Orang Berkarakter dalam Lingkaran Kekuasaan
Mengamati perjalanan kehidupan bangsa, khususnya dalam penyelenggaraan pemerintahan dan berbagai kelembagaan, saya sering menjumpai kenyataan bahwa tidak selalu mudah bagi orang-orang yang dikenal jujur, berintegritas, dan profesional untuk memperoleh ruang yang memadai dalam proses pengambilan keputusan. Kalaupun kemudian mereka diberi kepercayaan mengemban amanah, tidak jarang mereka menghadapi berbagai tantangan, tekanan, atau bahkan harus meninggalkan posisinya karena tetap berpegang teguh pada prinsip yang diyakininya.
Fenomena itulah yang mendorong saya bertanya, apakah karakter masih memiliki tempat dalam lingkaran kekuasaan? Pertanyaan itu mengantarkan saya kembali membuka khazanah kearifan pewayangan Jawa melalui lakon Gandamana Luweng. Ternyata, lakon carangan yang digubah pujangga pewayangan tersebut menghadirkan refleksi yang tetap relevan bagi kehidupan berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara hingga hari ini.
Gandamana dikenal sebagai Patih Hastina pada masa pemerintahan Prabu Pandu Dewanata, ketika Pandawa dan Kurawa masih remaja. Ia digambarkan sebagai seorang patih yang berkarakter karena kesetiaannya kepada negara, kejujurannya, keberaniannya, serta komitmennya mengutamakan kepentingan kerajaan di atas kepentingan pribadi. Ia dihormati bukan semata-mata karena kedudukannya sebagai patih, melainkan karena integritas dan keteladanan yang dimilikinya.
Namun, menurut sanggit para dalang, justru karakter itulah yang menjadikannya penghalang bagi pihak yang ingin mengendalikan kekuasaan demi kepentingan sendiri. Melalui tipu daya dan intrik, Gandamana difitnah sebagai pengkhianat, dijebak, lalu terperosok ke dalam luweng atau lubang besar yang telah dipersiapkan Haryo Suman. Peristiwa itu bukan hanya menghancurkan dirinya secara fisik, tetapi juga berupaya meruntuhkan nama baik dan kepercayaan yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Dari rangkaian intrik itulah Haryo Suman kemudian tampil menggantikan Gandamana dan dikenal sebagai Patih Sengkuni.
Luweng atau lubang besar dalam lakon ini dapat dimaknai bukan sekadar sebuah lubang, melainkan simbol jebakan yang lahir dari fitnah, manipulasi, pembunuhan karakter (character assassination), dan berbagai rekayasa yang meruntuhkan kepercayaan terhadap seseorang.
Pola seperti ini bukan hanya terdapat dalam cerita wayang. Dalam berbagai organisasi dan pada berbagai zaman, tidak jarang seseorang kehilangan kepercayaan atau kedudukannya bukan karena kurang memiliki kemampuan, melainkan karena integritasnya dipersoalkan atau nama baiknya dirusak. Itulah sebabnya lakon Gandamana Luweng tetap terasa aktual sebagai cermin kehidupan manusia.
Saya mengawali esai ini dengan menyinggung persoalan karakter karena Gandamana merupakan representasi seorang pemimpin yang berkarakter. Lalu muncul pertanyaan, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan karakter?
Thomas Lickona, dalam bukunya Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (1991), menjelaskan bahwa karakter tidak berhenti pada pengetahuan tentang mana yang benar. Karakter menjadi utuh ketika seseorang memahami nilai-nilai moral, memiliki komitmen untuk menjunjungnya, dan secara konsisten mewujudkannya dalam tindakan nyata. Karena itu, orang yang berkarakter dikenali dari kejujurannya, tanggung jawabnya, sikap adilnya, penghormatannya kepada orang lain, kepeduliannya terhadap sesama, serta keberaniannya mempertahankan kebenaran. Semua nilai itu bermuara pada satu kata yang sangat penting, yaitu integritas.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Warren Bennis dalam On Becoming a Leader (1989). Menurutnya, sumber utama pengaruh seorang pemimpin bukanlah jabatan ataupun kekuasaan, melainkan kredibilitas. Kredibilitas tumbuh ketika karakter melahirkan kepercayaan. Jabatan memang memberikan kewenangan, tetapi hanya karakter yang membuat seseorang layak dipercaya dan diikuti.
