Pesan Daurat Karhulta ke Dunia, Siapa Greta Thunberg?
GRETA THUNBERG aktivis lingkungan berpengaruh dan terkemuka di dunia saat ini. Pada Kamis (16/10), melalui akun Instagram @gretathunberg, aktivis asal Swedia—yang sudah tujuh kali ditangkap di berbagai negara—menulis, “DARURAT I! Silakan bagikan pesan ini dari Kalimantan Indonesia.”
Dalam akun instragam dengan pengikut 17,1 juta, Greta mengunggah video dari seorang perempuan warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang mengenakan masker respirator dan kacamata. Di belakangnya, tampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti pohon-pohon dan rumah-rumah penduduk.
Greta melanjutkan, ”Krisis kebakaran dan kabut asap masih jauh dari selesai. Meski rekaman ini tampak menakutkan, kenyataan di lapangan jauh lebih buruk daripada apa yang Anda lihat di media sosial.”
Dua juta hektar hutan, tulis Greta, telah musnah akibat kebakaran. Hewan-hewan terbakar hidup-hidup. Banyak orang sekarat dan mengalami sesak napas. Petugas pemadam kebakaran gugur dalam tugas. Sebanyak 277.075 orang harus dirawat di rumah sakit karena infeksi saluran pernapasan akut, di antaranya, 62.400 orang adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun.”
Pada bagian akhir, Greta menulis, ”Bantu kami mendukung para petugas pemadam kebakaran, membangun lebih banyak tempat perlindungan dari kabut asap untuk melindungi masyarakat—terutama anak-anak dan kelompok rentan—serta menyelamatkan hutan yang tersisa.” Unggahan Greta Thunberg hingga Selasa (20/10) ini disukai 656 ribu, diunggah ulang sebanyak 216 ribu, dan dibagikan 49,4 ribu kali.
Greta kembali mengunggah video kebakaran hutan di Kalimantan pada Selasa (20/20) pukul 14.30. Kali ini Greta mengunggah video @emmanualashinta, yang memperlihatkan kobaran api dan asap. Di unggahan ini, Greta menulis ,”Suara kita tidak boleh dihentikan. Silakan bagikan pesan ini dari Kalimantan.”
Siapa Greta Thunberg?
Usia aktivis lingkungan dan kemanusiaan asal Swedia ini, kini berusia 23 tahun. Masih sangat muda namun sangat militan. Greta sudah tujuh kali ditangkap di berbagai negara karena aksi protesnya. Tidak jarang disiksa aparat, namun Greta—yang menjadi aktivis sejak berusia 15 tahun — tak pernah menyerah.
Nama lengkapnya, Greta Tintin Eleonora Emman Thunberg, lahir pada 3 Januari 2003 di Stockholm, Swedia. Dalam kurun waktu 2023-2025, karena aksinya, Greta ditangkap di Swedia, Inggris, dan Inggris. Di Den Haag, Belanda, April 2024, Greta ditangkap ketika memimpin aksi blokade jalan tol pro-lingkungan.
Oktober 2025, Greta bersama ratusan aktivis Global Sumud Flotilla membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina. Di kawasan Laut Mediterania, kapal mereka dicegat Angkatan Laut Israel. Greta dan sejumlah aktivis ditahan di Pelabuhan Ashdod, 40 km di sebelah selatan Tel Aviv.
"Greta Thunberg dibungkus bendera Israel dan dipamerkan seperti piala," kata jurnalis Italia, Lorenzo D’Agostino kepada Kantor Berita Turki, Anadolu, Ahad (5/10/2025). Disebutkan, Greta mengalami pelecehan, penghinaan, dan perlakuan kasar di penjara Israel dan tidak menerima cukup makanan atau air.
Jurnalis Turki Ersin Celik menyaksikan Greta disiksa tentara Israel. "Mereka menyeret Greta dengan menjambak rambutnya di depan mata kami, memukulinya, dan memaksanya mencium bendera Israel," kata Ersin kepada Anadolu, Ahad (5/25).
Greta, yang lahir 3 Januari 2003 di Stockholm, Swedia, dikenal publik pada usia 15 tahun. Ini karena aksi mogok sekolah pada Agustus 2018 di depan gedung parlemen Swedia. Saat itu, menjelang pemilihan umum Swedia. Greta sendirian, ditemani papan protes yang ditulisnya, "Skolstrejk för klimatet" (Mogok Sekolah untuk Iklim).
Pelajar kelas sembilan—pendidikan tingkat dasar hingga menengah pertama— di Franska Skolan, Stockholm, melakukan aksi dipicu gelombang panas dan kebakaran hutan di Swedia, juga lambannya pemerintah dan politisi menangani krisis iklim ini.
Setiap Jumat, Greta rutin mogok, menuntut pemerintah menurunkan emisi karbon sesuai Perjanjian Paris. Awalnya, tidak ada yang peduli. Tapi Greta tidak menyerah. Jumat depan dia mogok lagi, terus begitu berbulan-bulan. Melalui sosial media, gerakan ini menyebar melintasi Swedia dan benua.
Seperti bola salju, enam bulan setelah aksi tunggal Greta, tepatnya 15 Maret 2019, untuk pertama kali gerakan mogok sekolah ini menjalar ke seluruh dunia. Melalui tagar FridaysForFuture dan #ClimateStrike, menurut BBCNews (24 May 2019), aksi ini diikuti lebih dari 1,6 juta peserta dari berbagai kota di 125 negara. Aksi kedua berlangsung pada 24 Mei 2019 di 150 negara).
Puncaknya, 20–27 September 2019. Menurut CNBC,21 September 2019, lebih 5 juta pelajar, mahasiswa, aktivis, pekerja, dan ilmuwan, berkumpul di berbagai kota dunia— di antaranya Milan, Roma, Turin, Napoli, dan Bologna, Seoul, Berlin, Bremen, Washington, New York City. Ini merupakan aksi terbesar dalam sejarah, melibatkan sekitar 5 juta orang di ribuan kota dan 185 negara.
Di Indonesia, menurut Antaranews, aksi serupa dilakukan anak-anak muda di 12 kota Indonesia, di antaranya di Jakarta, Bandung, Malang, Medan, Makassar, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Sidoarjo, Surabaya, dan Yogyakarta. Mereka menyuarakan krisis iklim.
Pengaruh Greta sangat kuat dan luas. Pada 2019 lalu, perempuan muda ini menjadi salah satu kandidat kuat peraih Nobel Perdamaian (Nobel Peace Prize) 2019. Nobel Perdamaian dianugerahi pada Abiy Ahmed Ali, Perdana Menteri Ethiopia, yang berjasa menyelesaikan konflik perbatasan yang telah berlangsung selama dua dekade.
Greta diundang menyampaikan gagasannya dalam berbagai forum internasional, di antaranya di PBB dan World Economic Forum (WEF). Majalah Time menobatkannya sebagai Time Person of the Year pada 2019.
Kebakaran Hutan
Asap kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, tidak saja disuarakan Greta Thunberg , tapi juga media-media besar dunia. Video pemberitaan asap, api yang membara, hutan yang tinggal batang pohon hangus, lalulintas berkabut, anak-anak yang teracuni, hewan-hewan meregang nyawa, juga unjuk rasa mahasiswa, sudah menyebar cepat.
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan mulai terdeteksi sejak Januari 2026 di Kalimantan Barat, kemudian meluas Agustus – Oktober 2026 ke berbagai daerah Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, termasuk merambah ke lahan gambut serta kawasan konservasi. Kebakaran hutan juga terjadi di Sumatera.
Sejak titik api terdeteksi sejak Januari 2026 , ada banyak waktu untuk meredam. Namun, itu tidak terjadi. Asap terus menyebar ke Malaysia dan Singapura. Sekolah-sekolah diliburkan. Ini mencoreng wajah Indonesia di dunia.
Kondisi ini diperparah kasus tangkap tangan 14 orang oleh KPK, terkait dugaan korupsi dana penanganan darurat bencana pada 13 Oktober 2026 di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)— yang bertugas membantu Presiden menanggulangi bencana pada tahap pra-bencana, tanggap darurat, dan pasca-bencana. Lima orang jadi tersangka. KPK menyita barang bukti miliaran rupiah.
Presiden Prabowo Subianto telah berkali-kali memimpin rapat terbatas di Istana Negara, mengevaluasi penanganan dan percepatan pemadaman karhutla lintas wilayah, di antaranya 19 Oktober 2026, 12 Oktober 2026, dan 16 September 2026.
Dalam rapat 16 September, seperti dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara (setneg.go.id), Rabu, 16 September 2026, Presiden Prabowo mendorong penguatan sanksi hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan, termasuk kemungkinan menggolongkan tindakan tersebut sebagai “terorisme ekologi”.
Jelas dan tegas. Namun, hingga hari ini kebakaran hutan belum juga berhenti, warga terdampak berbagai penyakit. Wajah Indonesia seperti asap, buram dan menyesakan. Tidak ada yang bisa memastikan kapan derita ini berakhir, juga tidak diketahui apa yang dilakukan para menteri terkait bencana? Mereka seakan sibuk dengan urusannya sendiri. Ketika rapat ditutup, mereka tepuk tangan. Kerja selesai.
Di luar ruang rapat tanpa asap, rakyat terus terdampak asap pekat. Relawan bertarung nyawa memadamkan kobaran api. Greta Thunberg bersuara: dukung para relawan memadamkan kebakaran, lindungi anak-anak yang rentan terdampak, dan selamatkan hutan yang tersisa. *
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar