Merah
PERNAH memperhatikan bagaimana sebuah diskusi berubah arah?
Awalnya orang membahas gagasan. Tidak lama kemudian, yang diperdebatkan justru pakaian, wajah, gaya bicara, atau cara seseorang tersenyum. Seolah-olah kualitas sebuah pemikiran bisa diukur dari apa yang dikenakan oleh orang yang menyampaikannya.
Lucunya, cara itu sudah sangat kuno.
Ketika kita tidak mampu membantah sebuah gagasan, jalan pintas yang paling murah adalah menyerang penampilan orangnya. Tidak perlu membaca argumennya. Tidak perlu menyusun data tandingan. Cukup komentari rambutnya, bajunya, atau riasan wajahnya. Perdebatan pun bergeser ke tempat yang lebih dangkal.
Itulah yang terjadi di Portugal pada Januari 2021.
Dalam sebuah jamuan kampanye pemilihan presiden, André Ventura, pemimpin partai populis sayap kanan Chega, mengejek Marisa Matias, kandidat presiden perempuan, karena memakai lipstik merah menyala. Menurutnya, riasan itu tidak profesional, tidak pantas berada di panggung politik, bahkan memiliki konotasi seksual. Kalimat itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun, gaungnya bertahan jauh lebih lama daripada pidato politik yang disampaikan pada malam itu.
Mengapa?
Karena bagi banyak perempuan Portugal, yang sedang dihina bukan lipstik.
Yang sedang dihina adalah kebebasan perempuan untuk hadir di ruang publik tanpa harus meminta persetujuan atas tubuhnya sendiri.
Komentar Ventura juga membangkitkan ingatan kolektif yang lama terkubur.
Portugal pernah hidup di bawah rezim diktator Estado Novo yang mengatur hampir semua aspek kehidupan, termasuk bagaimana perempuan berpakaian dan berdandan. Pada masa itu, lipstik merah dianggap tidak pantas bagi "perempuan terhormat" karena diasosiasikan dengan kemaksiatan. Jadi, ketika lipstik merah kembali dipersoalkan, banyak orang merasa sejarah sedang mencoba mengetuk pintu yang seharusnya sudah terkunci rapat (Caldeira & Machado, 2023).
Lalu sesuatu yang indah terjadi.
Alih-alih menghapus lipstik merah, ribuan perempuan justru memakainya. Mereka mengunggah foto dengan tagar #VermelhoEmBelem. Dalam waktu singkat, sekitar 19.000 cuitan memenuhi Twitter Portugal dan lebih dari 18.900 unggahan membanjiri Instagram. Politisi, musisi, komedian, hingga tokoh internasional ikut memakai lipstik merah sebagai simbol solidaritas (Caldeira & Machado, 2023).
Dari kejauhan, semuanya tampak seperti kemenangan.
Media sosial dipenuhi dukungan. Foto-foto berwarna merah memenuhi lini masa. Rasanya tinggal menunggu akhir cerita yang bahagia. Bukankah setiap gerakan yang viral pada akhirnya akan menang?
Ternyata tidak.
Ketika hasil pemilu diumumkan, Marisa Matias hanya memperoleh kurang dari 4 persen suara. Sebaliknya, André Ventura justru melonjak hingga 11,9 persen. Dunia digital memenangkan percakapan. Dunia nyata memilih cerita yang berbeda (Caldeira & Machado, 2023).
Di situlah paradoks yang paling menyakitkan.
Media sosial sangat hebat dalam membuat kita merasa sedang mengubah dunia. Padahal kadang yang benar-benar berubah hanyalah foto profil dan algoritma. Jempol bergerak sangat cepat. Perubahan sosial tidak.
Ironisnya, gerakan itu perlahan mengalami nasib yang kerap dialami oleh banyak gerakan lain.
Semakin viral sebuah simbol, semakin mudah ia kehilangan makna. Lipstik merah yang semula menjadi lambang perlawanan kini berubah menjadi tren. Beberapa orang memakainya karena memahami perjuangannya. Sebagian lagi memakainya karena sedang tren. Bahkan beberapa merek kosmetik ikut memanfaatkan momentum itu untuk menjual produk. Gurrieri dan Drenten (2021) mengingatkan bahwa kapitalisme memiliki kemampuan yang nyaris ajaib: ia mampu mengubah simbol perlawanan menjadi komoditas.
Namun, menurut saya, bagian yang paling penting dari kisah ini bukanlah Portugal.
Bagian yang paling penting adalah cermin yang diam-diam sedang menghadap ke kita.
Bukankah kita juga sering melakukan hal yang sama?
Ketika seorang perempuan berbicara di ruang publik, berapa banyak komentar yang benar-benar membahas gagasannya? Berapa banyak yang justru sibuk memperdebatkan pakaiannya, wajahnya, usianya, atau cara ia berbicara? Kadang saya merasa kita ingin pemimpin yang cerdas, tetapi menilai mereka seolah sedang menjadi juri ajang pencarian bakat.
Kadang yang paling ditakuti bukan warna di bibir, melainkan keberanian di baliknya setiap hari.
Padahal sejarah tidak pernah berubah karena warna lipstik.
Sejarah berubah karena ada orang yang menolak membiarkan orang lain menentukan siapa dirinya. Sejarah berubah karena ada orang yang tetap berbicara, meskipun tahu penampilannya akan lebih banyak dibahas daripada isi pikirannya.
Mungkin setiap orang memiliki "lipstik merah"-nya sendiri.
Bagi sebagian orang, itu adalah pilihan karier yang dianggap tidak lazim. Bagi yang lain, itu adalah keberanian untuk menyampaikan pendapat yang berbeda, menolak ikut arus, atau tetap memegang prinsip ketika semua orang memilih jalan yang lebih mudah. Bentuknya boleh berbeda, tetapi tekanannya selalu sama: "Jangan terlalu berbeda kalau ingin diterima."
Masalahnya, perubahan tidak pernah lahir dari orang-orang yang selalu berusaha terlihat sama.
Perubahan lahir dari mereka yang bersedia menanggung risiko karena memilih menjadi diri mereka sendiri. Mereka tahu akan dikritik. Mereka tahu akan disalahpahami. Namun, mereka juga tahu bahwa kemajuan tidak pernah dimulai dari keberanian mengikuti kerumunan.
Karena pada akhirnya, Gerakan Lipstik Merah tidak pernah benar-benar berbicara tentang kosmetik.
Ia berbicara tentang keberanian mempertahankan martabat ketika dunia lebih sibuk mengadili penampilan daripada mendengarkan pikiran. Dan mungkin, ancaman terbesar bagi demokrasi bukanlah perbedaan pendapat.
Ancaman terbesar adalah ketika kita mulai lebih tertarik mengomentari wajah seseorang daripada menguji gagasannya.
Pada hari itu, yang kehilangan kebebasan bukan hanya orang yang dihina, melainkan seluruh masyarakat yang perlahan lupa bagaimana menghargai pikiran di atas penampilan.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar