Mengapa SW60Plus Hadir ?
Di tengah derasnya arus informasi, kita hidup dalam zaman ketika berita datang begitu cepat, tetapi makna kerap tertinggal. Kita dibanjiri fakta, namun kehilangan kedalaman. Kita menyaksikan peristiwa, tetapi tidak selalu memahami apa yang sesungguhnya terjadi.
Lebih jauh, kita berada dalam lanskap baru, ketika informasi tidak lagi sepenuhnya lahir dari kerja jurnalistik, melainkan juga dari algoritma, sintesis media sosial, dan generative artificial intelligence. Di ruang ini, batas antara fakta dan fabrikasi menjadi kabur. Publik tidak hanya menghadapi banjir informasi, tetapi juga krisis kepercayaan.
Di tengah situasi itulah, SW60Plus.com hadir, bukan untuk menambah kebisingan, tetapi untuk menghadirkan kejernihan dan menjaga jurnalisme tetap berkualitas. Berbekal pengalaman panjang dalam praktik jurnalisme, meliput berbagai peristiwa besar, meliput jalannya beberapa pemerintahan, melakukan liputan lintas benua, bahkan sebagian pernah berada di dalam lingkaran penyelenggaraan negara—kami tetap kembali pada jati diri yang sama: wartawan. Karena itu, bagi kami, jurnalisme bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan.
SW60Plus.com boleh jadi unik. Ia menjadi platform bersama wartawan senior yang sudah paripurna menjalankan tugas jurnalistiknya selama puluhan tahun. Dan berasal dari pelbagai media. Namun mereka tetap terpanggil untuk menulis. Menulis demi publik dan untuk republik yang lebih baik.
Pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama (1931-2020), pernah mengatakan, “Jurnalisme adalah suara hati masyarakat.” Suara hati itu tidak boleh hilang, sekalipun zaman berubah. Semangat itu terasa dalam perjumpaan dan perdebatan para wartawan senior pendiri Serikat Wartawan Senior Indonesia—di Serang, di Cikini, hingga di Angkringan Semar di kompleks TVRI. Yang tumbuh bukan sekadar gagasan organisasi, tetapi kesadaran bersama bahwa pengalaman bukanlah akhir, melainkan tanggung jawab baru untuk tetap menjaga ruang publik yang sehat.
Seperti kerap ditekankan Mochtar Lubis (1922-2004) kebebasan pers hanya bermakna jika disertai tanggung jawab kepada publik. Tanpa itu, pers kehilangan arah dan kepercayaan. Dan seperti diingatkan Goenawan Mohamad, kebenaran dalam jurnalisme bukan sesuatu yang selesai, melainkan sesuatu yang terus dicari, dipertanyakan, dan dirawat dengan sikap kritis.
Berangkat dari kesadaran itu, kami memilih jalan yang berbeda. SW60Plus.com tidak hadir sebagai media berita harian. Kami tidak berlomba menjadi yang tercepat. Kami memilih menjadi yang lebih lambat, lebih dalam, lebih jernih, dan lebih bermakna. Di sini, kami menulis analisis, esai, dan catatan di balik peristiwa—membaca arah, mengurai kepentingan, dan menempatkan fakta dalam konteks yang utuh.
SW60Plus.com adalah ruang bagi para wartawan senior—mereka yang telah melewati berbagai zaman, mengawal peristiwa besar, menyaksikan perubahan kekuasaan, dan belajar dari pengalaman panjang di dalam maupun luar negeri. Pengalaman itu bukan sekadar rekam jejak.
Ia adalah modal intelektual dan moral. Ia adalah kemampuan membaca yang tersurat dan yang tersirat. Ia adalah keberanian untuk bersuara jernih, objektif, dan kritis dan menawarkan solusi.
Pada edisi perdana, SW60Plus.com menurunkan esai jurnalistik dari Abdullah Alamudi, Ninok Leksono, Ahmadia Thaha dan Ilham Bintang. Alamudi menulis soal pengalaman jurnalistik BBC London dan jurnalisme Indonesia. Ninok menerawang soal jurnalistik masa depan. Ninok mengutip pandangan Rolf Dobeli dalam buku Stop Reading the News – A Manifesto for A Happier, Calmer, and Wiser Life” (2020). “Jika ingin hidup lebih bahagia, lebih tenang, dan lebih arif, berhentilah baca berita,”tulis Dobeli. Adapun Ahmadie Thaha menulis politik media yang cenderung bias. Ilham menulis soal fenomena kemunculan podcaster/youtuber.
Ada juga tulisan Renvillle Almatsier berjudul “Tionghoa Indonesia, Apa Salahnya?” serta tulisan yang mengungkap kembali polemik pidato kebudayaan Mochtar Lubis, bulan April 1977 berjudul, “Manusia Indonesia.” Suryopratomo menulis soal “Jebakan Kebijakan BBM Murah.” Perang di Iran ditulis oleh Trias Kuncahyono dalam kerangka pertarungan soft power dan hard power, antara Paus Leo XIV dan Presiden Trump. Perang Iran dalam perspektif media ditulis Ahmadie Thaha.
SW60plus.com berdiri di atas prinsip: Profesional. Independen. Berintegritas. Berorientasi pada kepentingan publik dan bersemangat kenegarawanan. Kami tidak menjadi bagian dari kepentingan sempit. Kami menjaga jarak—agar tetap dapat melihat dengan jernih. Bagi kami, jurnalisme adalah bagian dari tanggung jawab kepada republik. Bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan. Anggota SWSI terikat pada kode etik dan pakta integritas SWSI.
SW60Plus.com adalah ruang di mana pengalaman berbicara, di mana akal sehat dijaga, dan di mana suara publik ditempatkan di atas kepentingan sesaat. Kami percaya, di tengah kebisingan, Indonesia tetap membutuhkan suara yang tenang, jernih, dan dapat dipercaya. Dan suara itu kami upayakan hadir di sini.
Budiman Tanuredjo
Pemimpin Redaksi
Ini baru sebuah karya jurnakistik yg sesungguhnya.. Rindu membaca... Lalu bagaimana kami bisa ikut mebukis di sini ?
Silakan pak