Kebenaran Itu Keberanian untuk Dibenci
INGAT mereka yang mengatakan kebenaran, akan selalu dibenci oleh mereka yang diuntungkan oleh kebohongan.
Kalimat ini narasinya seperti pernah saya jumpai, baik berupa omongan langsung atau yang bersliweran di medsos.
Kali ini diucapkan teman saya yang sedang berada di Bangkok, Thailand, sampai 23 Agustus besok, dalam rangka acara kedinasan.
Pada beberapa foto yang memosisikan dirinya sebagai salah satu pembicara, di bawahnya ditulisi "quote" tersebut. Dan di bawah kalimat pengingat itu, diberi catatan kaki : Self reminder noted from Centara Grand Plaza, Bangkok, 19.08.2026.
Dalam konteks kalimat indah tersebut, di (sebagian) masyarakat kebenaran sering bikin "nggak nyaman".
Orang yang berani ngomong jujur biasanya dianggap "berisik", "sok tahu", atau "ngerusak suasana".
Kenapa? Karena kebohongan kecil yang diulang-ulang pada akhirnya akan cenderung jadi "norma". Pas ada yang meluruskan --orang yang sudah nyaman dengan kebohongan itu-- merasa terusik.
Jadi, jangan kaget kalau jujur malah bikin dijauhi. tu bukan berarti Anda salah. Itu tandanya Anda membongkar zona nyaman orang lain.
Manakala dihubungkan dengan aspek politik dan kekuasaan, kalimat bijak itu paling terasa.
Kebohongan sering dipakai buat menjaga citra, jaga kursi, jaga proyek, jaga kepentingan.
Nah, orang yang bongkar data, kritik kebijakan, atau bilang "ini faktanya" akan langsung dicap : provokator, pembenci, pengkhianat.
Karena kalau kebenaran kebuka, yang diuntungkan dari kebohongan bisa kehilangan kuasa, uang, dan pengaruh.
Aspek ini mengirim pesan : sejarah selalu mengindikasikan bahwa pembawa kebenaran pertama kali pasti diserang. Tapi tanpa mereka, perubahan tidak akan jalan.
Ditinjau dari aspek psikologis ini soal cognitive dissonance dan ego defense.
Ketika orang sudah nyaman dengan versi cerita yang menguntungkan dia, terus datang fakta yang bertentangan, otaknya nolak. Sakit.
Biar tidak sakit, yang diserang bukan faktanya, tapi orang yang menyampaikan fakta.
Artinya, lebih gampang benci pembawanya daripada ngaku "oh aku salah".
Jadi, benci itu kadang bukan karena pesannya salah. Tapi karena pesannya terlalu benar sampai bikin orang sadar.
Adapun aspek filsafat mengirim tanda-tanda bahwa kalimat ini disebut
klasik banget. Dari Socrates sampai Galileo, polanya sama.
Filsafat nyebut ini: harga dari kejujuran.
Kebenaran itu tidak selalu indah dan gak selalu disukai. Tapi kebenaran tetap kebenaran, walau sendirian. Kesepian.
Kalimat ini ngingetin soal integritas: mau tetap berdiri pada kebenaran walau gak populer, atau milih diem biar aman dan disukai?
Jadi, keberanian itu bukan pas tidak takut. Tapi pas tetap ngomong benar walau tahu bakal dibenci.
Sedangkan dalam dunia jurnalistik,
ini sama dan sebangun dengan hukum alam.
Fungsi jurnalis kan "menyampaikan fakta". Tapi fakta sering bertabrakan dengan kepentingan: penguasa, pemilik modal, korporasi, bahkan pembaca yang maunya denger yang enak-enak aja.
Makanya wartawan investigasi, whistleblower, dan media kritis sering ditekan, digugat, didiskreditkan.
Tapi justru di situlah nilai jurnalisme: tetap melaporkan kebenaran walau gak disukai semua orang.
Ingat -- berita yang paling penting biasanya adalah berita yang paling banyak dibenci oleh pihak tertentu.
Jadi kesimpulan alinea pertama dari esai ini adalah :
Kebenaran itu mahal, karena harganya adalah keberanian untuk dibenci.(*).
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar