Esai

Labirin Hitam Anak Krakatau

SW60Plus.com, 07 September 2026, 11:58 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 99x dilihat

SILUET hitam itu mulai tampak di kejauhan—sebuah kerucut yang lahir dari rahim kehancuran purba. Anak Gunung Krakatau. Namanya terdengar manis, "Anak", namun ia mewarisi darah dan amarah yang pernah mengubah iklim, bahkan mengguncangkan dunia pada tahun 1883.


Cuaca cerah tatkala haluan perahu kayu yang kami tumpangi dari Pantai Carita, Banten, membelah ombak Selat Sunda pada awal 1990-an itu. Mesin menderu konstan, menciptakan ritme monoton yang membuai sekaligus membangunkan kesadaran. Laut tenang, namun menyimpan palung yang sangat dalam, tempat sejarah terkubur dan dilupakan. 


Saya memandang ke arah pulau kecil yang perlahan mendekat. Ada rasa gentar yang menyelinap halus di antara lipatan jaket penahan angin ini. Menuju ke sana bukan sekadar berjalan di atas tanah, tapi tak ubahnya menapaki bumi yang bergejolak. Berjalan melintasi ketakutan dan kekaguman yang melebur jadi satu.


Kaki-kaki kami tenggelam beberapa sentimeter ke dalam pasir vulkanik yang hitam kelam. Pantai ini tak seperti pantai wisata dengan pasir putih yang manja. Di sini, segalanya terasa mentah, purba, dengan desir angin yang jujur. Pasir hitam ini adalah sisa-sisa magma yang mendingin. Jutaan butiran kristal yang pernah membara di perut bumi.


Suasana begitu hening. Hanya ada bisik ombak yang menyapu tepian dengan ritme yang lambat. Vegetasi di sekitar pantai sangat minim. Pohon-pohon pinus laut dan ketapang berdiri layu, sebagian meranggas akibat siraman abu belerang dari letusan kecil beberapa waktu lalu. Mereka saksi bisu kehidupan, memaksakan tumbuh di tempat yang paling tak ramah. 


Melihat akar-akar yang mencengkeram pasir vulkanik ini, saya tercenung dan merenung: bukankah hidup manusia sering kali seperti itu? Kita kerap dipaksa berakar dan bertahan di atas tanah yang gersang dan penuh badai, hanya demi melihat matahari terbit keesokan harinya.


Jalur pendakian langsung menyapa dengan kemiringan yang menantang. Tak ada anak tangga batu atau pegangan kayu. Hanya ada jalan setapak berpasir dan berbatu kerikil vulkanik yang labil. Setiap kali melangkah dua kali ke depan, kaki-kaki kami merosot satu kali ke belakang. 


Medan ini menuntut kesabaran yang mutlak, begitu pikir saya. Jika terburu-buru, nafas kami akan habis dan jarak yang ditempuh justeru semakin pendek. Salah seorang rombongan perempuan terlepas syal suteranya disapu angin menuju kaldera terjauh. Widi Yarmanto, teman satunya lagi terlalu bersemangat menjajal kemiringan, lalu muntah-muntah. 


Saya mulai mengatur nafas. Inhalasi, ekshalasi. Begitu seterusnya. Udara pagi terasa dingin sekaligus hangat oleh uap bumi yang samar. Bau belerang mulai tercium tipis, namun menusuk hidung. Mengingatkan bahwa gunung ini tidak sedang tidur nyenyak, tapi ia sedang bernafas.


Di sini, di lereng bawah ini, kami menyadari betapa ringkihnya sosok manusia. Di bawah telapak kaki, kubayangkan dapur magma raksasa sedang bekerja. Bumi ini hidup. Ia bergerak, berdenyut, dan berubah setiap waktu. Sedangkan aku, kami, dengan segala ego dan rencana masa depan yang rumit, hanyalah sebutir debu yang kebetulan sedang melintas di punggungnya.
Vegetasi hijau itu kini benar-benar hilang. Kami telah memasuki zona mati, atau mungkin lebih tepat disebut zona transisi. Di sekeliling hanya ada hamparan batu-batu hitam besar membentuk labirin. Barangkali benda ini semacam bom vulkanik yang terlempar dari kawah saat erupsi masa lalu. Bentuknya aneh: kasar, dan penuh pori-pori, seperti pahatan abstrak dari seniman yang sedang murka.


Matahari mulai meninggi di ufuk timur. Memancarkan sinar jingga yang membakar kabut laut. Cahaya itu menerpa batuan hitam, menciptakan kontras yang dramatis antara kegelapan tanah dan kemilau langit. Kami berhenti sejenak, bersandar pada sebongkah batu besar yang terasa hangat saat disentuh. Kehangatan ini bukan hanya karena sinar matahari, tapi berasal dari energi yang memancar dari dalam bumi.


Dalam keheningan lereng ini, pikiran melayang yang bukan-bukan. Teringat tentang konsep kehancuran dan penciptaan. Membayangkan kisah purba tatkala Anak Krakatau terlahir dari keruntuhan ibunya. Sebuah akhir yang katastrofik ternyata menjadi awal bagi kehidupan yang baru. 
Dalam hidup, kita seringkali meratapi kehancuran—patah hati, kegagalan bisnis, atau hilangnya arah hidup. Namun, bukankah debu-debu kehancuran itu yang nantinya akan memadatkan fondasi bagi diri kita yang baru? Tanpa runtuhnya induk Krakatau, takkan pernah ada Anak Krakatau yang megah dan pongah ini.


Jalur yang kami lewati semakin curam. Pasir vulkanik di sini lebih gembur, menjadikan setiap langkah terasa seperti mengangkat beban berat. Angin bertiup lebih kencang, membawa aroma belerang yang semakin pekat dan menyengat. Asap putih tipis tampak mengepul dari beberapa celah batuan di dekat kami, mungkin dari lubang kerak bumi yang disebut fumarol. Gunung ini sedang berbicara, lewat desis uap panasnya—lagi-lagi begitu pikir saya.


Nafas bertaburan, tenggorokan terasa kering. Setiap kali kami mendongak, puncak itu seolah menjauh. Tubuh mulai memprotes, otot-otot kaki menegang. Namun, ada sesuatu yang mendorong kami agar terus melangkah. Bukan ambisi menaklukkan alam, yang tak bakal bisa ditundukkan, tapi keinginan untuk membunuh keraguan di dalam diri sendiri.


Saat mendaki seperti ini, semua pikiran tentang urusan duniawi, apakah berupa tagihan kredit, tenggat waktu kerja sebagai wartawan, dan (kalau di era moderen masa kini, mungkin) drama sosial media, menguap begitu saja. Yang tersisa hanyalah momen hari ini, langkah saat ini, nafas saat ini. Hidup menjadi sangat sederhana: terus berjalan atau berhenti dan menyerah.


Langkah kami akhirnya tiba di batas aman pendakian. Meraih titik tertinggi yang diizinkan, tapi belum menyentuh bibir kawah aktif yang berbahaya. Kami berkerumun, tertawa riang, berdiri di atas altar pasir hitam, dikelilingi pemandangan menakjubkan yang seolah mampu menghentikan detak jantung.
Di bawah sana, laut Selat Sunda membentang luas bagai permadani biru tua yang tak bertepi. Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung berdiri melingkar, membentuk formasi kaldera purba yang menjadi saksi bisu ledakan dahsyat berabad-abad lalu. Tiga pulau itu seperti pelindung sekaligus saksi atas pertumbuhan Anak Krakatau yang berada di tengah-tengah mereka.


Dari celah kawah yang tak jauh dari tempat kami berdiri, asap  putih tebal membubung tinggi ke langit biru. Berputar-putar ditiup angin laut lalu hilang menyatu dengan awan. Mungkin itu asap belerang. Alas kaki kami memberi isyarat betapa tanah yang kami pijak terasa panas. Inilah titik tempat keindahan dan bahaya berdansa begitu anggun. Satu letupan kecil saja dari kawah itu bisa melenyapkan kami dalam sekejap. Ironisnya, kesadaran akan kematian yang begitu dekat justru membuat kami merasa sangat hidup dengan semangat menyala-nyala.


Saya duduk di atas pasir hangat, memeluk lutut. Membiarkan angin laut menyapu keringat di wajah. Di puncak kesunyian ini, kami  menemukan sebuah kedamaian yang asing. Kedamaian yang lahir bukan dari tidak adanya masalah. Melainkan dari kesadaran betapa kecilnya diri kami di hadapan semesta. Di hadapan keagungan lanskap ini, segala beban hidup yang kami bawa dari kota terasa begitu remeh dan tak berarti.
Anak Gunung Krakatau tak pernah meminta maaf atas erupsinya. Ia tak pernah mempedulikan apakah manusia menyukainya atau takut kepadanya ketika memuntahkan lahar panas. Ia hanya terus tumbuh, merusak untuk membangun kembali dan hanya patuh pada hukum alam yang mengaturnya lewat tangan-tangan tak kasat mata.


Terik mentari memantulkan cahaya pada permukaan laut yang berkilau seperti jutaan berlian yang tersebar. Saya menutup mata, merekam suara desir angin, aroma belerang, dan kehangatan tanah vulkanik ini ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Hangatnya lautan juga kami rasakan ketika menjajal berenang –dibantu mengapung oleh Bambang Harymurti-- pasrah ke tepian.


Matahari jauh melampaui batas naik sepenggalah. Nelayan yang mengantar kami memberi sinyal agar segera turun. Menaiki perahu bermesin tunggal itu kembali terbayang rutinitas kerja yang bising dan menjemukan. Tapi kegembiraan yang membuncah setelah aman menyentuh Anak Krakatau, mampu menenggelamkan rasa takut.


Mesin perahu kami mogok, mungkin kehabisan solar. Mungkin sebab lain. Kami terombang-ambing di tengah lautan luas tanpa sinyal telepon seluler. Blankspot. Sejam dua jam kami kehilangan kontak. Sembari bercanda, ketua rombongan, Yusril Djalinus, meminta saya agar mengirimkan doa terampuh. Jadi teringat kumpulan wirid Dzikrul Bahr (Zikir Lautan) yang pernah dibaca Imam As-Syadzili kala berlayar di Laut Merah.


Akhirnya pertolongan itu datang. Mendadak-sontak muncul nelayan lokal melintas dengan perahu kayu yang entah dikirim malaikat siapa dan darimana. Ia begitu bersemangat membantu menarik perahu kami dengan temalinya yang renta hingga merapat ke dermaga di kawasan Anyer.
Perjalanan menapaki labirin batu hitam ini selalu terpatri dalam batin menjadi pengingat abadi. Bahwa di suatu tempat di Selat Sunda, ada sebuah kehidupan yang lahir dari abu. Kehidupan yang terus tumbuh dengan megah di tengah ketidakpastian—yang siap meluapkan teguran dan amarah.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000