Esai

Kisah AI Jadi Pabrik Berita

SW60Plus.com, 18 Oktober 2026, 08:21 WIB
Ahmadie Thaha
Ahmadie Thaha
· 227x dilihat

Sebuah berita lokal di Boston menempuh perjalanan luar biasa. Mula-mula muncul di sebuah situs kecil, lalu menyebar ke media lain, memicu perdebatan politik, dan berujung pada konsekuensi nyata bagi orang-orang yang menjadi sasaran pemberitaan.

Nilai hibah yang dipersoalkan hanya US$7.500. Namun, persoalan itu berkembang jauh melampaui angka tersebut. Organisasi yang menerima hibah akhirnya menyatakan akan mengembalikan uang itu, sementara pemimpinnya menghadapi ancaman pembunuhan.

Di balik situs berita yang ikut menggerakkan perhatian publik tersebut ternyata berdiri seorang insinyur perangkat lunak berusia 36 tahun.

Namanya Simon Pacheco. Situsnya bernama Mass Daily News (MDN).

Ia tidak mengelola kantor berita dengan puluhan wartawan. Ia tidak mempunyai ruang redaksi konvensional. Ia bahkan mengaku menjalankan sebagian besar pekerjaannya melalui telepon genggam.

Bagaimana seorang programmer bisa membangun mesin berita yang menarik perhatian begitu luas? Jawabannya mulai terungkap ketika The Boston Globe menerbitkan profil Pacheco pada 10 Oktober 2026.

Sehari kemudian, Pacheco menulis penjelasan panjang berjudul The Story Behind Mass Daily News, in My Own Words. Ia ingin menceritakan sendiri bagaimana proyek yang bermula dari akun politik anonim berkembang menjadi penerbitan berita digital.

Namun, cerita ini jauh lebih menarik daripada kisah seseorang yang akhirnya dikenal publik. Dalam praktek penulisan berita yang diperlihatkannya kepada reporter Globe, Pacheco meminta chatbot mengubah keterangan polisi menjadi berita.

Mesin itu bekerja cepat, tetapi juga menambahkan detail yang tidak terdapat dalam sumber. Pacheco memperbaikinya sebelum menerbitkan tulisan.

Peristiwa tersebut membuka pertanyaan yang jauh lebih besar: ketika teknologi memungkinkan satu orang memproduksi berita dalam waktu singkat, siapa yang memastikan setiap kalimat tetap benar?

Untuk memahami jawabannya, kita perlu kembali ke awal perjalanan Pacheco. Dari sebuah kejengkelan politik bergerak ke sebuah situs berita.

Pacheco bertutur bahwa ceritanya bermula dari masa pandemi Covid-19. Ia merasa frustrasi terhadap berbagai pembatasan di Boston, termasuk kebijakan yang menurutnya terlalu jauh membatasi kehidupan masyarakat.

Ia mengaku sudah menerima vaksin dan dosis penguat, tetapi tetap mempertanyakan sejumlah ketentuan yang berlaku ketika pandemi berlangsung.

Perhatiannya terutama tertuju pada kebijakan vaksinasi pemerintahan Wali Kota Boston, Michelle Wu. Kebijakan tersebut mengancam pegawai kota dengan cuti tanpa gaji hingga pemutusan hubungan kerja jika mereka menolak memenuhi persyaratan vaksinasi. Sebagian pegawai, menurut Pacheco, mempertanyakan mengapa pengujian rutin tidak lagi dapat menjadi alternatif.

Ia juga merasa jengkel ketika pendukung kebijakan pemerintah langsung memberi cap negatif kepada orang-orang yang menyampaikan keberatan. Baginya, keadaan darurat kesehatan tidak menghapus hak warga untuk mempertanyakan keputusan pemerintah.

Kejengkelan itu mendorongnya membuat akun media sosial bernama Bostonians Against Mayor Wu, dengan nama pengguna AntiWuCoalition. Belakangan, ia mengakui bahwa nama tersebut terlalu bombastis.

Ia tidak memimpin koalisi, mengorganisasi demonstrasi, atau menjalankan kampanye politik. Ia hanya seorang warga yang menggunakan telepon genggam dan internet untuk menyampaikan pendapat.

Pacheco menyebut aktivitas awalnya sebagai political shitposting: unggahan politik yang provokatif, jenaka, dan terkadang kekanak-kanakan. Ia bahkan mengakui bahwa sejumlah komentarnya pada masa itu melewati batas yang sekarang tidak ingin ia ulangi.

Namun, sesuatu berubah ketika orang-orang mulai mengikuti akun politiknya. Mereka mengirimkan video, dokumen, kiat, dan cerita yang menurut mereka kurang mendapat perhatian media.

Akun yang semula menjadi saluran kejengkelan politik perlahan memperoleh fungsi baru: mengumpulkan informasi tentang Massachusetts, terutama persoalan yang dianggap kurang terwakili dalam percakapan politik setempat.

Dari sana, Pacheco mulai melihat peluang membangun sesuatu yang lebih besar daripada akun media sosial.

-000-

Salah satu cerita yang menunjukkan daya jangkau MDN berkaitan dengan hibah US$7.500 untuk organisasi nirlaba yang melayani migran LGBTQ+ di Boston.

Pemberitaan tentang hibah tersebut menyebar dan menarik perhatian media lain. Organisasi itu kemudian menyatakan akan mengembalikan hibahnya, sementara pemimpinnya menghadapi ancaman pembunuhan.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah berita lokal dapat berkembang menjadi peristiwa yang berdampak langsung pada kehidupan orang-orang yang diberitakan. 

Judul, gambar, pemilihan fakta, dan distribusi konten dapat menentukan bagaimana publik memahami sebuah persoalan.

Kita perlu berhati-hati ketika membaca kisah ini. Fakta bahwa sebuah pemberitaan diikuti konsekuensi politik tidak otomatis membuktikan bahwa berita tersebut keliru. Sebaliknya, fakta bahwa suatu berita menarik perhatian luas juga tidak otomatis membuktikan bahwa penyajiannya sudah adil.

Pertanyaan jurnalistiknya justru terletak pada proses: apakah dokumen yang mendasari berita itu akurat? Apakah konteksnya lengkap? Apakah pihak yang menjadi sasaran memperoleh kesempatan menjawab? Apakah judul mencerminkan isi berita, atau sengaja menggiring pembaca menuju kesimpulan tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika sebuah media mampu memproduksi dan menyebarkan konten dengan cepat.

Kesalahan yang muncul dalam satu berita mungkin terlihat kecil. Namun, sistem yang menerbitkan puluhan berita dapat memperluas dampak kesalahan jika tidak memiliki mekanisme pemeriksaan yang memadai.

Kita belum perlu menyimpulkan bahwa MDN gagal memenuhi standar jurnalistik. Namun, kita juga tidak boleh menganggap popularitas sebagai bukti mutu. Kita perlu melihat cara kerja media tersebut.

Tapi, memang dari sanalah sebuah dapur berita yang dibangun seorang programmer memperoleh semangatnya.

Pacheco mengaku tidak pernah merancang MDN dengan tujuan meniru surat kabar konvensional. Ia menyebut medianya sebagai social-first Massachusetts tabloid, sebuah penerbitan yang sejak awal menempatkan media sosial sebagai saluran utama untuk menjangkau pembaca.

Menurutnya, berita harus akurat sekaligus menarik. Judul perlu mengundang perhatian, gambar harus membantu menjelaskan persoalan, dan penyajian berita tidak harus menyerupai siaran pers pemerintah.

Latar belakangnya sebagai insinyur perangkat lunak membentuk cara ia menjalankan penerbitan. Ia memikirkan bagaimana informasi dapat bergerak dari sebuah kiriman warga menuju artikel yang siap diterbitkan. Ia juga mencari cara mengurangi pekerjaan berulang yang biasanya menghabiskan waktu dalam produksi konten.

Pacheco mengembangkan perangkat lunak sendiri untuk menyiapkan dan mendistribusikan artikel ke berbagai platform. Sistem tersebut membantu menghasilkan grafis, memformat unggahan, mengirim artikel ke media sosial, dan mengolah rekaman menjadi klip video yang sesuai dengan kebutuhan setiap platform.

Ia tidak perlu membuat ulang materi secara manual setiap kali menerbitkan konten di saluran berbeda. Perangkat lunak menangani sebagian besar pekerjaan rutin itu melalui alur otomatis.

Bagi seorang programmer, pendekatan tersebut terasa wajar. Ia mengidentifikasi pekerjaan berulang, menulis kode untuk menyederhanakannya, menguji hasilnya, lalu memperbaiki sistem ketika menemukan masalah.

Pacheco mengaku menghabiskan banyak waktu membangun infrastruktur teknologi MDN. Ia menyukai proses ketika sebuah sistem yang ia buat mampu menjalankan tugas secara konsisten dan dalam skala lebih besar.

Seorang programmer membangun media berita dengan bantuan AI. Ketika identitasnya terungkap, publik menemukan sebuah eksperimen jurnalistik yang menjanjikan sekaligus menyimpan risiko serius.

Ia bahkan membayangkan suatu hari nanti melisensikan teknologi itu agar orang lain dapat membangun penerbitan berita mereka sendiri tanpa harus memiliki anggaran besar.

Bayangan tersebut bukan hal yang mustahil. Teknologi memang dapat menurunkan biaya masuk ke industri media. Seseorang dengan keterampilan teknis, sumber informasi, dan kemampuan membangun audiens bisa memulai usaha penerbitan tanpa terlebih dahulu merekrut satu ruang redaksi lengkap.

Namun, di sinilah kita perlu membedakan dua jenis kemampuan. Membangun sistem distribusi berita merupakan pekerjaan rekayasa perangkat lunak. Memastikan berita itu benar, adil, dan memiliki konteks yang cukup merupakan pekerjaan jurnalistik.

Keduanya bisa saling mendukung, tetapi keterampilan pada bidang pertama tidak otomatis menjamin kemampuan pada bidang kedua.

Bagian paling menarik dari laporan The Boston Globe muncul ketika reporter mengamati Pacheco menyusun berita dengan bantuan AI. 

Ia mula-mula meminta chatbot AI mengubah peringatan polisi menjadi sebuah artikel. Chatbot menghasilkan draf dalam waktu singkat, tapi setelah diperiksa, ternyata ia menyisipkan detail yang tidak tercantum dalam dokumen sumber.

Pacheco menemukan kesalahan tersebut dan segera memperbaikinya. Setelah memilih judul, ia menerbitkan artikel dan langsung mendistribusikannya melalui sejumlah platform.

Menurut laporan Globe, demo praktek pembuatan berita itu berlangsung sekitar 20 menit. Proses tersebut tidak melibatkan peliputan independen atau panggilan telepon untuk berita yang sedang dibuat.

Dua puluh menit terdengar mengesankan bagi siapa pun yang pernah menulis berita dari awal.

Seorang wartawan perlu membaca dokumen, memahami konteks, menyusun kronologi, memeriksa nama, memastikan tanggal, dan menguji apakah setiap klaim benar-benar didukung sumber. AI dapat mempercepat beberapa tahapan tersebut, terutama ketika bahan sudah tersedia dan persoalannya cukup sederhana.

Namun, demonstrasi itu juga memperlihatkan titik rawan yang tidak boleh kita abaikan. Chatbot dapat menyajikan detail tambahan dengan nada meyakinkan, seolah-olah informasi itu benar-benar berasal dari sumber. Pembaca yang tidak melihat dokumen asli mungkin tidak mengetahui bahwa mesin telah menambahkan sesuatu.

Bayangkan seorang koki menggunakan mesin untuk mempercepat produksi makanan. Mesin itu dapat memotong bahan, mengatur suhu, dan menghemat waktu. 

Namun, jika mesin mencampurkan bahan yang tidak tercantum dalam resep, seseorang tetap harus memeriksa hasilnya sebelum makanan sampai ke meja pelanggan.

Dalam produksi berita, masalahnya lebih rumit. Kesalahan fakta dapat merusak reputasi seseorang, memicu kemarahan publik, atau mengubah pemahaman masyarakat tentang suatu peristiwa. Mesin tidak menanggung konsekuensi sosial tersebut. Penerbitlah yang harus mempertanggungjawabkannya.

Pacheco sendiri mengakui bahwa AI dapat salah memahami dokumen dan menghasilkan kekeliruan yang terdengar meyakinkan. Ia menyatakan bahwa pengawasan manusia dan verifikasi tetap penting. Pengakuan itu menunjukkan bahwa ia memahami risiko teknologi yang digunakannya.

Namun, pertanyaan berikutnya menyangkut penerapan prinsip tersebut dalam operasi sehari-hari. Seberapa banyak berita yang benar-benar diperiksa secara menyeluruh? Bagaimana ia memprioritaskan pemeriksaan ketika beberapa berita masuk bersamaan? Siapa yang meninjau artikel ketika ia sedang tidak bekerja? 

Tulisan Pacheco menjelaskan banyak hal tentang sistem yang ia bangun, tetapi belum memberikan jawaban lengkap atas seluruh pertanyaan operasional itu.

Justru di sinilah ujian model penerbitan berbasis AI berlangsung. Mengoreksi satu kesalahan dalam demonstrasi menunjukkan bahwa manusia dapat mengawasi mesin. Membangun prosedur yang konsisten untuk mencegah kesalahan berulang membutuhkan disiplin editorial yang lebih besar.

Setelah identitasnya terungkap, Pacheco memperoleh kesempatan untuk menjelaskan bagaimana ia memandang kritik terhadap MDN. 

Salah satu kritik paling keras menyebut situs tersebut sebagai pink slime journalism, istilah untuk penerbitan yang menyerupai media lokal tetapi mengandalkan konten otomatis, agregasi, atau produksi bermutu rendah dengan kepentingan tertentu.

Pacheco menolak label itu. Ia menyatakan bahwa MDN memeriksa dokumen publik, mengumpulkan laporan polisi, menghubungi pejabat, meminta tanggapan, menindaklanjuti kiriman warga, dan melakukan peliputan orisinal.

Ia mengajukan contoh dari hari pertama penerbitan MDN, 2 Juli 2025. Situsnya melaporkan penangkapan seorang pegawai Boston City Hall yang menghadapi dakwaan penyerangan dan penganiayaan serta menyatakan tidak bersalah. 

Menurut Pacheco, The Boston Globe kemudian menerbitkan laporan sendiri pada hari yang sama dan secara eksplisit mengakui MDN sebagai pihak yang lebih dahulu melaporkan rincian penangkapan tersebut. Globe juga memperoleh laporan polisi dan catatan pengadilan secara independen.

Bagi Pacheco, contoh tersebut membuktikan bahwa media yang menggunakan AI tetap dapat menghasilkan peliputan orisinal. Ia menilai kritik yang menyamaratakan seluruh operasi MDN mengabaikan berita-berita yang benar-benar mereka kerjakan.

Argumen ini patut kita periksa dengan adil. Penggunaan AI tidak otomatis menghapus nilai jurnalistik sebuah artikel. Media yang memakai teknologi untuk merangkum dokumen, membuat grafik, atau mendistribusikan berita tetap dapat melakukan peliputan yang sahih. Sebaliknya, media yang menggunakan tenaga manusia pun dapat menerbitkan berita yang keliru.

Namun, satu atau beberapa berita yang memperoleh pengakuan dari media besar belum cukup untuk membuktikan mutu keseluruhan sebuah penerbitan. Kita tetap perlu memeriksa rekam jejak, konsistensi verifikasi, keterbukaan sumber, mekanisme koreksi, dan kesempatan bagi pihak yang dikritik untuk menjawab.

Pacheco juga menegaskan bahwa MDN memiliki sudut pandang editorial. Ia tidak ingin berpura-pura netral secara ideologis ketika medianya memang mempunyai pandangan politik tertentu. Menurutnya, keberpihakan pada suatu kebijakan tidak dengan sendirinya membuat fakta yang dilaporkan menjadi salah.

Di sini, ia menyentuh persoalan penting dalam jurnalisme. Setiap media memilih isu yang dianggap penting, menentukan narasumber, dan menyusun urutan informasi. Pilihan tersebut dapat mencerminkan nilai dan kepentingan editorial. Namun, ketika sebuah media menyatakan bahwa seseorang melakukan tindakan tertentu, klaim faktualnya tetap harus didukung bukti.

Kita dapat menerima bahwa media mempunyai pandangan politik sekaligus menuntutnya memeriksa fakta secara ketat. Kita dapat menghargai keberanian media mengkritik pemerintah sekaligus meminta hak jawab ketika pemberitaan merugikan seseorang. Kebebasan editorial dan tanggung jawab jurnalistik harus berjalan beriringan.

-000-

Pacheco menjelaskan bahwa ia tidak ingin identitas pribadinya menjadi pusat perhatian. Ia menganggap politik Boston sangat terpolarisasi dan memilih memisahkan dirinya dari proyek media yang ia bangun.

Ia juga merujuk pada kontroversi 2023, ketika pelaporan berita mengungkap bahwa kepolisian Boston memiliki daftar sejumlah pengkritik dan demonstran yang vokal terhadap Wali Kota Wu, dengan masukan dari kantor wali kota. 

Pemerintahan Wu menyatakan bahwa polisi meminta informasi tersebut untuk perencanaan keamanan setelah muncul insiden pelecehan dan intimidasi. Para pengkritik mempertanyakan apakah praktik itu berpotensi menghambat ekspresi politik yang sah.

Pacheco menggunakan konteks tersebut untuk menjelaskan mengapa ia ingin menjaga jarak antara identitas pribadi dan aktivitas medianya. Ia menegaskan bahwa anonimitas tidak berarti dirinya menolak pengawasan publik terhadap karya jurnalistik MDN.

Perbedaan itu penting. Anonimitas dapat melindungi seseorang dari ancaman atau tekanan. Namun, ketika seseorang mengelola media yang memengaruhi opini publik, pembaca juga membutuhkan informasi yang memadai tentang siapa yang bertanggung jawab atas penerbitan tersebut.

Pacheco kini menghadapi keadaan yang ironis. Ia tidak lagi sepenuhnya dapat mengendalikan apakah publik membicarakan identitasnya. Namun, ia tetap dapat mengendalikan bagaimana MDN menjelaskan kepemilikan, kebijakan editorial, penggunaan AI, dan prosedur koreksinya.

Dalam tulisan tanggapannya, ia menyatakan bahwa MDN telah menambahkan pernyataan sudut pandang editorial dan memperjelas identitas pengelolanya. Ia juga mengakui bahwa penggunaan sebutan kolektif seperti “MDN Staff” perlu diperbaiki. Ia berjanji memperkuat proses editorial seiring pertumbuhan medianya.

Langkah-langkah tersebut dapat meningkatkan transparansi. Tapi, transparansi baru menjadi berarti ketika pembaca dapat melihat siapa yang menulis berita, sumber apa yang mendukungnya, bagaimana media memeriksa klaim, dan bagaimana mereka menangani kesalahan.

Pada bagian akhir tulisannya, Pacheco mengakui bahwa MDN masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. Ia ingin memperluas jenis berita yang diliput, bekerja dengan lebih banyak kontributor, memperkuat proses editorial, dan terus mengembangkan teknologi penerbitannya.

Ia membayangkan masa depan ketika individu atau tim kecil dapat membangun media dengan perangkat yang sebelumnya hanya tersedia bagi organisasi besar. Perangkat lunak dan AI akan menekan biaya produksi, memudahkan distribusi, serta membuka peluang bagi suara-suara baru dalam percakapan publik.

Saya kira, di sinilah nilai terbesar cerita Pacheco. Ia memperlihatkan bahwa teknologi dapat mengubah struktur industri media. Orang yang dahulu tidak mempunyai modal untuk membangun penerbitan kini dapat menjangkau audiens luas melalui kombinasi keterampilan teknis, otomatisasi, dan distribusi digital.

Namun, teknologi yang memudahkan orang menerbitkan berita juga memudahkan mereka menyebarkan kekeliruan. Karena itu, semakin murah dan cepat proses produksi, semakin penting pula sistem pemeriksaan yang mampu mengikuti kecepatannya.

Pacheco menjanjikan tiga hal: melaporkan secara akurat, memperbaiki kesalahan, dan terus mengajukan pertanyaan sulit kepada pemegang kekuasaan. Kita patut mencatat janji itu. Selanjutnya, publik dapat menilai apakah MDN benar-benar menjalankannya secara konsisten.

Bagi media berbasis AI, ukuran keberhasilan seharusnya mencakup lebih dari jumlah pengikut, kecepatan penerbitan, atau banyaknya artikel yang terdistribusi. Ukuran itu juga harus mencakup akurasi, transparansi, kualitas sumber, koreksi, dan dampak pemberitaan terhadap masyarakat.

Teknologi dapat menjadi mesin yang memperbesar kemampuan manusia. Namun, mesin yang semakin kuat membutuhkan kendali yang semakin baik. Dalam jurnalisme, kendali itu berupa standar editorial, verifikasi yang disiplin, dan kesediaan bertanggung jawab ketika berita menimbulkan masalah.

Simon Pacheco telah menunjukkan bahwa seorang programmer dapat membangun sistem penerbitan yang mengubah cara kerja media kecil. 

Ia kini menghadapi tantangan yang lebih sulit ketimbang menulis kode atau mengotomatisasi distribusi konten. Yaitu, membuktikan bahwa sistem yang ia bangun dapat menghasilkan berita yang layak dipercaya.

Sebab, membuat berita semakin cepat merupakan pencapaian teknis. Membuat berita tetap benar ketika kecepatannya meningkat merupakan pencapaian jurnalistik.

Dan di situlah masa depan pabrik berita AI akan ditentukan.

Cak AT - Ahmadie Thaha

Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 18/10/2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000