampau adalah sebuah teguran halus. Ia mengingatkan kita bahwa kebenaran dan keotentikan tidak dibangun dalam satu malam, melainkan dijaga lewat ketekunan yang melintasi generasi.


Filologi dan kodikologi di sini berubah wujud. Ia bukan lagi sekadar ilmu kering tentang perbandingan rasm, variasi qiraat, atau analisis perkamen dari serat kulit kambing. Di ruang seminar ini, keilmuan itu bertransformasi menjadi ibadah intelektual. Setiap huruf yang diteliti adalah saksi bisu bahwa Al-Qur`an tidak sekadar turun sebagai suara yang melintasi udara, tetapi juga menjelma sebagai teks yang dirawat oleh komitmen sejarah manusia yang luar biasa.
Melihat 252 lembar salinan perkamen Codex Mashhad yang memuat 95 persen teks suci Al Qur`an purba itu, kita seperti diajak berdialog dengan para sahabat dan tabi`in.

Tulisan di atas kulit hewan tersebut telah bertahan melewati runtuhnya dinasti-dinasti besar, melampaui peperangan, kebakaran, dan pergeseran zaman, hingga akhirnya tersimpan aman di Perpustakaan Astan-e Quds Razavi (karena itu disebut juga manuskrip Mashhad Rasavi) di Masyhad, Iran. Dan kini, melalui dedikasi penelitian ilmiah, salinan faksimile mutakhirnya hadir di Jakarta.


Bagi seorang penelaah yang duduk di ruang seminar, memandang halaman kanan faksimile yang berisi foto asli manuskrip, dan halaman kiri yang memuat tahkik teks, adalah sebuah pengalaman transendental. Ini adalah jembatan hermeneutika. Kita melihat variasi rasm (ortografi) kuno yang menyingkap bagaimana aksara Arab bertumbuh dan mendewasa. Kita menyaksikan coretan-coretan kecil di pinggir halaman, koreksi dari pembaca abad kedua atau ketiga yang mendapati kata yang kurang, atau tanda pemisah surah yang ditambahkan kemudian.


Secara kontemplatif, lembaran-lembaran ini adalah cermin bagi jiwa kita sendiri. Manuskrip kuno itu memiliki cacat fisiknya sendiri—robekan waktu, noda kelembapan, pudarnya tinta. Namun, esensi di dalamnya tetap utuh, tak tersentuh oleh kerusakan materi. Bukankah manusia juga seperti perkamen itu? Fisik kita menua, berkerut dihantam waktu, terluka oleh pengalaman hidup, namun jika di dalam dada kita tersimpan firman yang suci, niscaya keindahan sejati kita tidak akan pernah pudar oleh zaman.


Kehadiran lebih dari 160 profesor dan doktor dari puluhan perguruan tinggi Islam di Indonesia dalam seminar ini seolah menegaskan bahwa pencarian kebenaran akademis tidak mengenal batas geografis maupun mazhab. Di bawah atap yang sama, para pemikir berkumpul untuk membedah materialitas teks. Ada getaran persaudaraan yang sunyi namun kuat ketika para ulama dan akademisi Indonesia berdiskusi dengan Dr. Morteza Karimi-Nia, 46 tahun, yang telah menulis, menerjemahkan, atau menyunting lebih dari 20 buku serta menerbitkan sekitar 60 artikel dan bab buku dalam bahasa Persia, Arab, Inggris, dan Jerman, di samping berbagai karya ilmiah berbahasa Persia mengenai Al-Qur`an dan manuskripnya.
Dalam keheningan kontemplasi, seminar ini meluruhkan sekat-sekat prasangka. Al-Qur`an awal yang tertulis dalam Codex Mashhad adalah milik bersama umat manusia. Ia melampaui sekat-sekat teologis kontemporer dan mengembalikan kita pada satu titik berangkat yang sama, yakni masa awal ketika wahyu ilahi baru saja selesai diturunkan dan umat Islam berikhtiar mengabadikannya dalam lembaran-lembaran tertulis.


Saat lagu atau tilawah Al-Qur`an dikumandangkan di sela-sela acara, suara indahnya berpadu dengan keindahan visual aksara Hijazi di layar. Telinga mendengar teks yang sama dengan apa yang ditangkap oleh mata lewat tulisan berusia 1.300 tahun lebih itu. Ini adalah bukti nyata dari konsep mutawatir—bahwa apa yang kita baca hari ini di Jakarta, sama persis dengan apa yang dibaca dan ditulis oleh generasi terbaik di jazirah Arab berabad-abad lalu. Antara tradisi lisan (hafalan) dan tradisi tulisan (mushaf), keduanya saling mengunci, menjaga firman agar tidak bergeser barang satu huruf pun.


Ketika seminar berakhir, sembari menyaksikan beberapa manuskrip mushaf koleksi Bayt al-Qur`an & Museum Istiqlal serta Yayasan Pustakaloka Manuskripedia Nusantara, para peserta melangkah keluar kembali menuju jalanan Jakarta yang bising. Namun, ada sesuatu yang telah berubah di dalam dada mereka. Ada ketenangan baru yang dibawa pulang. Codex Mashhad telah mengajarkan bahwa sejarah bukanlah masa lalu yang mati dan berdebu di dalam lemari perpustakaan kuno. Sejarah adalah arus sungai yang airnya kita minum hari ini.


Menatap salinan Codex Mashhad yang kini resmi dihadiahkan ke bumi Nusantara sebagai bagian dari dokumen akademik, kita menyadari bahwa Jakarta tidak lagi sekadar kota pusat ekonomi atau politik. Kota ini telah menjadi salah satu ruang sakral tatkala warisan peradaban dunia dihormati, dikaji, dan dirawat dengan cinta keilmuan yang mendalam.


Tinta Codex Mashhad mungkin telah mengering berabad-abad yang lalu di atas kulit perkamen di Timur Tengah. Namun, di Jakarta, di ruang-ruang kelas universitas dan di relung hati para pengkajinya, tinta itu kembali basah. Ia kembali mengalir menjadi inspirasi, melahirkan kesadaran bahwa menjaga Al-Qur`an adalah kerja peradaban yang tiada henti. Pengabdian manusia tanpa batas waktu kepada Sang Pemilik Kalam.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000