Kemeja Bertambal
BAYANGKAN Anda memasuki sebuah kantor kementerian pada tahun 1948.
Negara masih sangat muda. Asap revolusi belum benar-benar hilang. Republik Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaannya di tengah perang, keterbatasan, dan ketidakpastian.
Di salah satu ruangan itu duduk seorang menteri.
Apa yang Anda bayangkan?
Barangkali seorang pejabat dengan setelan jas yang rapi. Sepatu mengilap. Pena mahal terselip di saku. Meja kerja yang tertata. Wajah yang memancarkan wibawa kekuasaan.
Bukankah begitulah gambaran seorang menteri?
Namun, semua bayangan itu runtuh begitu mata tertuju pada satu hal.
Kemejanya.
Bukan jas.
Bukan dasi.
Bukan tanda pangkat.
Melainkan sebuah kemeja putih yang penuh tambalan.
Di bahu.
Di lengan.
Di bagian depan.
Bekas-bekas jahitan tampak jelas, seolah kain itu telah diselamatkan berkali-kali agar tetap dapat dikenakan.
Sulit dipercaya, pemilik kemeja itu adalah Mohammad Natsir, Menteri Penerangan Republik Indonesia. Ia bukan pejabat biasa. Natsir pernah menjabat Menteri Penerangan dalam Kabinet Sjahrir II dan III, kemudian kembali dipercaya untuk menduduki jabatan yang sama dalam Kabinet Hatta. Beberapa tahun kemudian, ia memimpin pemerintahan sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia pada 1950–1951. Namun, jabatan-jabatan tinggi itu sama sekali tidak tercermin dari apa yang dikenakannya.
Pemandangan itulah yang pertama kali dilihat oleh sejarawan Amerika George McT. Kahin ketika bertemu Natsir di Yogyakarta pada 1948. Dari sekian banyak tokoh republik yang ia kenal, justru bukan pidato, jabatan, atau kecerdasan Natsir yang pertama kali ia ingat. Yang membekas dalam ingatannya adalah sebuah kemeja bertambal. Lebih mengharukan lagi, Kahin kemudian mengetahui bahwa itu adalah satu-satunya kemeja yang dimiliki Mohammad Natsir. Karena merasa tidak tega, para pegawai Kementerian Penerangan diam-diam mengumpulkan uang untuk membelikan menteri mereka kemeja baru.
Ketika pertama kali membaca kisah itu, saya bertanya dalam hati, benarkah kesederhanaan itu sedemikian nyata?
Jawabannya saya temukan hampir 40 tahun kemudian.
Sekitar tahun 1986, saya berkesempatan mengunjungi rumah Mohammad Natsir di kawasan Menteng, Jakarta. Saya membayangkan rumah seorang mantan Perdana Menteri Republik Indonesia. Setidaknya sebuah rumah yang mencerminkan kebesaran seorang negarawan.
Sekali lagi, bayangan saya keliru.
Pak Natsir sendiri yang membukakan pintu. Ketika Pak Natsir membuka pintu rumahnya, terdengar bunyi dreeeettt... yang panjang. Pintu itu tampak berat digeser. Engselnya sudah aus, catnya mengelupas, dan kayunya memperlihatkan jejak usia. Sulit membayangkan bahwa di balik pintu sederhana itulah tinggal seorang mantan Perdana Menteri Republik Indonesia.
Di sampingnya berdiri Ibu Natsir yang menyambut dengan senyum hangat. Tidak ada ajudan. Tidak ada protokol. Tidak ada kesan bahwa saya sedang bertamu ke rumah seorang tokoh besar bangsa.
Yang justru membekas dalam ingatan saya adalah pintu rumahnya.
Catnya telah mengelupas.
Rumah itu begitu sederhana.
Saat itu saya seperti melihat kembali kisah George Kahin tentang kemeja bertambal. Empat puluh tahun telah berlalu. Jabatan Menteri telah lama ditinggalkan. Kursi Perdana Menteri pun sudah menjadi bagian dari sejarah. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, dari mana karakter seperti itu lahir?
