Esai

Kendali

SW60Plus.com, 22 Agustus 2026, 07:37 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 38x dilihat

LAURA adalah salah satu tokoh yang diceritakan Martin Lanik dalam bukunya, The Leader Habit: Master the Skills You Need to Lead—in Just Minutes a Day. Kisahnya menarik justru karena Laura bukan pemimpin buruk yang merasa dirinya buruk; ia adalah perawat hebat yang merasa sudah sangat pantas menjadi pemimpin.


Laura tahu apa yang harus dilakukan ketika keadaan kacau. Enam tahun bekerja sebagai perawat UGD telah melatihnya mengambil keputusan di tengah bunyi monitor, pasien berdatangan, dan keluarga yang panik.
Ia cerdas, cekatan, dan termasuk perawat terbaik di unitnya. Jadi ketika posisi manajer terbuka, Laura tahu siapa kandidat paling masuk akal: dirinya sendiri.


Masalahnya, rumah sakit mempunyai pendapat lain. Promosi datang dan pergi, sementara Laura terus dilewati sampai ia frustrasi dan berpikir meninggalkan keperawatan untuk menjadi agen real estat.
Dalam pikirannya, manajemen gagal melihat kemampuannya. Di mata rekan-rekannya, justru Laura yang gagal melihat dirinya sendiri.


Mereka melihat seseorang yang argumentatif, sarkastik, emosional, dan sulit menerima pendapat. Bahkan, Laura dianggap seperti “diktator militer”—jenis pemimpin yang ironisnya paling ia benci.
Di situlah paradoks kendali dimulai. Kita sering berubah menjadi orang yang paling tidak ingin kita menjadi, justru ketika berusaha keras membuktikan siapa diri kita.
Laura tentu tidak berangkat kerja sambil menyusun daftar siapa yang akan ia bentak hari itu. Bertahun-tahun bekerja dalam tekanan membuat reaksinya otomatis: keadaan kacau, ambil alih; orang berbeda pendapat, lawan; pekerjaan lambat, tekan lebih keras.
Yang bagi Laura terasa sebagai ketegasan, bagi orang lain terasa sebagai ancaman. Yang ia anggap kepemimpinan, timnya membaca sebagai kontrol.


Masalahnya, otak menyukai jalan pintas. Perilaku yang terus diulang akhirnya tidak membutuhkan rapat direksi di kepala; ia berjalan sendiri.


Lanik (2018) menjelaskan bahwa keterampilan kepemimpinan dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilatih berulang. Kita tidak selalu membutuhkan transformasi kepribadian besar; kadang beberapa menit latihan sehari sudah memberi pola baru untuk dipraktikkan.


Kabar baik bagi kita yang membeli buku kepemimpinan 400 halaman tetapi baru membaca kata pengantarnya.
Laura kemudian mengikuti program pelatihan Lanik. Ia tidak diminta menjadi “Laura 2.0”, mengikuti retret tujuh hari, atau menghafalkan 27 prinsip kepemimpinan sambil menatap matahari terbit.


Tugasnya jauh lebih sederhana: setiap kali ingin bertanya, mulailah dengan “apa” atau “bagaimana”. Karena UGD bukan tempat ideal untuk mengingat teori manajemen, Laura menulis di punggung tangannya: Ask what/how questions.


Tulisan kecil itu menjadi rem bagi kebiasaan lamanya. Sebelum berkata, “Kenapa kamu melakukan itu?”, ia belajar bertanya, “Apa yang terjadi?” atau “Bagaimana kita menyelesaikannya?”

Kita ingin mengendalikan orang lain, justru ketika kehilangan kendali atas diri sendiri.

Perbedaannya hanya beberapa kata, tetapi efeknya besar. Bahasa menentukan apakah orang di depan kita merasa sedang diinterogasi atau diajak berpikir.


Dalam buku yang sama, Lanik juga menceritakan John, manajer sukses yang ingin naik ke jajaran eksekutif tetapi terlalu otoriter. Latihannya sederhana: setiap kali seseorang mengeluh atau berbeda pendapat, ia harus bertanya, “Apa yang membuat Anda khawatir tentang hal ini?”


Suatu hari John harus menghadapi direktur berkinerja buruk. Alih-alih memarahinya, ia memaparkan masalah lalu bertanya; sang direktur akhirnya mengakui hambatan dan ikut merumuskan solusi.


John menemukan sesuatu yang sering terlambat dipahami pemimpin: terkadang cara tercepat membuat orang berubah adalah berhenti terlalu sibuk mengubah mereka.


Laura menemukan hal yang sama. Dalam sekitar dua bulan, ia lebih banyak bertanya, lebih sedikit menyerang, dan rekan-rekannya tidak lagi merasa harus memasang tameng setiap kali berbicara dengannya.
Kebiasaan itu bahkan ikut pulang. Saat berkumpul bersama dua saudara perempuannya menjelang Natal—acara yang biasanya berubah menjadi perdebatan hadiah dengan ketegangan mendekati sidang Dewan Keamanan PBB—Laura tidak memaksakan pendapat, melainkan bertanya bagaimana mereka ingin mengaturnya.


Percakapan berubah karena Laura berubah. Kebiasaan kecil yang semula dimaksudkan untuk menyelamatkan karier ternyata ikut memperbaiki hubungan.


Laura akhirnya kembali mencintai profesinya dan memperoleh promosi manajerial yang selama ini ia inginkan. Ironinya indah: ketika Laura berhenti berusaha terlihat seperti pemimpin, orang lain mulai melihatnya sebagai pemimpin.


Mungkin di situlah solusi yang sering kita lewatkan. Kita ingin menjadi lebih sabar, empatik, dan bijaksana, tetapi otak tidak tahu apa yang harus dilakukan Senin pukul 08.17 jika instruksinya cuma, “Mulai hari ini saya akan menjadi manusia lebih baik.”


Perubahan membutuhkan sesuatu yang lebih kecil. Satu pertanyaan sebelum memerintah, satu jeda sebelum membalas, atau satu “bagaimana menurutmu?” sebelum menjelaskan mengapa kita paling benar.
Kepemimpinan tidak selalu dibangun melalui pidato besar. Kadang ia dibangun dalam lima detik ketika kita memilih tidak menjadi diri kita yang lama.


Dan di sinilah kisah Laura mulai mengganggu. Kita sangat mudah mengenali bos yang arogan, keras kepala, tidak mendengarkan, dan selalu merasa benar.
Yang lebih sulit adalah bertanya: bagaimana jika, dalam cerita orang lain, kitalah bos itu?
Mungkin ada sesuatu yang kita sebut ketegasan tetapi dirasakan orang lain sebagai intimidasi. Mungkin ada kalimat yang kita sebut kejujuran tetapi membuat seseorang memilih diam.


Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun menunggu atasan, perusahaan, pasangan, atau tim berubah. Padahal perubahan yang paling menentukan mungkin begitu dekat sampai bisa kita tuliskan di punggung tangan.


Sebab kehilangan kendali tidak selalu terlihat seperti orang yang panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Kadang ia terlihat seperti seseorang yang menggenggam kemudi semakin erat—tanpa menyadari bahwa kebiasaannyalah yang sebenarnya sedang mengemudi.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN
Lanik, M. (2018). The leader habit: Master the skills you need to lead—in just minutes a day. AMACOM.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000