Kepada Sastra Seorang Dokter Berharap
SEBAGAIMANA tulisan saya di SW 60+ 3 Juli lalu berjudul: "Cerita tentang Wanita dari Seorang Dokter", saya awali dengan ketertarikan saya pada sosok penulis esai "Sudahkah Pendidikan Dokter Memanusiakan Dokter?" yang dimuat Jawa Pos pada 24 Juni 2026.
Ada sesuatu yang mendorong saya untuk menelusuri faktor yang sekiranya memicu lahirnya esai ini. Tulisan karya pemilik akun 'Hisnindarsyah Dokter' tersebut bukan sekadar esai. Ada kandungan manifesto, kesaksian terbuka -- menarasikan bahwa sebaiknya pendidikan dokter tidak melulu dimayoritaskan pada elemen medis, namun juga diseimbangkan dengan aspek humaniora. Hal tersebut diindikasikan pada salah satu alinea esai itu :
Menjadi dokter saat ini bukan lagi jalan pintas menuju kemapanan. Lebih dari itu, dituntut kualitas yang jauh lebih dalam daripada sekadar kepintaran. Selama ini, kita cenderung mengukur calon dokter melalui : nilai rapor, peringkat kelas, atau sertifikat lomba. Padahal, saat praktik nanti, pasien tidak hadir membawa soal pilihan ganda. Mereka datang dengan ketakutan yang nyata, kecemasan yang mendalam, rasa sakit yang fisik maupun batin, serta harapan yang menggantung.
Artinya, kalimat pada alinea esai di atas mengindikasikan bahwa pasien bukan sekadar nama orang. Juga bukan melulu nomor antrean yang menunggu di poliklinik rumah sakit. Pasien adalah manusia yang punya jiwa, di mana nilai-nilai kemanusiaan menjadi prioritas, sejalan dan sejajar dengan ilmu pengetahuan medis.
Dari situ saya lantas mencoba menggali beranda Facebook-nya, siapa sesungguhnya sosok ini, dengan harapan siapa tahu akan saya temukan 1-2 hal-hal menarik sebagai bahan untuk saya olah menjadi tulisan-tulisan saya nantinya.
Benar saja, saat saya lakukan scroll ke bawah, saya dapati hal-hal menarik di mana dokter yang doktor ilmu manajemen dan yang Kolonel TNI AL ini adalah intelektual yang humoris dan humanis. Sehingga menginspirasi dan menghasilkan esai saya berjudul "Cerita tentang Wanita dari Seorang Dokter" itu.
Setelah esai saya tersebut dimuat di SW60+ lantas saya unggah di sejumlah grup WA, banyak tanggapan dan komentar bermunculan. Hal ini mendorong saya untuk menelusuri lagi, beberapa hari kemudian -- antara lain dengan menscroll ke bawah beranda Facebook-nya. Siapa tahu ada saya temukan bahan-bahan menarik lagi dari sosok inspiratif ini.
Eladalah : puisi. Ya, puisi. Tepatnya saya jumpai sejumlah puisi karyanya. Ada tujuh puisi yang saya temukan pada rentang waktu dua minggu yang diposting di beranda 'Hisnindarsyah Dokter' itu.
Mungkin kalau saya coba scroll ke bawah lagi, akan saya jumpai sejumlah puisi lainnya yang diposting selang-seling dengan hal-hal lain di luar puisi.
Salah satu puisi 'Hisnindarsyah Dokter' berjudul "Kepada Cinta" mungkin menarik untuk ditelaah.
Kepada Cinta
Kepada cinta aku bertanya
Mengapa benci marak di sini
Kepada doa aku bertanya
Mengapa dusta laris di sini
Kepada berita aku bertanya
Mengapa fakta dikhianati
Kepada sastra aku bercerita
Tentang kata-kata yang berubah arti
Cinta berbisik kepada sunyi
Banyak orang gelap nurani
Doa berpesan kepada sepi
Banyak orang berlagak suci
Berita diam tak berbunyi
Tanpa fakta ia pun mati
Sastra pancarkan kisah-kisah berani
seorang penyair dan indahnya misi
Aku dan kita telanjur sendiri
Puisi yang diposting oleh 'Hisnindarsyah Dokter' di Facebook ini bertanggal 31 Desember 2025.
Puisi ini tidak berteriak menggemakan protes. Ia berbisik, tapi tamparannya menyengat. Diposting pada 31 Desember malam, rasanya seperti rapor merah untuk satu tahun yang lewat.
Empat kali ia bertanya, kepada : 'cinta', 'doa', 'berita', 'sastra' -- dari kamar batin paling personal menuju ruang publik paling gaduh. Pola anafora, pengulangan : 'Kepada... aku bertanya' terasa seperti doa yang berubah menjadi gugatan.
Kontrasnya tajam, tanpa perlu makian. Cinta dibalas benci. Doa diisi dusta. Berita justru mengkhianati fakta. Semua benda mati diberi nyawa: cinta berbisik, doa berpesan. Dan berita pun terpapar dalam untaian:
Berita diam tak berbunyi/Tanpa fakta ia pun mati. Semacam wasiat jurnalisme yang ditulisnya dalam napas puisi.
Dan penutupnya sunyi sekali. Setelah mengetuk semua pintu moral, jawabannya hanya satu: Aku dan kita telanjur sendiri. Kata 'telanjur' di sini boleh jadi semacam pisau aksioma. Artinya semua sudah terjadi. Tak bisa kembali. Benarkah?
Ternyata belum terkunci. Pada akhirnya bait Sastra pancarkan kisah-kisah berani menjadi satu-satunya juru selamat. Padahal sastra juga sering dibungkam.
Sedangkan frasa 'seorang penyair' terasa begitu personal. Ia percaya bahwa sastra bisa menjadi cara halus untuk memperbaiki kondisi. Dan penyair diharap bisa menjadi semacam "satria piningit".
Puisi ini tidak memberi ucapan selamat di malam jelang tahun baru sebagaimana lazimnya. Ia menyodorkan cermin bahwa di tahun politik yang banjir hoaks, kata-kata fakta dikhianati dan Banyak orang berlagak suci` terasa sangat nyata.
Jujur, penting, musikal, dan tidak dangkal -- begitulah setidaknya konklusi puisi ini yang jauh dari menganjurkan kita untuk revolusi. Ia hanya mengajak duduk di pojokan, mengakui bahwa kita telanjur sendiri. Bukankah pengakuan itu awal dari kewar rasan. Setidaknya mengaku jujur pada diri sendiri.
Di sini 'sastra' boleh jadi masih memancarkan harapan. Manusia butuh itu, sedikit saja -- agar segera siuman dari sekarat.
Nah, apalagi yang akan saya temukan pada beranda Facebook 'Hisnindarsyah Dokter' sesudah saya dapati poin 'humoris dan humanis' yang kemudian melahirkan esai "Cerita tentang Wanita dari Seorang Dokter". Lantas setelah saya lakukan scroll ke bawah lagi, saya temukan 'kekuatan puisi' sehingga lahirlah esai "Kepada Sastra Seorang Dokter Berharap" ini. (*).
Keren tulisannya. Juga puisi sang doktet
Keren tulisannya. Juga puisi sang dokter