Esai

Meraba Takdir Marwah Nahdliyin

SW60Plus.com, 04 September 2026, 07:19 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 69x dilihat

LENGKUNG langit Tambakberas yang teduh, tempat tanah Jombang menyimpan denyut spiritual para muassis, waktu seakan melambat. Meluruh dan bersimpuh ke dalam keheningan yang magis. Di sela-sela desir angin yang menyusup di antara pilar-pilar Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Muktamar Nahdlatul Ulama melepaskan seluruh baju profannya. 


Ia tidak lagi menjadi panggung riuh rendah perdebatan. Bukan lagi pasar malam bagi kepentingan yang fana. Segala hiruk-pikuk mikrofon, kibaran bendera, dan yel-yel yang bergemuruh di luar sana, seketika menguap. Menyublim menjadi sepi yang pekat, begitu memasuki ruang ndalem tempat sembilan pasang mata batin berkumpul dalam majelis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA)—arti harfiahnya “orang yang mengikat dan melepaskan.”


Mereka adalah para penjaga kompas spiritual. Dalam tradisi fikih politik, mereka adalah dewan perwakilan atau majelis syura yang mewakili suara dan kemaslahatan masyarakat. Mereka merupakan sekumpulan jiwa pilihan yang tak hendak memikul syahwat kekuasaan. Tapi memanggul beratnya amanah jutaan umat yang bertumpu pada satu nama di pucuk organisasi kaum nahdliyin: Rais Am. 


Ruangan itu dikepung ketukan lirih butir-butir tasbih yang berputar tiada henti di ujung jemari yang menua. Untaian shalawat mengalir lirih, terus-menerus. Keluar dari bibir-bibir yang basah oleh zikir, lalu menjelma menjadi jembatan gaib yang menghubungkan hati mereka dengan Sang Nabi. Sembilan ulama sepuh yang duduk melingkar, memandang keheningan majelis dengan tatapan penuh takzim. 


Di poros lingkaran itu hadir KH Nurul Huda Djazuli, 80 tahun, dari Ploso, Kediri, Jawa Timur, sang maestro penjaga lentera tarekat belajar-mengajar. Hati Gus Da dilingkupi rasa rikuh yang mendalam. Ia merasakan betapa berat menjadi tempat bersandar bagi warga nahdliyin yang bertebaran dari Sabang sampai Merauke. Duduk di majelis ini baginya bukanlah maqam kemuliaan, tapi ujian ketulusan batin-- yang jalurnya teramat terjal dan licin.


Di sampingnya duduk dengan khidmat ulama kharismatik dari serambi Mekah, Teungku KH Nuruzzahri Yahya. Waled NU, begitu beliau disapa dengan penuh cinta, membawa ketenangan samudera Aceh yang dalam dan luas ke ruang musyawarah di tanah Jawa.

Sorot mata ulama berusia 75 tahun ini mencerminkan rasa kepasrahan yang mutlak.
Keheningan itu diperkuat kehadiran kiai ahli fikih legendaris asal Situbondo, Jawa Timur, KH Afifuddin Muhajir. Kiai berusia 71 tahun ini dikenal sebagai sosok yang nalar hukumnya tajam, namun ruhaninya selembut sutra. Di dekatnya, duduk sang petahana yang selama ini memikul beratnya amanah spiritual organisasi, KH Miftachul Akhyar. 
Lembaran kertas kosong berwarna putih diletakkan di hadapan mereka. Mereka berembug, bermusyawarah memilih pemimpin. Jemari para kiai itu bergetar, bukan karena lemahnya fisik digerogoti usia. Tapi lantaran mereka tahu bahwa tulisan tangan yang mereka goreskan akan dipertaruhkan di hadapan mahkamah Ilahi. 
Pikiran mereka melayang jauh menembus dinding fisik pesantren. Melompati sekat-sekat zaman, menemui ruh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri yang seolah hadir, duduk melingkar bersama mereka. Ketiga muassis utama ini mengawasi dengan tatapan mata batin yang teduh.


Ada rasa saling melempar hormat yang menggetarkan jiwa di antara pilar spiritual itu. Adab yang harganya sangat mahal. KH Anwar Manshur, 88 tahun, dari Lirboyo dan KH Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI Pusat berusia 76 tahun itu saling bertukar pandang dalam dialog batin. Kedua kiai dari Kediri itu tak berambisi, dan tak ingin mendominasi pendapat. 


Masing-masing masyayikh, guru pesantren dan kiai sepuh itu, merasa dirinya paling tidak layak memegang kendali penentu. Apalagi sampai berpikir agar dipilih. Sifat zuhud merayap halus di sela-sela lantai dan dinding ruangan. Mereka lebih mengedepankan saudaranya, ketimbang suara sendiri. 


Begitu pun dengan Prof Dr KH Said Aqil Siroj. Mantan Ketua Umum PBNU dari Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat berusia 73 tahun ini membawa kedalaman sanad keilmuan. Dr KH Baharuddin HS, 78, dari Makassar, Sulawesi Selatan membawa ketulusan doa dari timur Nusantara. Adalagi Dr KH Abun Bunyamin, 72, dari Purwakarta, Jawa Barat yang menggenapi harmoni tanah Pasundan. 


Seluruh batas geografis meluruh menjadi debu. Mereka membuang jauh segala bisikan tim sukses yang berisik. Melupakan ego sektoral, lalu menenggelamkan diri ke dalam maqam kepasrahan mutlak kepada kehendak langit. Mereka sadar bahwa di atas kertas-kertas itu takdir organisasi sedang dijemput.
Keheningan yang magis itu sesekali pecah oleh genangan air mata. Merebak di pelupuk mata kiai sepuh, lalu jatuh perlahan membasahi surban mereka. Di tengah malam yang kian larut, saat jam dinding berdetak seolah menghitung sisa waktu kepasrahan, angin Tambakberas membawa aroma dedaunan mangga yang dibasahi embun dan doa para santri yang berjaga di luar gedung. 


Suasana kebatinan mencapai puncaknya ketika kertas-kertas penentu itu tak lagi dipandang sebagai alat politik. Melainkan sebagai cermin yang memantulkan kebersihan hati. Mereka membaca isyarah gaib melalui mata hati yang jernih. Meraba takdir mana yang paling mampu menyelamatkan marwah ulama dari fitnah akhir zaman. 


Nama-nama mulai mengerucut. Mufakat mulai menampakkan hilalnya di ufuk batin majelis. Namun, suasana tidak lantas berubah menjadi lega atau penuh sorak-sorai kemenangan. Justru sebaliknya, kesunyian terasa semakin mencekam. Seolah-olah seluruh alam semesta sedang menahan nafas. 


Ketika keputusan musyawarah mufakat bulat menetapkan KH Miftachul Akhyar, 73, kembali mengemban amanah sebagai Rais Am, tidak ada tepuk tangan. Pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya, ini justeru tertunduk lesu. Wajahnya memucat seketika. Pundaknya seolah merosot tertimpa beban raksasa yang tak kasat mata. 


Penunjukan ini bukanlah sebuah prestasi yang patut dirayakan dengan senyuman. Tapi musibah spiritual, ujian mahaberat yang harus diterima dengan kepasrahan total dan lisan yang berbisik Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Di mata seorang ulama sejati, menjadi pemimpin tertinggi bukanlah tentang naik ke puncak menara. Melainkan tentang turun ke dasar sumur untuk memikul beban derita umatnya.


Para anggota lainnya segera bergerak mendekat. Dipimpin lisan bijak KH Anwar Iskandar yang membacakan keputusan dengan suara yang bergetar menahan haru, mereka mengelilingi Kiai Miftach. Bukan dengan jabat tangan penuh euforia, tapi dengan rangkulan hangat yang sarat energi spiritual. 


Tak ada satu pun dari sembilan kiai itu yang merasa menang. Tak ada yang merasa kalah. Yang ada hanyalah rasa kebersamaan dalam memikul amanah umat. Mereka adalah personifikasi nyata dari dinding-dinding kokoh yang saling menguatkan. Sebuah bangunan ruhani yang fondasinya ditanam dengan air mata keikhlasan para wali terdahulu.


Musyawarah akhirnya ditutup bukan dengan ketukan palu yang angkuh dan teatrikal. Tapi diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin kiai paling sepuh dengan suara yang serak, terputus-putus oleh isak tangis yang tertahan. 


Doa itu bukanlah permohonan agar NU menjadi pemenang dalam percaturan politik bumi. Tapi sebuah ratapan agar Sang Khaliq senantiasa menjaga kesucian hati para pemimpinnya. Menyatukan hati seluruh warga nahdliyin dalam ikatan cinta yang tulus. Memaafkan segala kekhilafan, prasangka, serta noda yang mungkin tergores selama muktamar.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000