Medsos Jarang Menampilkan Luka
SEORANG teman yang usianya lebih muda 10 tahun dari saya yang 73 tahun ini, menulis postingan di beranda Facebook-nya:
"Jangan iri pada hidup yang tidak kita ketahui,
media sosial jarang menampilkan luka."
Mungkin ini semacam quote. Atau boleh jadi puisi pendek sublimasi pikiran-pikirannya.
Apapun itu, intinya : Stop membandingkan kehidupan dengan feed orang lain.
Yang kita lihat di IG, Facebook, TikTok, itu cuma highlight-nya. Boleh jadi, yang gagal, nangis, utang numpuk, berantem sama pasangan -- nggak ada yang diupload, guys. Media sosial itu panggung. Yang kita lihat cuma lampu sorot dan senyum paling manis. Backstage-nya gelap, dan itu tak pernah kita tahu -- begitu kira-kira.
Kalimat ini rasanya seperti menepuk pelan pundak saya. Adem, menenangkan hati. Mengingatkan ucapan almarhum mbah kakung saya (dari pihak Ibu) : "Le, ojo gampang ulap. Sing ketok apik iku durung mesti penak."
Nah, quote ini pada akhirnya menjadikan saya intropeksi.
Kenapa kalimat ini nancep? Mungkin kita semua pernah mengalami. Baru scroll 5 menit : lihat teman liburan ke Bali, tetangga beli mobil baru, mantan nikah secara gemerlap, mewah. Yang lantas memunculkan pikiran : "Hidupku kok gini-gini aja, ya...". Padahal kita nggak tahu cerita utuhnya. Bisa jadi yang posting tadi masih nanggung KPR 15 tahun, berantem hampir tiap malam di rumah dengan istri, atau capek jaga image.
Bukankah iri itu menguras energi untuk sesuatu yang bahkan belum tentu nyata. Hikmahnya jelas, guys: fokus urus rumah sendiri.
Dampak sosialnya juga nyata, meski pelan. Saat satu orang berhenti membandingkan diri, kecemasannya berkurang. Lingkungannya jadi lebih adem. Bisa jadi nggak ada lagi sindir-sindiran di kolom komentar.
Jika ini sering terjadi, lama-lama bisa muncul tren baru: authentic content. Orang mulai berani upload proses, luka, dan kondisi gagal. Bukan cuma hasil akhir. Kita juga jadi lebih empati. Akhirnya, lihat orang posting bahagia, kita nggak langsung bilang "enak ya". Tapi mikir, "mungkin dia juga lagi berjuang, cuma nggak diumbar".
Kalau ditelaah lebih dalam, sebetulnya ini "pesan" sudah ada sejak lama.
Stoikisme mengajarkan: fokus pada hal yang bisa kita kendalikan, jangan urusi hidup orang.
Buddhisme bilang: penderitaan datang dari perbandingan dan keinginan.
Filsuf yang budayawan Perancis, Baudrillard, bahkan bilang kita hidup di "simulasi" — feed itu hiperrealitas yang lebih indah dari aslinya. Semacam simulakra.
Bukankah Islam sudah mengingatkan sejak ribuan tahun lalu, sebagaimana
diriwayatkan hadis
Bukhari & Muslim :
"Lihatlah orang yang berada di bawahmu dalam urusan dunia, dan jangan melihat orang yang berada di atasmu. Yang demikian itu lebih baik agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang ada padamu."
(HR. Bukhari no. 6490, Muslim no. 2963).
Nah, hidup itu ujian dengan soal berbeda, guys. Ada yang diuji harta. Ada yang diuji sepi, tak ada orang mendekat, merasa diabaikan.
Yang kita lihat di medsos cuma "lembar jawaban" orang. Kita nggak tahu "soalnya" seberat apa.
Leluhur Jawa pun sudah bilang: Ojo gumunan, ojo kagetan, ojo dumeh. Jangan gampang kagum, kaget, dan sok.
Ada juga : Jer basuki mawa beya — setiap kesuksesan ada pengorbanan. Yang kita lihat "basuki"-nya saja, "beya"-nya tidak pernah diupload.
Versi Suroboyoannya mungkin lebih nancep: "Cak, ojok iri ambek uripe wong nang medsos. Sing diunggah iku sing apik-apik tok. Sing nangis jam loro bengi, sing ngitung utang, gak onok sing gelem ngupload." Ha-ha-ha, ngono be'e, rek !
Jadi, jangan menukar kedamaian batinmu dengan ilusi orang lain.
Konklusinya mungkin begini : Kebahagiaan itu bentuknya bukan mobil, liburan, atau pasangan sempurna. Bentuk aslinya adalah tenang, cukup, syukur, dan jujur sama diri sendiri.
Mungkin Socrates benar : Kebahagiaan sejati tidak berasal dari harta benda yang terlihat di luar, melainkan dari kedalaman jiwa serta kemampuan merasa cukup dengan sedikit keinginan.(*)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar