Esai

Kebenaran Selalu Muncul ke Permukaan

SW60Plus.com, 10 Agustus 2026, 07:51 WIB
Amang Mawardi
Amang Mawardi
· 32x dilihat

DULU. Dulu sekali, saya sering menyebut kata mutiara. Sekarang populer disebut : quote.  Di beranda Facebook seorang sahabat yang dua anaknya dokter,  saya baca quotes, yang ditulisnya di  beranda Facebook-nya pada 18 Mei 2025. 
"Sedalam apapun kebenaran ditenggelamkan, dia akan menemukan jalan untuk muncul ke permukaan." Kalimat ini mirip hukum fisika.
Kalau kita telaah, mungkin begini : kebenaran itu ibarat gabus. Mau ditindih pakai batu, lemari, sampai kulkas dua pintu plus ember penuh cat, begitu dilepas dia nongol  sambil teriak: "iki lho aku". 
Pasalnya, kebenaran itu sifat dasarnya  memang  lebih ringan dari kebohongan. 
Kebohongan itu berat banget, guys. Untuk memanipulasi harus diseret pakai gerobak isinya 1.000 alibi, 3 saksi bayaran, dan satu grup WhatsApp buzzer -- begitu kira-kira kalau diibaratkan. 
Dia juga bukan model mie instan yang tinggal seduh tiga menit : jadi. Manakala diupamakan jagad kuliner, kebenaran itu : seblak ceker. Prosesnya lama, berliku, pedes, bikin keringetan, tapi ujungnya nagih. 
Dia pinter nyari celah. Lewat bukti kecil, lewat waktu yang gak bisa disuap, lewat orang-orang yang gak rela lidahnya diikat.
Makanya ini kalimat penyelamat buat yang lagi sesak napas baca berita. 
Lagi rame hoaks setinggi tsunami? Tenang, guys. Air pasti surut juga. Yang bening pasti kelihatan. Yang keruh ya balik jadi lumpur lagi, numpuk di dasar sambil nunggu disedot.
Kalau dibayangkan malah lucu, guys. Kayak batu putih bersih dilempar ke kolam keruh. Awalnya lenyap, hilang jejak. Tapi dari bawah keluar gelembung... blukuthuk... blukuthuk ... lama-lama batunya terlihat lagi.  
Pada akhirnya yang keruh ada di  bawah, yang  bening di lapisan atas, batu putih pun tampak berkilau ketembus imbas sinar matahari. 

Dalam agama, kebenaran itu : Cahaya dari Tuhan. Mau ditutup fitnah atau kekuasaan, tetap akan naik.  
Islam menyebutnya : Al-Haq. 
Kristen mengistilahkan :  Terang Dunia. 
Oleh Buddha-Hindu  disebut: Dharma. 
"Ditenggelamkan" itu ujian dan penyucian. Kayak cerita  Yusuf dibuang di dasar sumur, atau benih di tanah. Gelap dulu, baru ada yang mengentas. Gelap dulu, lantas tumbuh tunas.  
Intinya: tugas kita jaga niat, Tuhan yang akan mengangkat.
Jika ditinjau dari aspek spiritual simpel banget, guys. Kebenaran itu kilau. Mau ditutupi pakai gorden, selimut, kardus, sampai tirai panggung -- kinclongnya tetap menyelinap dari sela-sela. 
Ditenggelamkan itu bukan akhir. Itu ibarat proses oseng-oseng. Kalau sudah mateng, pastinya maknyus, haujek. 
Emas dibakar dulu, baru kinclong.  Benih dikubur dulu, baru tumbuh jadi pohon. 
Jadi, PR kita cuma satu: jangan jadi tim yang ikut nyemplungin orang  yang menggenggam erat kebenaran. 
Secara filsafat juga nyambung. Camus bilang: kita harus tetap dorong batu ke atas walau absurd, karena di situlah martabat kita, sebagaimana dimetaforakan kisah Sisiphus. 
Foucault bilang: kuasa bisa menyembunyikan kebenaran, tapi perlawanan selalu menemukann jalan lewat bisik-bisik, tulisan kecil. Dan grup chat yang bocor keluar, begitu kalau diproyeksikan ke era sekarang. 
Intinya cuma tiga.
Pertama, kebenaran itu ada dan tidak butuh izin buat ada. 
Kedua, akal manusia pada akhirnya bakal nangkap juga, telat boleh tapi pasti kepegang. 
Ketiga, kita punya PR moral buat tidak ikut menenggelamkan. 
Apa yang ditulis oleh sahabat saya di atas tak bisa kita ingkari, akan senantiasa mengusik hati nurani.

Jadi, realitas itu bandel.  Tidak bisa dipalsukan selamanya. Mau ditenggelamkan seribu kali, tetap punya napas buat naik ke permukaan. Dan begitu naik, dia biasanya membawa oleh-oleh: hikmah.*

Tags: Kebenaran
Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000