Jawabannya ternyata dapat ditelusuri jauh sebelum Mohammad Natsir memasuki dunia politik.
Ketika belajar di Algemene Middelbare School (AMS) Bandung, Natsir memiliki seorang kepala sekolah berkebangsaan Belanda bernama Van Bessem. Di tengah suasana kolonial yang penuh pembatasan, Van Bessem justru mengajarkan murid-muridnya untuk berpikir merdeka. Ia meminjamkan buku-buku politik, membuka ruang diskusi tentang masa depan Indonesia, bahkan mengizinkan para murid berdiskusi ketika pemerintah kolonial melarang pertemuan politik. Suatu hari ia berkata kepada mereka, "Suatu saat nanti kalian harus merdeka." Kalimat sederhana itu membekas dalam diri Natsir. Dari seorang guru Belanda, ia belajar bahwa nasionalisme bukanlah kebencian terhadap bangsa lain, melainkan penghormatan terhadap kebebasan dan martabat manusia.
Nilai-nilai itu kemudian diuji ketika Natsir memperoleh kesempatan yang diimpikan oleh banyak pemuda bumiputra. Sebagai siswa yang cemerlang, ia berpeluang melanjutkan studi ke sekolah hukum di Batavia, bahkan ke Rotterdam School of Economics. Jalan menuju kehidupan mapan dan karier elit terbuka lebar.
Namun, Natsir memilih jalan yang berbeda.
Ia menolak kesempatan bergengsi itu. Ia memilih menjadi guru dan mendirikan lembaga Pendidikan Islam. Baginya, membangun manusia melalui pendidikan jauh lebih penting daripada membangun karier bagi dirinya sendiri.
Seorang menteri hanya memiliki satu kemeja bertambal. Dari kisah sederhana itulah George McT. Kahin mulai memahami kebesaran Mohammad Natsir yang sesungguhnya.
Pilihan-pilihan hidup itulah yang menjelaskan mengapa kesederhanaan Natsir tidak pernah berubah. Dalam psikologi kepemimpinan modern, Bill George (2003) menyebut karakter seperti ini sebagai Authentic Leadership, yaitu kepemimpinan yang lahir dari keselarasan antara nilai yang diyakini dan perilaku yang dijalankan. Pemimpin autentik tidak bergantung pada simbol-simbol kekuasaan untuk memperoleh kepercayaan. Justru konsistensi antara keyakinan dan tindakan yang melahirkan legitimasi moral.
Penjelasan tersebut diperkuat oleh konsep moral identity yang dikemukakan oleh Aquino dan Reed (2002). Ketika nilai moral telah menyatu dengan identitas seseorang, perilakunya akan tetap konsisten meskipun jabatan, lingkungan, dan kekuasaan berubah. Orang seperti ini tidak hidup sederhana karena ingin dipuji. Ia hidup sederhana karena memang itulah dirinya.
Barangkali, itulah yang saya lihat pada Mohammad Natsir.
George McT. Kahin melihatnya melalui sebuah kemeja bertambal.
Saya melihatnya melalui sebuah pintu rumah yang catnya mengelupas.
Dua peristiwa yang terpisah hampir empat puluh tahun itu ternyata menyampaikan pesan yang sama. Karakter tidak dibentuk oleh kekuasaan; kekuasaan hanya memperlihatkan karakter yang sesungguhnya. Jim Collins (2001) menyebut perpaduan antara kerendahan hati dan tekad untuk mengabdi pada tujuan yang lebih besar sebagai ciri Level 5 Leadership. Mohammad Natsir tampaknya mewakili karakter tersebut. Ia tidak pernah mengejar kebesaran. Ia hanya setia pada nilai-nilai yang diyakininya. Justru karena kesetiaan itulah, sejarah kemudian membesarkan namanya.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar