Esai

Lebih Baik Melarat daripada Mencuri

SW60Plus.com, 28 Agustus 2026, 08:02 WIB
Amang Mawardi
Amang Mawardi
· 70x dilihat

TANGGAL 2 Agustus 2026, seorang teman yang dokter hiperbarik dan doktor ilmu manajemen baru pulang dari kursus di Xian, Tiongkok. Tentang warga kota itu, dia  menulis kesannya  di beranda Facebook: "Mereka lebih baik melarat daripada mencuri. Sekian. Paham kenapa harus belajar ke sana?"


Ya, intinya memuji kejujuran dan harga diri orang China, khususnya yang tinggal di kota itu. Kalau dielaborasi, kira-kira begini : Di sana orang lebih milih hidup pas-pasan, susah, tapi tetap lurus. Daripada mengambil hak orang lain. 
Sebagaimana saya baca dari Meta AI, ini soal mianzi - menjaga muka. Malu kalau ketahuan curang. Disiplin itu bukan karena takut polisi, tapi karena takut kehilangan harga diri.


Kalimat "Paham kenapa harus belajar ke sana?" itu sindiran halus. Maksudnya kalau ke Xian jangan cuma lihat pabrik, kereta cepat, atau teknologi. Resapi juga mental warganya. Amati juga etikanya.


Kursus di Xian biasanya soal bahasa, budaya, atau pelatihan bagi pegawai pemerintah dan BUMN. Tapi yang paling membekas itu, agaknya, justru pelajaran di luar kelas. Cara orang hidup, cara mereka pegang prinsip.


Saya jadi ingat istilah di ranah manajemen: organizational culture. Kalau pondasi nilai masyarakatnya kuat, sistem apapun akan jalan. Kalau pondasinya rapuh, aturan secanggih apapun akan jebol juga. Dan satu kalimat tadi, "lebih baik melarat daripada mencuri", itu sudah merangkum semua. Bukan soal moral saja. Tapi juga soal budaya kerja dan integritas.


Xian sendiri bukan kota sembarangan. Kota ini ibukota Provinsi Shaanxi, dengan penduduk inti kota sekitar 10,7 juta jiwa. Dulu namanya Chang'an, ibukota 13 dinasti -- begitu setidaknya yang saya baca di Google.
Sekarang jadi pusat teknologi. Jadi wajar kalau orang yang ke sana pulang bawa dua hal: ilmu modern dan nilai kuno yang masih dipegang teguh. 
Kota ini berada di bagian barat laut Tiongkok, ditandai sebagai titik awal Jalur Sutra.
Tiba-tiba mengingatkan saya pada hadis yang sering kita dengar: "Utlubul ‘ilma walau bis-Shin" - "Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China". 


Soal status hadisnya memang ada beda pendapat ulama. Ada yang bilang dhaif. Tapi semangatnya sudah hidup ratusan tahun. Dulu China itu ujung dunia. Paling jauh, paling beda, paling maju. Begitu setidaknya dipahami masyarakat Arab dulu kala. 
Dan dulu para sahabat belajar ke Habsyah (sekarang disebut Ethiopia) karena di sana ada raja yang tidak dzolim. Meski  jaraknya sangat jauh, ditempuh juga untuk mencapainya. Semacam "sinonimisasi" dengan China. 


Sekarang orang belajar ke China, Jepang, Korea, karena di sana ada masyarakat yang disiplin dan jujur.


Kadang kita pergi jauh bukan cuma cari ilmu. Tapi juga untuk "menampol" diri sendiri. Lihat orang bisa disiplin, kita jadi malu. Lihat orang bisa jujur dalam susah, kita jadi introspeksi. ingkatnya begini. Teman saya itu berangkat ke Xian untuk kursus. Pulangnya bawa dua koper. Satu isinya ilmu teknis. Satu lagi isinya akhlak. Dan itu persis yang diajarkan hadis tadi. Belajar sampai jauh, lalu pulang membawa ilmu dan juga membawa adab.


Status teman saya itu saat diposting di Facebook, bikin saya mikir dua kali sebelum komen. Karena apa? Singkat, padat, dan menusuk! (*).

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000