Rachmat Gobel pun Masuk Politik
TIDAK ada lagi panggilan “Yang Mulia”, yang begitu tulus selalu diucapkan. Jauh sebelum saya dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura pada 2020, Rachmat Gobel selalu memanggil saya dengan sebutan “Yang Mulia.” Kalau kemudian saya benar-benar menjadi “His Excellency”, mungkin salah satunya karena ucapannya yang begitu tulus dan akhirnya menjadi sebuah doa.
Perkenalan saya dengan Rachmat Gobel terjalin sangat panjang. Dimulai ketika pada 1992 saya ditunjuk sebagai Wakil Desk Ekonomi Harian Kompas. Rachmat Gobel saat itu menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri pada masa kepemimpinan Aburizal Bakrie dan juga Ketua Umum Gabungan Perusahaan Industri Elektronika Indonesia (GABEL) karena melanjutkan perusahaan yang dirintis orangtuanya, Thayeb Mohammad Gobel dengan radio transistor “Tjawang.”
Pendidikan Jepang yang dijalan I membuat Rachmat Gobel menjadi pribadi yang sangat santun dan penuh hormat kepada siapa pun. Sikapnya yang mudah menolong orang lain membuat ia dicintai begitu banyak orang.
Pengetahuan yang luas dan sikap bekerjanya yang “get things done” membuat banyak orang merasa kagum. Apalagi kalau sudah berbicara soal industri, khususnya industri elektronika, dia merupakan orang yang sangat ahli. Kita bisa terkagum-kagum mendengar visinya bagaimana seharusnya Indonesia menjadi negara industri.
Saya selalu berpandangan, orang hebat seperti Rachmat Gobel sangatlah dibutuhkan untuk ikut memimpin Indonesia. Kalau ia dipercaya untuk menjadi Menteri Perindustrian pasti Indonesia akan mempunyai peta jalan pembangunan industri yang jelas.
Sebagai pengurus Kadin, menjelang pembentukan Kabinet pemerintahan yang baru, Rachmat Gobel selalu berinisiatif untuk membuat konsep pembangunan industri yang akan diserahkan kepada pemerintahan baru. Biasanya Ahli Ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri yang diminta menjadi Ketua Tim Panel Ahli untuk membuat acara rembuk pemikiran dan menuangkannya ke dalam buku biru untuk pemerintah.
Saya selalu diminta untuk menjadi salah satu peserta rembuk pemikiran yang dibuat Rachmat Gobel. Ia sangat terbuka kepada setiap masukan dan tidak pernah merasa benar sendiri.
Dan saya merasa senang ketika Pemerintahan Joko Widodo terbentuk dan Rachmat Gobel berada di dalamnya. Hanya sayangnya, Presiden Jokowi tidak menempatkan ia sebagai Menteri Perindustrian, tetapi menjadi Menteri Perdagangan.
Ketika pertama kali masuk kantor Kementerian di Ridwan Rais, saya diundang untuk datang. Bahkan dalam beberapa kali acara diskusi tentang kebijakan perdagangan, saya diminta untuk ikut memberikan masukan.
Bahkan ketika melakukan kunjungan ke pasar-pasar di banyak daerah, Rachmat Gobel selalu meminta saya untuk ikut mendampingi. Oleh karena itu saya bisa mengetahui langsung konsep pembangunan pasar yang disiapkan untuk membantu petani dan pedagang memasarkan hasil produknya.
Salah satu tugas yang langsung harus diemban oleh Rachmat Gobel adalah menyiapkan keikutsertaan Indonesia adalah World Expo 2015 di Milan, Italia. Setelah sukses dalam keikutsertaan di World Expo Shanghai lima tahun sebelumnya, penyelenggaraan di Milan menjadi tantangan tersendiri. Masalahnya, pemerintahan Jokowi baru terbentuk dan tidak ada persiapan yang sudah dilakukan untuk ikut serta di Milan.
Namun bukan Rachmat Gobel kalau mudah menyerah. Dengan jaringan dan kreativitas diri maupun kerelaan untuk menggunakan anggaran pribadi, Rachmat Gobel berupaya untuk melakukan yang terbaik. Namun karena waktu yang pendek dan koordinasi yang tidak begitu mulus, memang tidak mudah untuk membuat kehadiran Indonesia terlihat grande.
Artis Didi Petet yang ditunjuk Rachmat Gobel sebagai Ketua Pavilion Indonesia, sampai stress untuk menyukseskan penyelenggaraan pameran. Kesehatannya memburuk sepulangnya dari Milan dan bahkan kemudian meninggal dunia. Didi Petet adalah Ketua Koperasi Pelestari Budaya Nusantara yang menjadi penanggung jawab paviliun Indonesia.
Diberhentikan
Di tengah semangat untuk menjadikan perdagangan sebagai motor pembangunan ekonomi melalui peningkatan ekspor, terjadi reshuffle Kabinet pada 12 Agustus 2015. Rachmat Gobel menjadi salah satu dari enam Menteri yang diganti. Para menteri yang diganti ketika itu adalah Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, dan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto.
Rachmat Gobel dikenal sebagai sosok yang tidak gila jabatan. Pemahaman agamanya yang kuat membuat ia tidak terlalu mengagungkan jabatan. Bagi dirinya jabatan adalah sebuah amanah yang bisa datang dan pergi setiap saat.
Namun satu yang kemudian membuat Rachmat Gobel merasa terganggu adalah alasan pergantian yang diambil. Ia merasa “dikorbankan” karena harus ada reshuffle dan Rachmat Gobel dianggap “paling lemah” karena tidak ada dukungan partai politik.
Rachmat Gobel memang masuk ke dalam Kabinet dari jalur profesional. Orang memang lebih banyak mengenal dirinya sebagai pengusaha. Kalau pun ada kegiatan di luar pengusaha adalah kepeduliannya kepada seni dan budaya. Rachmat Gobel merupakan orang yang mempertahankan Batik Iwan Tirta setelah maestro batik itu meninggal dunia.
Keluhan itu ia sampaikan kepada saya setelah Rachmat Gobel menyerahkan jabatan kepada Thomas Kinasih Lembong. Ia pun kemudian memutuskan untuk bergabung dengan partai politik. “Mau gabung dengan partai apa,” tanya saya. “Karena almarhum ayah saya merupakan pendiri Partai Persatuan Pembangunan, saya mungkin akan bergabung di sana,” jawab Rachmat Gobel.
Sebagai Sahabat saya menyarankan untuk tidak bergabung di PPP. Alasannya, ada dualisme kepemimpinan pada saat itu di mana ada perebutan ketua umum antara Romahurmuzy dan Djan Faridz. “Kalau mau masuk partai politik mengapa tidak bergabung dengan Partai Nasional Demokrat. Pertama, mas Rachmat kan kenal dekat dan sudah dianggap saudara oleh Pak Surya Paloh. Kedua, bergabungnya mas Rachmat ke Nasdem pasti akan membuat Pak Surya senang karena mendapatkan sosok yang profesional dan prominent. Saya yakin begitu bergabung di Nasdem, Mas Rachmat bukan hanya sekadar menjadi anggota, tetapi akan dipercaya sebagai pimpinan partai,” begitu saya memberikan masukan.
Ternyata apa yang saya sampaikan dianggap masuk akal oleh Rachmat Gobel. Tidak lama kemudian ia bergabung dengan Nasdem dan langsung menjadi salah satu pengurus Dewan Pimpinan Pusat dan Ketua Tim Pemenangan Pemilihan Umum Nasdem untuk wilayah Gorontalo.
Rachmat Gobel pun bersemangat dan penuh totalitas mendukung Nasdem. Apalagi Gorontalo merupakan tanah leluhurnya sehingga masyarakat di sana begitu mendukungnya. Rachmat Gobel pun membuat kegiatan nyata bagi masyarakat Gorontalo karena ia anggap sebagai kontribusi untuk membangun Tanah Leluhur.
Waktu empat tahun hingga Pemilu 2019 lebih dari cukup bagi Rachmat Gobel untuk memperkenalkan diri dan juga Nasdem kepada masyarakat Gorontalo. Karena itu Rachmat Gobel pun dengan mudah melenggang ke Senayan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Setelah terpilih Rachmat Gobel sempat bertanya, apa kira-kira peran yang akan dijalankan di Senayan. “Saya yakin Mas Rachmat akan dipercaya Pak Surya Paloh untuk menjadi salah satu pimpinan DPR mewakili Nasdem,” jawab saya.
Rachmat Gobel sempat tidak yakin akan ditunjuk sebagai pimpinan DPR. “Percayalah, Mas Rachmat pasti akan menjadi salah satu pimpinan DPR. Pengalaman di eksekutif sebagai Menteri Perdagangan membuat Mas Rachmat punya kemampuan untuk menjadi partner seimbang bagi pemerintah. Nasdem ingin memainkan peran itu,” kata saya mencoba meyakinkan.
Terbukti ucapan saya benar dan Rachmat Gobel bukan hanya masuk partai politik, tetapi menjadi pemain utama di partai politik. “Saya bangga juga menjadi anggota dan pimpinan DPR. Posisi saya sekarang sejajar dengan Presiden dan tidak mungkin lagi dipecat secara tiba-tiba oleh Presiden,” kata Rachmat Gobel setengah bergurau.
Rachmat Gobel sempat berharap saya mau membantu dirinya sebagai tenaga ahli di DPR. Namun saya menyampaikan, tidak bisa memenuhi permintaannya karena sebagai wartawan saya tidak boleh bersikap partisan.
Ia pun menghormati putusan saya. Bahkan Rachmat Gobel menyampaikan selamat ketika kemudian Pak Surya Paloh mengajukan nama saya kepada Presiden Jokowi sebagai calon Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura.
Tidak sempat
Rachmat Gobel merupakan sosok yang selalu all-out untuk membantu sahabat. Ketika Tantowi Yahya ditunjuk sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru, ia mengajak beberapa pimpinan redaksi untuk berkunjung ke Wellington.
Kalau Tantowi Yahya sedang ada tugas ke Jakarta, Rachmat Gobel pasti mengundang saya untuk menjamu artis yang menjadi Duta Besar itu makan malam. Ciri khas dari Rachmat Gobel, ia selalu memberikan jamuan yang terbaik kepada sahabatnya.
Pernah menjelang Peringatan 60 Tahun PT Transistor Radio Manufacturing pada 2014, Rachmat Gobel mengundang saya sebagai host “Economic Challenges” untuk membuat Special Report mengenai perusahaan yang dibangun almarhum ayahnya. Liputan tidak hanya di lokasi kantor di Cawang, Jakarta Timur, tetapi juga ke markas Panasonic di Osaka, Jepang.
Ketika saya menjadi Duta Besar di Singapura, Rachmat Gobel berjanji untuk menengok saya. Namun karena ada pandemi covid-19, ia tidak pernah bisa mengunjungi saya dan karena kesibukannya sebagai pimpinan DPR, Rachmat Gobel tidak pun sempat untuk menengok saya.
Satu hari di Juni, saya sempat bertemu orang di Grand Hyatt dan ketika hendak pulang, dari eskalator saya melihat sosok Rachmat Gobel yang sedang menunggu mobilnya. Dari belakang saya langsung memeluknya dan karena badannya yang besar ia tidak bisa melihat saya di belakang.
“Oh Mas Tommy. Sudah pulang dari Singapura?” tanya Rachmat Gobel dengan kehangatannya seperti biasa.
Saya sempat ngobrol sebentar karena mobil yang menjemput sudah terlanjur datang. Rachmat Gobel pun mengajak untuk bertemu dan ngobrol-ngobrol. Ternyata rencana pertemuan itu tidak pernah terjadi, karena 10 Juli 2026, secara tiba-tiba Rachmat Gobel meninggal dunia. Saya sungguh kaget dan terpukul karena orang yang baik itu, yang setiap Ramadhan menggelar buka puasa dan taraweh bersama masyarakat Gorontalo di Jakarta, telah berpulang ke haribaan-Nya.
Jumat pagi saya bergegas ke rumah duka di Jl Prof Supomo. Saya pun berpelukan dengan Taty Gobel, kakak Rachmat dan istrinya, Retno Damayanti dengan kesedihan yang luar biasa. “Maafkan kesalahan mas Rachmat,” ujar sang istri yang belum hilang rasa kagetnya ketika sang suami meninggal pukul 03.20 WIB saat sedang tidur.
Selamat jalan Yang Mulia…
tzhrhvsohdxqzgyvezvgzzdmrqknuj
jgkgtvxzoktyzfjywupuixqnjltztx