Optimisme yang (Harus) Realistis
DATA ekonomi Agustus 2026 memberikan gambaran menarik, tetapi juga cukup mengganggu. Di satu sisi, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Di sisi lain, sejumlah indikator mulai memperlihatkan bahwa mesin pertumbuhan kehilangan tenaga.
Inflasi meningkat menjadi 3,19 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan perkiraan banyak pengaat. PMI manufaktur kembali turun ke bawah angka 50, tepatnya 49,8, yang berarti sektor manufaktur mengalami kontraksi. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) masih berada di zona ekspansi pada level 52,30, tetapi turun dari 53,10 pada Juli.
Pesannya jelas: industri belum berhenti bergerak, tetapi lajunya melambat.
Kita juga mencatat laporan Bank Indonesia (BI) mengenai defisit transaksi berjalan (current account deficit) yang mencapai US$12,5 miliar dolar atau setara 3,3% dari produk domestik bruto (PDB), melebar dibandingkan defisit pada kuartal sebelumnya sebesar US$3,6 miliar atau setara 1% dari PDB. Angka defisit yang sangat besar.
Di tengah data seperti itu pemerintah tetap meminta kita melihat sisi positifnya. Optimisme dunia usaha membaik. Pesanan baru mulai meningkat. Prospek ekonomi disebut cukup cerah. Tampaknya kita telah menemukan instrumen kebijakan ekonomi yang paling murah: optimisme.
Baiklah, tapi optimisme tidak membuat kenyang warga yang kekurangan makan. Tidak menyegarkan orang yang kehausan. Tidak mencerahkan orang-orang yang ingin peduli terhadap dinamika negeri ini.
Soal kenaikan harga yang mendorong inflasi tetap menjadi masalah bagi rumah tangga yang sebagian besar pendapatannya habis untuk membeli beras, daging ayam, cabai, dan ikan. Inflasi tiga persen dapat terasa jauh lebih besar daripada angka resminya. Kenaikan harga pangan memaksa mereka mengalokasikan lebih banyak pendapatan untuk kebutuhan pokok.
Akibatnya, ruang untuk membeli pakaian, alas kaki, elektronik, atau barang dan jasa lainnya menjadi semakin sempit. Karena itu, inflasi pangan bukan sekadar persoalan harga. Ia dapat berubah menjadi persoalan daya beli, lalu persoalan permintaan, dan akhirnya persoalan pertumbuhan ekonomi.
Tekanan itu tampaknya mulai terlihat pada sektor manufaktur. PMI berada pada level 49,8. Memang hanya 0,2 poin di bawah ambang ekspansi. Tetapi sedikit di bawah angka 50 tetap berarti kontraksi.
Kalau seseorang tenggelam lima sentimeter di bawah permukaan air, kita tidak dapat menenangkannya dengan mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah sangat dekat dengan udara.
Dunia industri kini berada dalam posisi yang serba tanggung. IKI masih menunjukkan ekspansi, tetapi momentumnya melambat. Pasar domestik melambat. Pasar ekspor pun melambat. Dunia usaha berada dalam posisi wait and see.
Terjemahan paling jujurnya sederhana: mereka belum menyerah, tetapi belum berani bertaruh.
Dalam kondisi seperti ini, optimisme memang diperlukan. Tetapi optimisme tidak boleh menggantikan kebijakan. Pengusaha tidak membeli mesin dengan optimisme. Mereka membeli mesin karena ada pesanan. Mereka tidak menambah pekerja karena pidato tentang masa depan yang cerah. Mereka menambah pekerja ketika produksi dan permintaan meningkat.
Industri membutuhkan pasar. Dunia usaha membutuhkan kepastian. Perekonomian membutuhkan daya beli.
Di sinilah pemerintah harus berhenti sekadar mengelola persepsi dan mulai mempercepat tindakan. Waktu untuk mengejar pertumbuhan Triwulan III semakin pendek.
Kita memang tidak memerlukan pesimisme. Tetapi Indonesia juga tidak boleh mabuk oleh optimisme. Yang dibutuhkan adalah optimisme yang realistis: berani mengakui ketika pertumbuhan mulai kehilangan tenaga, memahami sumber masalahnya, lalu bertindak sebelum perlambatan menjadi lebih dalam.
Ekonomi Indonesia masih memiliki alasan untuk optimistis. Industri masih tumbuh. Banyak subsektor masih berada di zona ekspansi. Ekspor mulai menunjukkan perbaikan. Stabilitas makroekonomi belum terganggu secara serius.
Namun kita tidak boleh terlena. Yang harus dikejar sekarang bukan narasi optimisme, melainkan kecepatan eksekusi. Sebab ekonomi tidak tumbuh karena pemerintah mengatakan semuanya baik-baik saja. Ekonomi tumbuh karena rakyat memiliki daya beli, industri memperoleh pesanan, pengusaha berani berinvestasi, dan kebijakan benar-benar bekerja.
Optimisme memang penting. Tetapi optimisme yang paling berguna adalah optimisme yang berani melihat kenyataan. Sebab optimisme yang menolak melihat masalah bukan optimisme. Ia hanyalah penyangkalan yang sedang tersenyum. *
Analisa ekonomi sdr Bandjar Chaeruddin cukup tajam ketika membedah ekonomi Indohesia.Dari data yg ditampilkan -terutama dara makro- memang ada alasan untuk optimistis.Yang sesungguhnya mengkhawatirkan justru data data mikro seperti KDMP atau Danantara atau MBG yang menyerap dana begitu besar.Kebijakan ekonomi tadi bukanlah kebijakan biasa.Tapi luar biasa.Itu adalah lompatan harimau.Sesunggunya lompatan tadi 'mengerikan' dan terkesan sembrono.*