Esai

Mas 74 Kg

SW60Plus.com, 10 Juli 2026, 09:53 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 79x dilihat

SAYA  sempat berpikir, mungkin republik ini perlu menjalani medical check-up. Bukan karena inflasi, bukan karena utang negara, melainkan karena gejala-gejala yang belakangan ini terlalu sering muncul di ruang penggeledahan.


Hasil pemeriksaannya keluar pekan ini. Bukan kolesterol tinggi, bukan gula darah, melainkan tujuh koper berisi 74 kilogram emas dan uang tunai senilai ratusan miliar rupiah.


Kita tentu bisa berhenti pada rasa marah. Namun, kemarahan sering kali hanya bertahan selama masa hidup sebuah berita. Yang lebih menarik adalah bertanya: penyakit apa yang mampu menimbulkan gejala seperti ini?


Psikolog Tim Kasser menyebut salah satunya sebagai materialistic values, yaitu ketika hidup diukur dari kepemilikan, bukan dari makna. Penelitian selama puluhan tahun menunjukkan bahwa semakin seseorang menjadikan uang, status, dan harta sebagai pusat hidupnya, semakin rendah kesejahteraan psikologis yang ia rasakan (Kasser, 2002; Dittmar et al., 2014).


Itulah ironi pertama. Kita mengira harta dikumpulkan agar manusia merasa aman, padahal sering kali harta justru dikumpulkan karena rasa aman itu tidak pernah ditemukan.


Bayangkan seseorang berdiri di depan tujuh koper emas. Yang ia lihat mungkin bukan kekayaan, melainkan ketakutan yang harus dijaga agar tidak diketahui oleh orang lain.
Psikologi mengenal konsep hedonic adaptation. Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk menganggap kemewahan sebagai hal yang biasa, sehingga apa yang kemarin terasa lebih dari cukup, hari ini terasa kurang.


Karena itu, keserakahan hampir tidak pernah berbunyi keras. Ia tidak berteriak, "Ambil semuanya!" Ia hanya berbisik pelan, "Tambah sedikit lagi."
Sedikit lagi jabatan. Sedikit lagi proyek. Sedikit lagi rekening. Sedikit lagi emas.
Dua kata itu terdengar sepele. Tetapi sejarah korupsi di banyak negara menunjukkan bahwa kehancuran sering kali tidak dimulai dari niat mencuri miliaran rupiah, melainkan dari kemampuan membenarkan "sedikit saja" yang dilakukan berulang-ulang.


Albert Bandura menyebut proses itu sebagai moral disengagement. Seseorang tidak langsung menjadi jahat; ia belajar memutus hubungan antara tindakannya dan suara hati, sampai akhirnya yang luar biasa berubah menjadi biasa, dan yang salah terasa masuk akal (Bandura, 1999).


Penyakit itu kemudian menular ke negara. Bukan melalui virus, melainkan melalui teladan. Ketika jabatan dipersepsikan sebagai kesempatan untuk memperkaya diri, integritas tidak lagi dipandang sebagai nilai, melainkan sebagai kebodohan.


Bo Rothstein menyebut korupsi sebagai penghancur kualitas pemerintahan karena ia menggerus modal yang paling sulit dibangun kembali: kepercayaan publik (Rothstein, 2011). Jalan yang rusak masih bisa diaspal, gedung yang roboh masih bisa dibangun ulang, tetapi kepercayaan masyarakat membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.


Lalu saya menyadari sesuatu. Yang ditemukan penyidik sebenarnya bukan hanya emas.
Yang ditemukan adalah rasa "tidak pernah cukup" yang telah berubah menjadi logam mulia.


Ironisnya, kita justru sibuk menimbang berat emasnya. Seolah-olah persoalannya ada pada angka 74 kilogram, padahal angka hanyalah hasil laboratorium. Penyakitnya sudah lama bersemayam dalam cara kita memandang kekuasaan.


Mungkin karena itu republik ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan penjara. Republik ini sedang kekurangan orang-orang yang tahu kapan harus berkata, "Cukup."
Dan jangan-jangan, kata "cukup" itulah kekayaan yang paling langka di negeri yang begitu kaya.
Keserakahan tidak pernah datang sambil berteriak. Ia datang sambil berbisik: sedikit lagi*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000