Ketika Jokowi Menerima Tongkat Ganesha
ADA berita kecil tapi membesar karena melibatkan tokoh yang dibesar-besarkan. Seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali, Arya Wedakarna, datang ke Solo menemui presiden ke 7 negeri ini, Joko Widodo, Jumat 21 Agustus lalu. Bukan sekadar datang dengan tangan hampa, Arya Wedakarna membawa tongkat komando dengan patung Ganesha di ujungnya. Tongkat Ganesha yang banyak dijual di pasar kerajinan di Bali itu akan diserahkan kepada Jokowi. Nah, narasi yang diucapkan Arya itulah yang jadi ramai.
Arya menyebutkan tongkat Ganesha ini sebagai lambang kepemimpinan yang berlanjutan. Nanti setelah berada di tangan Jokowi tongkat diserahkan secara estafet ke Gibran yang kini sebagai Wakil Presiden. Arya pun menyebut dirinya “mewakili rakyat Bali” dan siap menerima perintah Jokowi pada pemilu 2029 mendatang.
Narasi ini langsung menunai kecaman. Ganesha adalah dewa kebijaksanaan dalam mitologi Hindu. Ganesha dan Saraswati berkaitan dengan keilmuan. Dewi Saraswati adalah pembawa ilmu pengetahuan ke bumi. Karena ilmu dan kebijaksanaan sangat penting disebarkan maka dua tokoh dewa ini tak harus dalam posisi sakral. Patung keduanya bisa sebagai barang seni, bisa ditaruh di meja, di halaman rumah, dijadikan gantungan kunci, dan sebagainya. Bisa sebagai lambang sekolah seperti yang digunakan oleh ITB. Bisa sebagai nama, seperti Universitas Pendidikan Ganesha di Singaraja Bali. Begitu pula Saraswati, nama dewi Hindu ini bisa dijadikan nama apa saja, termasuk nama diri seseorang. Berapa banyak orang bernama Saraswati.
Namun, seperti halnya para dewa yang lain, Ganesha dan Saraswati tak bisa dikaitkan dengan politik apalagi estafet kepemimpinan. Kemudian, dari mana Arya mendapatkan mandat sebagai “mewakili masyarakat Bali” menyerahkan tongkat itu ke Jokowi? Kapan ada pertemuan yang memberi mandat untuk Arya melakukan itu? Posisi Arya sebagai anggota DPD juga sudah menyalahi tugasnya. Anggota DPD tak boleh terlibat dalam politik praktis. Atas kesalahan ini ada yang mengusulkan agar Arya Wedakarna dicopot sebagai anggota DPD.
Rekam jejak Arya memang tidak terlalu baik.Sebagai anggota DPD dia pernah dipecat pada periode sebelumnya. Pada 2024, dia dilaporkan oleh tokoh adat Bali karena menghina agama Hindu. Ikut pula melaporkan MUI Bali, NU, dan Muhamadiyah karena tindakannya yang rasis. Selain melaporkan ke Polda Bali laporan juga dilayangkan ke Badan Kehormatan DPD. Puncaknya BK DPD memecat Arya pada Feb 2024 karena "melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik" terkait SARA. Namun hebatnya pada Pemilu April 2024 Arya terpilih kembali meski suaranya merosot.
Kegemaran Arya untuk berlaku rasis dan SARA rupanya tetap berlanjut. Juni yang lalu terjadi “pertengkaran mulut” antara ibu-ibu Bali yang berprofesi sebagai penjahit dengan ibu-ibu asal Lombok. Ibu penjahit itu melontarkan kata-kata kasar penuh makian berbau rasis dan videonya beredar luas di medsos. Arya mengundang kedua ibu ini ke kantor DPD Bali untuk didamaikan. Ketika terjadi mediasi, Arya ternyata membela perempuan Bali itu dan mengintimidasi ibu asal Lombok, bukan menyelesaikan perdamaian yang sudah hampir rampung. Padahal perempuan Bali itu sudah minta maaf atas desakan banyak tokoh Bali. Karena memang salah.
Pembelaan Arya disiarkan langsung di medos, sesuatu yang memang selalu dilakukan timnya. Maka muncullah suara kecaman terarah ke Arya, baik dari orang Bali mau pun orang Lombok. Empat anggota DPD wakil Nusa Tenggara Barat dan seorang DPD asal Bali (Ni Luh Jelantik) melaporkan Arya ke Badan Kehormatan DPD. Rupanya dalam keadaan panik inilah Arya Wedakarna mencari dukungan ke Jokowi lewat tongkat Ganesha.
Ganesha Penuh Simbol
Saya tak ingin memperpanjang cerita ini. Baik gugatan agar Arya dilengserkan dari DPD kembali atau pun soal tongkat Ganesha ke Jokowi itu. Saya sangat yakin, Arya dan Jokowi sama-sama menikmati kesenangan jika namanya terus beredar, meski dalam narasi negatif. Saya juga tak mau mempermasalahkan bagaimana peta politik di Bali setelah Arya mengakui akan “mengikuti perintah Jokowi di 2029”. Saya merasa lebih baik menjelaskan apa itu Dewa Ganesha dan bagaimana kita memperlakukan patung, gambar atau ornamennya. Ini lebih penting karena Ganesha dengan berbagai wujudnya sangat digemari. Ada mahasiswa seni rupa di ITB yang menciptakan pernak-pernik Ganesha berbahan keramik. Ada yang bersila, berdiri, tengkurep dan berbagai posisi lainnya.
Patung Ganesha yang disakralkan punya ciri khas yang tak boleh berbeda. Posisi duduk bersila atau berdiri adalah wajib. Lalu, taring kirinya terpotong. Ini simbol ketika putra Dewa Siwa ini mencatat wahyu Weda, Ganesha kehabisan pisau dan taringnya dia potong untuk menuliskan wahyu itu. Simbol dari ajaran Weda yang turun terus-menerus.
Ganesha adalah wujud manusia berkepala gajah. Ini simbol kekuatan. Kuat dalam mengemban kebijaksanaan. Kepala yang besar itu bukan berarti “besar kepala” alias sombong. Tetapi menggunakan akal lebih diutamakan dari kekuatan phisik dalam memecahkan masalah.
Telinga Ganesha besar adalah simbol dari harus lebih banyak mendengar. Lihat pula mulutnya yang kecil. Jadi, orang bijaksana itu harus lebih banyak mendengarkan orang lain dan gunakan kata-kata yang secukupnya untuk memberikan pencerahan. Janganlah banyak mengumbar kata-kata yang jorok. Kendalikan mulut karena ungkapan moderen pun menyebutkan “mulutmu harimaumu”. Jangan pula suka mengumbar janji yang tak mungkin bisa ditepati, karena semuanya itu bukanlah ciri orang-orang bijak. Jika saat ini orang lebih banyak koar-koar dan jarang mendengarkan pendapat orang lain dan banyak pula mengumbar janji-janji sorga, jelas tak paham dengan simbol Ganesha.
Mata Ganesha itu sipit, tidak membelalak sebagaimana patung-patung yang berfungsi menjaga alam. Ini adalah simbol konsentrasi yang kuat. Cobalah kalau kita berdoa dengan mata yang membelalak dan mata yang dipejamkan. Pasti lebih konsentrasi ketika mata dipejamkan. Minimal setengah tertutup. Konsentrasi diperlukan karena ini memperbaiki daya nalar kita.
Ganesha bertangan empat, seperti banyak patung perwujudan dewa dewi lainnya, misalnya, Dewi Saraswati dan Dewi Laksmi. Tentu dimaksudkan agar bisa menampung simbol-simbol lebih banyak lagi. Tangan Ganesha di bagian belakang membawa kapak, juga ada cemeti. Ini simbol yang menyertai kekuatan sebagai pemegang kebijaksanaan itu. Kekuatan itu bisa menumpas hal-hal yang buruk dan membahayakan jika memang diperlukan. Namun sebelum melakukan perlawanan untuk melindungi kebijakan, dua tangan Ganesha yang di depan membawa kebaikan. Tangan kanan menyiratkan kedamaian dan memberikan anugerah kepada siapa pun, tangan kiri membawa semangkuk manisan susu. Kebaikan dan rasa sayang harus diutamakan lebih dulu. Kasih sayang harus mendapat prioritas.
Apakah pemuja Ganesha dan orang-orang yang gemar memasang patung Ganesha sudah mengetahui simbol-simbol itu dan mau menghayatinya? Kalau saja itu yang terjadi maka dunia ini menjadi sangat aman dengan catatan penghayatan itu dipraktekkan di masyarakat. Jika kita dapat anugrah ilmu dari Dewi Saraswati sebagai penurun ilmu pengetahuan, namun tidak digunakan dengan bijaksana, misalnya membuat bom tapi diledakkan di masjid atau gereja, maka kita jauh dari penganut Ganesha. Jika kita tetap membenci dan mementingkan diri sendiri, tak mau mendengar dan menolong orang lain, jangan-jangan kita belum layak menaruh patung Ganesha di rumah.
Umat Hindu di Bali kini menggandrungi Ganesha. Hampir setiap rumah ada Ganesha. Bahkan lebih dari sebuah. Ditaruh di pekarangan rumah, ada di meja tamu, ada di merajan, ada di ruang kerja. Besar kecilnya menyesuaikan tempat. Tak semua harus disakralkan, seperti tongkat yang dihadiahkan Arya Wedakarna kepada Jokowi. Bahwa kemudian Jokowi menjadi lebih bijaksana setelah menerima tongkat itu, kita tentu ikut senang.
**
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar