Lambat
TAHUN 2002 bukanlah tahun yang menyenangkan bagi Dave Cote. Hari-hari pertamanya sebagai CEO Honeywell lebih mirip mimpi buruk daripada perayaan. Harga saham perusahaan jatuh hampir 40 persen, para analis Wall Street terang-terangan menyebutnya tidak layak menjadi CEO.
Bahkan hampir separuh pimpinan divisi luar negeri mengabaikan undangannya untuk bertemu karena menganggap pertemuan itu hanya membuang waktu.
Bagi banyak orang, tekanan sebesar itu biasanya melahirkan satu reaksi yang sama: bertindak cepat.
Seorang pemimpin baru sering merasa harus segera menunjukkan perubahan. Ada yang melakukan PHK besar-besaran, mengganti hampir seluruh jajaran manajemen, atau membeli perusahaan lain agar terlihat berani. Di dunia bisnis, bergerak cepat sering dianggap sama dengan kepemimpinan yang kuat.
Namun Dave Cote justru melakukan sesuatu yang berlawanan. Ia memilih melambat.
Keputusan pertamanya bahkan membuat pasar semakin kecewa. Tidak lama setelah menjabat, ia mengumumkan bahwa target pendapatan Honeywell harus diturunkan karena kondisi perusahaan jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan.
Beberapa minggu kemudian, ia kembali menurunkan proyeksi itu. Harga saham kembali tertekan, tetapi Cote memilih kehilangan popularitas daripada kehilangan kejujuran.
Baginya, kepercayaan tidak dibangun dengan kabar baik. Kepercayaan dibangun ketika seorang pemimpin berani mengatakan kenyataan, meskipun kenyataan itu pahit.
Di tengah tekanan yang semakin besar, ia memperkenalkan sebuah prinsip sederhana: "Go slow to go fast." Berjalan lambat agar suatu hari nanti dapat berlari lebih cepat.
Kalimat itu terdengar aneh di dunia yang memuja kecepatan. Namun Cote memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak pemimpin. Masalah yang dibangun selama puluhan tahun hampir tidak mungkin diselesaikan hanya dalam beberapa bulan.
Karena itu, ia menolak mengambil keputusan-keputusan dramatis demi menyenangkan pasar. Ia memilih memperbaiki proses produksi sedikit demi sedikit. Ia membangun budaya kerja baru secara bertahap. Ia menerapkan Honeywell Operating System selama hampir sepuluh tahun, bukan sepuluh minggu.
Kesabaran itu juga terlihat dalam cara ia mengambil keputusan.
Dave Cote mengenal kelemahan dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ketika tekanan datang, ia cenderung mengambil keputusan terlalu cepat. Karena itulah ia menciptakan satu aturan pribadi yang terdengar sederhana, tetapi sangat sulit dijalankan: aturan tiga hari.
Setiap kali rapat panjang menghasilkan keputusan besar, ia tidak langsung menandatanganinya. Ia memaksa dirinya menunggu selama tiga hari sebelum mengatakan "ya".
Suatu ketika Honeywell hampir menjual sebuah unit bisnis yang merugi. Setelah rapat berjam-jam, semua orang sepakat transaksi itu harus segera dilakukan. Cote hampir menyetujuinya.
Namun, aturan tiga hari kembali bekerja.
Tiga hari kemudian, timnya menemukan informasi baru. Jika transaksi itu diteruskan, Honeywell akan kehilangan $75 juta, bukan $50 juta seperti perkiraan awal. Keputusan pun dibatalkan. Beberapa bulan kemudian, perusahaan yang sama akhirnya membeli unit bisnis tersebut dengan syarat yang jauh lebih baik sehingga Honeywell terhindar dari tambahan kerugian sebesar $25 juta.
Mengapa seorang CEO memilih berjalan lambat justru ketika semua orang menyuruhnya berlari?
Kadang-kadang, keputusan terbaik bukanlah keputusan yang paling cepat. Keputusan terbaik adalah keputusan yang diberi waktu untuk berpikir.
Kesabaran itu juga tampak ketika Honeywell mulai berekspansi. Alih-alih mengejar akuisisi raksasa yang sering menjadi berita utama, Cote memilih membeli puluhan perusahaan kecil secara bertahap. Selama lima belas tahun memimpin, ia menyelesaikan 44 akuisisi kecil, bukan satu akuisisi besar yang berisiko mengguncang perusahaan.
Pada saat yang sama, ia mulai mengubah arah Honeywell menuju masa depan. Ia merekrut ribuan insinyur perangkat lunak, mengalihkan fokus perusahaan dari perangkat keras menuju perangkat lunak berbasis cloud dan analitik data, serta membangun bisnis di China dan India secara perlahan. Semua dilakukan tanpa tergesa-gesa.
Hasilnya tidak datang dalam satu atau dua tahun.
Butuh hampir satu dekade sebelum Wall Street mengakui bahwa orang yang dulu mereka remehkan ternyata sedang membangun sesuatu yang tidak mereka lihat. Ketika Dave Cote pensiun enam belas tahun kemudian, harga saham Honeywell telah melonjak sekitar 245 persen. Ironisnya, pada periode yang sama, saham General Electric—perusahaan yang pernah memecatnya—justru merosot tajam dan kehilangan kejayaannya.
Ada ironi yang indah dalam kisah ini.
Orang yang pernah dianggap tidak cukup baik ternyata membuktikan dirinya bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesabaran. Ia tidak sibuk membalas kritik. Ia sibuk memperbaiki proses.
Kita hidup pada zaman yang memuja hasil yang cepat. Media sosial mengajarkan bahwa perubahan harus instan. Dunia bisnis sering memberi penghargaan kepada pemimpin yang tampak sibuk membuat keputusan besar.
Padahal, sejarah justru berkali-kali menunjukkan hal yang berbeda. Banyak keberhasilan besar lahir bukan dari keberanian bergerak paling cepat, melainkan dari kesabaran untuk bergerak ke arah yang benar.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Dave Cote.
Kecepatan memang membuat kita terlihat hebat. Namun, sering kali justru kesabaranlah yang membawa kita sampai ke tujuan.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar