Esai

OFFSIDE

SW60Plus.com, 20 Juli 2026, 06:54 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 68x dilihat

SPANYOL menjadi juara dunia. Indonesia juga punya juara: juara yang menganalisis pertandingan dari balik grup WhatsApp. Bedanya, yang satu mengangkat trofi, yang satu mengangkat opini.
La Roja memastikan gelar Piala Dunia FIFA 2026 setelah menaklukkan Argentina 1–0 lewat gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu (Associated Press, 2026). Selama berminggu-minggu, dunia seolah-olah lupa membicarakan hal lain selain sepak bola.
Grup WhatsApp mendadak berubah menjadi ruang untuk analisis taktik. Orang—termasuk saya—yang bulan lalu masih bertanya, "offside itu apa?" pekan ini sudah mengoreksi strategi Lionel Scaloni.
Piala Dunia memang punya kemampuan unik: membuat hampir semua orang merasa sedikit lebih paham tentang sepak bola.
Namun, di tengah semua percakapan itu, saya justru terpikirkan hal lain. Selama lebih dari dua jam, kita menikmati para pemain berlari tanpa lelah, tetapi kapan terakhir kali kita benar-benar menggerakkan tubuh sendiri?
Pertanyaan itu membawa saya pada dua nama yang mungkin tidak pernah bermain dalam satu tim, tetapi memiliki kebiasaan yang sama: Mark Zuckerberg dan Richard Branson. Keduanya memimpin perusahaan besar dengan jadwal yang sulit dibayangkan, tetapi sama-sama menganggap aktivitas fisik sebagai bagian dari kehidupan, bukan sebagai gangguan terhadap pekerjaan.
Mark Zuckerberg pernah menjelaskan bahwa ia tetap berusaha berolahraga beberapa kali setiap minggu karena hal itu membantunya menjaga kebugaran dan fokus dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin Meta (Zuckerberg, 2015). Menariknya, orang yang ikut membangun dunia digital justru memahami kapan ia perlu menjauh sejenak dari layar.
Kalau Zuckerberg mengingatkan bahwa tubuh perlu dijaga, Branson seolah menganggap tubuh adalah ruang rapat kedua. Pendiri Virgin Group itu dikenal gemar bersepeda, berenang, bermain tenis, hingga mengikuti pertandingan sepak bola amal. Ia pernah mengatakan bahwa olahraga tidak mengurangi energinya, tetapi justru memberinya energi untuk bekerja dan berpikir dengan lebih baik (Ho, 2017).
Pernyataan Branson terdengar sederhana. Namun, semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa ia sedang membalik cara pandang yang selama ini kita anggap wajar.
Banyak dari kita berkata, "Saya akan berolahraga kalau pekerjaan sudah selesai." Branson, setidaknya melalui kebiasaannya, seolah menjawab, "Justru karena pekerjaan belum selesai, saya harus berolahraga."
Perbedaannya hanya beberapa kata. Dampaknya bisa sangat besar.
Dalam psikologi kerja, ada konsep yang disebut psychological detachment. Istilah ini menggambarkan kemampuan seseorang untuk benar-benar melepaskan diri dari tekanan pekerjaan setelah waktu kerja selesai. Proses itu penting karena otak membutuhkan waktu untuk memulihkan energi setelah terus-menerus membuat keputusan dan menghadapi tuntutan pekerjaan (Sonnentag & Fritz, 2015).
Masalahnya, meninggalkan kantor ternyata lebih mudah daripada meninggalkan pekerjaan. Badan sudah di rumah.
Laptop sudah ditutup.
Pikiran belum. Pikiran masih menyusun presentasi, membalas pesan, atau memikirkan rapat esok pagi.
Aktivitas fisik sering menjadi cara alami untuk memutus lingkaran itu. Saat berlari, bermain bola, atau bersepeda, perhatian berpindah dari layar ke gerakan tubuh. Untuk beberapa saat, pikiran memperoleh ruang yang selama ini terus dipenuhi notifikasi.
Menariknya, sains ternyata berada di pihak Zuckerberg dan Branson. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan perhatian, memori kerja, dan fungsi eksekutif—kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan (Loprinzi et al., 2019). Dengan kata lain, waktu yang digunakan untuk bergerak tidak selalu mengurangi produktivitas; dalam banyak keadaan, justru membantu mengembalikannya.
Saya kemudian teringat kembali perjalanan Spanyol menuju gelar juara dunia. Publik hanya menyaksikan satu gol yang menentukan pertandingan. Namun, gol itu berdiri di atas ribuan jam latihan, pengulangan, disiplin, pemulihan, dan kebiasaan kecil yang tidak pernah masuk ke siaran televisi.
Mungkin kehidupan juga bekerja dengan cara yang sama. Kita sering mengagumi hasil yang tampak di permukaan, tetapi jarang melihat rutinitas sederhana yang membuat hasil itu mungkin terjadi.
Karena itu, kisah Zuckerberg dan Branson terasa menarik bukan karena mereka miliuner. Yang membuatnya menarik adalah kenyataan bahwa, di tengah begitu banyak tuntutan, mereka tetap menganggap tubuh sebagai aset yang perlu dirawat, bukan sekadar kendaraan untuk bekerja.
Piala Dunia 2026 telah selesai. Lampu stadion dipadamkan, para pemain pulang, dan trofi telah menemukan pemiliknya.
Sementara itu, ada pertandingan lain yang tidak disiarkan televisi dan tidak memiliki komentator. Pertandingan itu dimulai setiap pagi, ketika kita memilih apakah akan terus menunda-nunda untuk bergerak atau memberi tubuh kesempatan untuk melakukan apa yang memang dirancang untuk dilakukan.
Mungkin pertandingan itulah yang hasilnya paling menentukan.
Spanyol akhirnya mengangkat trofi dunia.
Saya hanya berharap, ketika kesuksesan akhirnya datang kepada kita nanti, tubuh kita masih cukup kuat untuk ikut merayakannya.
Besok pagi, stadion sudah kosong.
Tetapi pertandingan kita dimulai lagi. 

Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000