Lelah
PERNAH memperhatikan mengapa Barack Obama hampir selalu mengenakan jas berwarna abu-abu atau biru ketika menjabat Presiden Amerika Serikat? Banyak yang mengira itu sekadar selera berpakaian. Padahal, di balik dua warna itu tersimpan sebuah pelajaran besar tentang cara manusia mengambil keputusan.
Obama pernah mengatakan bahwa ia sengaja mengurangi pilihan-pilihan kecil dalam hidupnya, termasuk memilih pakaian dan menu makan. Alasannya sederhana. Sebagai presiden, setiap hari ia harus mengambil puluhan keputusan yang memengaruhi jutaan orang. Kalau energi mental sudah habis hanya untuk memilih warna dasi, bagaimana mungkin ia masih memiliki kejernihan berpikir ketika harus memutuskan kebijakan negara?
Sekilas terdengar berlebihan. Masa memilih baju bisa menguras energi?
Kalau dipikir lagi, sejak membuka mata setiap pagi kita sebenarnya sudah mulai "bekerja". Bangun sekarang atau lima menit lagi. Kopi atau teh. Kemeja putih atau biru. Lewat jalan utama atau jalan tikus. Membalas pesan sekarang atau nanti. Semua pilihan itu tampak remeh, tetapi masing-masing meminta satu hal yang sama: keputusan.
Masalahnya, otak kita bukan baterai yang tak terbatas. Energinya terbatas. Dipakai terus tanpa jeda, ia juga mengenal kata lelah.
Psikolog Roy Baumeister menyebut fenomena ini sebagai ego depletion. Dalam serangkaian penelitiannya, ia menemukan bahwa kemampuan mengendalikan diri dan membuat keputusan bekerja seperti otot. Semakin sering digunakan, semakin menurun tenaganya. Ketika energi mental melemah, kita lebih mudah mengambil jalan pintas, menunda keputusan, atau memilih sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan tujuan awal.
Makanya jangan heran kalau pagi hari kita berjanji, "Mulai hari ini diet." Siang hari masih bertahan. Menjelang malam, tiba-tiba berhenti di penjual gorengan sambil berkata, "Mas, bakwannya empat. Cabe rawitnya jangan pelit."
Masalahnya bukan gorengannya. Masalah yang sebenarnya adalah baterai mental kita sudah hampir habis. Setelah seharian mengambil puluhan keputusan, otak mulai mencari pilihan yang paling mudah, bukan yang paling bijaksana.
Namun ternyata cerita ini tidak sesederhana soal capek atau tidak capek.
Puluhan tahun sebelum Baumeister, Herbert Simon—peraih Nobel Ekonomi—sudah mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar rasional. Kalimat ini terdengar provokatif, tetapi justru sangat membebaskan. Menurut Simon, keterbatasan waktu, informasi, perhatian, dan kapasitas berpikir membuat manusia hampir mustahil menemukan keputusan yang sempurna.
Karena itulah, kata Simon, manusia tidak hidup dengan prinsip optimizing—selalu mencari yang terbaik. Kita lebih sering hidup dengan prinsip satisficing, yaitu memilih sesuatu yang cukup baik agar bisa segera melangkah ke persoalan berikutnya.
Bayangkan Anda ingin membeli laptop baru. Secara teori, Anda bisa membandingkan ratusan merek, membaca ribuan ulasan, menghitung harga, daya tahan baterai, performa prosesor, hingga biaya servis lima tahun ke depan. Tetapi kenyataannya?
Setelah membuka lima belas tab di browser, kepala mulai pening. Akhirnya kita bertanya kepada teman, membaca dua ulasan terakhir, lalu berkata, "Ya sudah..lah... yang ini saja."
Itu bukan tanda kita bodoh. Itu tanda bahwa otak sedang bekerja sesuai desainnya.
Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi lainnya, menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Menurutnya, otak memiliki dua cara berpikir. Sistem pertama bekerja cepat, otomatis, intuitif, dan hemat energi. Sistem kedua bekerja lambat, analitis, dan penuh pertimbangan, tetapi sangat boros tenaga.
Selama energi mental masih tersedia, sistem kedua mengambil alih. Kita berpikir lebih hati-hati, mempertimbangkan risiko, dan melihat konsekuensi jangka panjang. Namun ketika energi mulai menurun, otak diam-diam menyerahkan kemudi kepada sistem pertama. Yang penting bukan lagi keputusan terbaik, melainkan keputusan yang paling cepat selesai.
Di sinilah kita sering salah paham.
Selama ini kita mengira keputusan buruk lahir karena orangnya buruk. Padahal, sering kali yang berubah bukan karakternya, melainkan kapasitas berpikirnya.
Tetapi bahkan itu pun belum cukup menjelaskan semuanya.
Kenapa Orang Baik Kadang Membuat Keputusan Buruk?
Pada tahun 2013, Anandi Mani, Sendhil Mullainathan, Eldar Shafir, dan Jiaying Zhao menerbitkan penelitian yang mengubah cara para ilmuwan memandang kemiskinan. Mereka menemukan bahwa kekurangan uang bukan hanya mengurangi isi dompet. Ia juga mengurangi kapasitas kognitif.
Temuan ini kemudian berkembang menjadi gagasan yang lebih luas tentang scarcity atau kelangkaan. Yang menguras pikiran ternyata bukan hanya kemiskinan.
Kekurangan waktu, pekerjaan yang menumpuk, cicilan yang terus menghantui, orang tua yang sakit, anak yang harus dijemput, atau target kantor yang tidak kunjung selesai—semuanya memperebutkan ruang yang sama di dalam kepala kita.
Mullainathan dan Shafir menyebutnya sebagai bandwidth kognitif.
Saya lebih suka menyebutnya ruang bernapas bagi pikiran.
Bayangkan otak kita seperti RAM pada komputer. Selama hanya beberapa aplikasi yang berjalan, semuanya terasa ringan. Namun ketika terlalu banyak program dibuka secara bersamaan, komputer mulai lambat. Bukan karena mesinnya rusak. Melainkan karena seluruh kapasitasnya sedang dipakai.
Begitu pula manusia.
Kadang yang penuh bukan kalendernya.
Tetapi isi kepalanya.
Di titik inilah empat teori besar itu saling bertemu. Simon memulai ceritanya puluhan tahun lebih awal. Kahneman mengisi bagian yang belum selesai. Baumeister menjelaskan mengapa kita kehabisan tenaga. Mullainathan lalu menunjukkan bahwa hidup yang sesak bukan hanya menguras dompet, tetapi juga menguras ruang berpikir.
Anehnya, empat ilmuwan yang datang dari disiplin berbeda ternyata sedang bercerita tentang masalah yang sama. Hanya bahasanya yang berbeda.
Orang baik kadang membuat keputusan buruk bukan karena kehilangan moralitas, melainkan karena kehilangan kapasitas untuk berpikir sejernih biasanya.
Lalu apa pelajarannya?
Pelajarannya justru sederhana.
Kalau pikiran sedang penuh, jangan buru-buru mengambil keputusan besar. Ketika marah, lapar, sangat lelah, atau dihimpit terlalu banyak persoalan, kemampuan kita melihat segala sesuatu secara jernih sedang tidak berada pada kondisi terbaik. Menunda satu malam sering kali jauh lebih murah daripada menyesali keputusan seumur hidup.
Ada pelajaran lain yang tak kalah penting. Jangan terlalu cepat menghakimi orang lain. Bisa jadi kita hanya menyaksikan satu keputusan buruk di ujung hari, tanpa pernah melihat ratusan keputusan baik yang sudah ia ambil sejak pagi.
Dan mungkin inilah pelajaran yang paling sering kita lupakan. Kita sibuk mengajari orang bagaimana membuat keputusan yang baik, tetapi lupa menciptakan lingkungan yang membuat mereka mampu berpikir dengan baik.
Dan pelajaran yang paling penting, mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengajarkan orang bagaimana mengambil keputusan yang baik, tetapi lupa menciptakan lingkungan yang membuat orang mampu berpikir dengan baik. Padahal keluarga yang mau mendengar, teman yang tidak buru-buru menghakimi, atasan yang memberi ruang bernapas, atau pasangan yang memilih memeluk daripada menyalahkan adalah bentuk modal sosial yang menjaga kita ketika kapasitas berpikir sedang menurun.
Barangkali inilah ironi kehidupan modern. Kita hidup di zaman yang menawarkan semakin banyak pilihan, tetapi justru semakin sedikit ruang untuk berpikir. Kita bangga menjadi manusia yang sibuk, padahal kesibukan sering kali menggerus kejernihan yang paling kita butuhkan.
Maka, ketika suatu hari Anda melihat orang baik membuat keputusan yang buruk, jangan buru-buru mempertanyakan integritasnya. Mungkin yang sedang habis bukan nilai-nilai yang ia pegang, melainkan energi untuk memegangnya. Dan bisa jadi, pertolongan terbesar yang dapat kita berikan bukan tambahan nasihat, melainkan membantu meringankan beban yang sedang memenuhi isi kepalanya. Edhy Aruman
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar