Esai

Pantas

SW60Plus.com, 10 Juli 2026, 09:48 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 47x dilihat

BERPAKAIANLAH yang pantas.
Kalimat ini hampir selalu hadir dalam kelas-kelas personal branding. Seolah citra profesional dimulai dari lemari pakaian.


Padahal, persoalannya tidak pernah sesederhana memilih kemeja atau blazer.
Di balik kata pantas tersembunyi cara organisasi memandang manusia: apakah mereka harus terus diatur, atau cukup dipercaya untuk mengambil keputusan yang benar?


Pertanyaan itulah yang membawa saya pada kisah Mary Barra.
Mary Barra bukan sekadar CEO perempuan pertama di General Motors. Ia adalah pemimpin yang percaya bahwa organisasi tidak menjadi hebat karena memiliki buku aturan yang semakin tebal, melainkan karena memiliki orang-orang yang diberi kepercayaan untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab.
Keyakinan itu tidak lahir begitu saja.


Ia dibentuk oleh perjalanan panjang selama lebih dari tiga dekade di General Motors—perjalanan yang dimulai bukan dari ruang rapat, melainkan dari lantai pabrik. Bayangkan seorang gadis muda yang berdiri di antara deru mesin dan bau logam, memeriksa kap dan spatbor mobil satu per satu. Di era sekarang, mungkin ia akan dijuluki sebagai "arek pabrik". Tangannya kotor oleh debu produksi, tetapi dari sanalah ia belajar sesuatu yang kelak mengubah cara memimpinnya.


Mary memulai kariernya pada 1980 sebagai mahasiswa magang di General Motors. Ia tidak datang dengan nama besar atau jabatan bergengsi. Yang ia miliki hanyalah kesungguhan untuk menyelesaikan pekerjaan, sekecil apa pun, dengan sebaik-baiknya.


Kariernya bertumbuh perlahan. Ketika banyak orang mengejar promosi dengan berpindah-pindah perusahaan, Mary memilih bertahan. Selama lebih dari 30 tahun, ia belajar dari sistem yang sama, menghadapi tantangan yang berbeda, dan memahami organisasi itu dari dalam.


Ia pernah berpindah dari dunia teknik ke komunikasi, lalu dipercaya memimpin pabrik Detroit-Hamtramck yang tengah bermasalah. Sebagai perempuan di industri otomotif yang didominasi laki-laki, ia menghadapi keraguan dan stereotip. Namun, ia tidak menjawabnya dengan pidato. Ia memilih bekerja, mendengarkan, dan membiarkan hasil berbicara.


Salah satu momen paling menarik dalam perjalanan kariernya terjadi ketika ia dipindahkan ke divisi sumber daya manusia. Banyak yang menganggapnya sebagai langkah mundur bagi seorang insinyur. Mary justru melihat kesempatan untuk memahami inti kepemimpinan: manusia.


Di sana ia menemukan bahwa birokrasi yang berlebihan sering kali lebih sibuk mengatur daripada membangun kepercayaan.


Karena itu, ia mengambil keputusan yang tampak sederhana, tetapi sarat makna. Buku aturan berpakaian perusahaan yang tebal dipangkas menjadi hanya dua kata:
"Dress Appropriately."
Berpakaianlah yang pantas.


Bagi Mary, perubahan itu bukan tentang pakaian. Itu adalah pernyataan bahwa perusahaan memilih mempercayai kedewasaan karyawannya daripada mengendalikan setiap detail perilaku mereka.


Keputusan sederhana itu menarik perhatian CEO GM saat itu, Dan Akerson. Tak lama kemudian, Mary dipercaya menduduki posisi-posisi strategis hingga akhirnya diangkat sebagai CEO pada 2014.


Namun, jabatan tertinggi itu langsung diuji. Baru tiga minggu menjabat, ia menghadapi krisis cacat ignition switch yang menyebabkan lebih dari 120 korban jiwa dan memaksa GM menarik jutaan kendaraan.
Dalam situasi seperti itu, banyak pemimpin memilih berlindung di balik penasihat hukum atau birokrasi perusahaan. Mary melakukan sebaliknya. Ia tampil di depan publik, mengakui kegagalan perusahaan, meminta maaf, dan mengambil tanggung jawab.


Baginya, kepercayaan publik tidak dibangun oleh citra yang sempurna, melainkan oleh keberanian mengatakan kebenaran ketika situasi sedang paling buruk.
Di tengah krisis, ia tetap menyusun arah masa depan GM menuju kendaraan listrik, dengan visi yang sederhana tetapi ambisius: masa depan tanpa emisi, tanpa kecelakaan, dan tanpa kemacetan.


Melihat perjalanan Mary Barra, saya semakin yakin bahwa pelajaran terbesar dari kalimat "berpakaianlah yang pantas" bukanlah tentang pakaian.
Itu adalah tentang kepercayaan.


Personal branding memang penting. Penampilan dapat membentuk kesan pertama. Namun, reputasi yang bertahan lama tidak dibangun oleh pakaian yang dikenakan, melainkan oleh karakter yang ditunjukkan ketika tidak ada aturan yang mengawasi.
Semakin saya memikirkan kisah Mary Barra, semakin saya percaya bahwa organisasi yang hebat tidak dibangun oleh aturan yang semakin banyak, melainkan oleh manusia yang semakin dewasa.


Dan kedewasaan tidak bisa dipaksa melalui buku panduan.
Ia tumbuh dari kepercayaan, tanggung jawab, dan keberanian untuk mengambil keputusan yang benar meskipun tidak ada yang memerintahkannya.
Mungkin, itulah arti sesungguhnya dari "berpakaianlah yang pantas". Bukan tentang pakaian, melainkan tentang menjadi pribadi yang pantas dipercaya.


RUJUKAN
Hildebrand, C. A., & Stark, R. J. (2024). The life cycle of a CEO: The myths and truths of how leaders succeed. PublicAffairs.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000