Dalam perspektif itulah Gandamana menjadi sosok yang penting bagi Hastina. Ia bukan sekadar patih yang cakap menjalankan pemerintahan, melainkan penjaga nilai-nilai yang menjadi kompas moral kerajaan. Ketika orang-orang seperti Gandamana tidak lagi berada di sekitar pusat pengambilan keputusan, sesungguhnya yang hilang bukan hanya seorang pejabat, tetapi juga suara hati yang membantu menjaga agar kekuasaan tetap berpijak pada nilai-nilai kebenaran.
Jika kita menengok sejarah, pola seperti yang tergambar dalam lakon Gandamana Luweng juga dapat ditemukan dalam berbagai peradaban. Kemunduran Romawi Barat, melemahnya Dinasti Ming di Tiongkok, hingga surutnya kejayaan Majapahit antara lain dipengaruhi oleh konflik elite, pudarnya integritas, dan melemahnya kualitas kepemimpinan dari dalam. Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa suatu negara atau organisasi sering kali menghadapi kemunduran bukan semata-mata karena kekurangan orang-orang cerdas, melainkan karena berkurangnya kehadiran orang-orang yang mampu menjaga karakter dan integritas.
Oleh sebab itu, melahirkan pemimpin yang berkarakter tidak dapat dimulai ketika seseorang telah menduduki jabatan. Dalam kehidupan demokrasi, proses tersebut justru dimulai sejak pendidikan karakter, pembentukan integritas pribadi, dan proses memilih pemimpin yang mempertimbangkan rekam jejak, keteladanan, serta komitmennya terhadap kepentingan bersama.
Pada akhirnya, lakon Gandamana Luweng tidak mengajarkan kita untuk mencurigai setiap kekuasaan. Sebaliknya, lakon ini mengingatkan bahwa setiap kekuasaan memerlukan kehadiran orang-orang yang berani menjaga integritas, menyuarakan kebenaran, dan mengingatkan ketika arah mulai menyimpang. Di situlah karakter menemukan maknanya, bukan sebagai penghalang kekuasaan, melainkan sebagai penuntun agar kekuasaan tetap berjalan di atas rel moral dan etika.
Lakon Gandamana Luweng, dalam konteks itu, bukan hanya sebuah cerita, melainkan warisan kearifan lokal yang menjadi sumber pembelajaran tentang pentingnya karakter dalam kepemimpinan. Wayang mengajarkan bahwa organisasi, masyarakat, bahkan negara akan lebih kokoh apabila dipimpin oleh orang-orang yang menjadikan integritas sebagai fondasi kepemimpinannya.
Sebab pada akhirnya, kekuasaan mungkin dapat bertahan karena kewenangan. Namun, kekuasaan hanya akan dikenang dengan kehormatan dan meninggalkan warisan sejarah yang baik apabila dijalankan oleh orang-orang yang berkarakter.
Tulisan yg bagus sangat relevan dng situasi dan kondisi yg berlangsung saat ini dimana fitnah dan manusia2 manipulatif tumbuh subur Terus menulis dan menginspirasi ya Pak Kabul….👍👍
Ini catatan dari Prof.Dr.Sumaryoto (Rektor Universitas Indraprasta PGRI/Unindra ) Terkait dg lakon Gandamana Luweng ( sbg lakon carangan/ bukan pakem) , 2 hal yg perlu dicermati ( sbg sumber masalah) yaitu : 1. Sakuni yg tdk bermoral dan tdk beriman , tdk mempunyai rasa ke manusiaan. Semua cara dihalalkan sepanjang untuk mencapai keingin an hawa nafsunya. 2. Raja Astina yg kurang bijaksana dalam membuat keputusan, terlalu terburu, tanpa ditelusuri lbh jauh shg putusannya tdk adil.
Persoalan yg utama adalah "ketidakadaan" pendidikan karakter: khususnya bagi gen Y. Z, A, dst: belajar dr mana ttg karakter ? Itu PR besar bangsa ini kalau tdk ingin kehilangan Gandamana- Gandamana yg menjaga budaya dan martabat bangsa ini. Sdh saatnya falsafah dan cerita2 wayang dihidupkan kembali d semua jenjang pendidikan kalau kita ingin peradaban kita tetap ajeg, tidak mundur dan bahkan hancur spt yg pernah terjadi di Romawi, dan di belahan lain dunia.