Pak Harto di Berteschgaden 1970: Saya tidak akan Percayakan Kepengurusan Negara kepada Politikus
ALPEN adalah gugus pegunungan (dengan sejumlah ngarai dan puncak) yang membagi kaki dan punggungnya ke delapan negara: Jerman, Perancis, Italia, Swiss, Austria, Slovenia, Liechtenstein, Monaco. Saya pertama kali menikmati tamasya Alpen saat ke Inzell dan ke Berteschgaden, Bavaria, Agustus 1972 (menjelang pembukaan Olimpiade XX Munchen).
Tempat ini memberi saya dua cerita. Pertama tentang teman bernama Uribe Navarrette, seorang jurnalis Chile yang menjadi anggota staf jurubicara Presiden Salvador Allende. Ia kabur ke Mexico setelah presidennya dikudeta. Dan kedua, tentang pertemuan Presiden Soeharto dengan pemuda pemuda pintar Indonesia yang ada di Eropa. Presiden mengajak mereka pulang untuk membantunya menyukseskan pembangunan Indonesia.
Perjalanan ke Inzell dan Berteschgaden Agustus 1972 itu adalah bagian dari rangkaian kunjungan rombongan jurnalis antarbangsa ke Hamburg, Stuttgart, Frankfurt, Koeln, Bonn, Munchen. Kami adalah peserta pelatihan di International Institute for Journalism di Berlin (masih Berlin Barat). Direktur pelaksana institut ini adalah jurnalis senior Robert Lochner yang kesohor karena mengajari Presiden Kennedy mengucapkan “Ich bin ein Berliner” terdengar lebih “garang” untuk pidatonya di balkon balaikota Berlin 26 Juni 1963. Perang Dingin membuat kota itu terbagi dua, disekat tembok tinggi kekar yang dibangun 1961. Berlin menjadi “einer Berlin” November 1989 setelah tembok itu diruntuhkan disusul dengan berakhirnya Perang Dingin. Kota Berlin kembali menyatu dan kembali menjadi ibukota negara Jerman yang satu.
Uribe: Jakarta, Jakarta
Foto diatas adalah ketika kami naik kereta tambang di pertambangan garam Salzbergwerk Berteschgaden. Mengenakan jubah dan penutup kepala (yang merupakan keharusan), menelusuri lorong lorong pertambangan garam gunung yang ratusan tahun silam adalah komoditi mahal dengan julukan “emas putih”. Di foto ini, saya (masih 28 tahun) melambaikan tangan. Orang di depan saya adalah Uribe Navarrette dari Chile. Dia adalah salah satu jurubicara Presiden Salvador Allende, sekaligus lawan bermain pingpong sang presiden yang beraliran sosialis.
Ketika pertama kali berkenalan dia mengacungkan tangannya sambil berseru "Jakarta, Jakarta". Saya menjawab, iya saya memang dari Jakarta. Dia bilang kata "Yakarta Vinie" (Jakarta akan tiba) menggila di Santiago (de Chile). Presidennya dimusuhi oleh orang orang kanan. Amerika tidak suka karena Allende dianggap sebagai marxist yang berbahaya yang bisa menyebarkan pengaruhnya di Amerika Latin. Che Geuvara dihabisi dengan susah payah. Kuba yang Marxist sudah lebih dari cukup.
Allende memenangkan pemilu yang demokratis melalui partainya, Partai Sosialis. Bagi Amerika sosialisme kerakyatan yang menggunakan demokrasi/pemilu untuk berkuasa adalah ancaman serius. Tembok tembok kota ramai dengan graffiti "kerjai mereka seperti di Jakarta" (seperti Soeharto dan tentaranya yg membantai ratusan ribu orang PKI atau yang dianggap pengikutnya). Selama di Berlin saya berteman akrab dengan Don Uribe serta dengan Raul Bareiros (wartawan Argentina). Kami “tiga sekawan”.
Setahun kemudian, September 1973, kejadian Allende dikudeta oleh Jenderal Augusto Pinochet yang disponsori Amerika. Dengan "Jakarta Method" (mengikuti cara Jakarta memberantas komunis sampai ke-akarnya) membunuh, menyiksa, mengurung puluhan ribu orang. Menurut catatan media ada 200 ribu orang menyingkir dari Chile begitu Pinochet berkuasa. Uribe melarikan diri dan selamat sampai di Mexico. Di situ dia dapat kerjaan di stasiun TV.
Tidak Percayakan Negara Diurus Politikus
Saya tidak menyadari bahwa Presiden Soeharto malah sudah pernah berlibur di Berteschgaden. Pada Minggu 6 September 1970, mengakhiri acara kunjungan kenegaraannya di Jerman (Barat), beliau bersama Ibu Tien dan putri mereka, Tutut, berminggu ria dan bermalam di Gut Schubert estate (tempat ini hanya selemparan batu dari Salzbergwerk). Menikmati alam Berchtesgaden, suasana pedesaan yang asri di ketinggian pegunungan Alpen. Melihat pertanian dan peternakan, serta kesenian setempat. Malam harinya Pak Harto melakukan pertemuan dengan sejumlah mahasiswa dan pimpinan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Eropa Barat.
Saya mendapat cerita tentang pertemuan presiden dengan mahasiswa ini dari Daoed Joesoef. “Tidak ada acara resmi hari itu, Pak Harto bersama Ibu Tien dan putrinya Tutut Hardiyanti mengisi acara bebasnya”, tuturnya. Pak Harto melakukan pertemuan dengan sejumlah pimpinan PPI Eropa Barat. Ada delapan orang yang hadir, salah satunya adalah Daoed Joesoef yang adalah Ketua PPI Perancis. Saat itu dia masih mahasiswa yang sedang menyelesaikan program doktor di universitas Sorbonne.
Prof. Dr. Daoed Joesoef mengemukakan kesannya yang mendalam tentang pertemuan tersebut. Karena mereka semua diajak menginap di sana. Dan ada suatu penekanan penting yang disampaikan oleh Pak Harto. Daoed Joesoef mengutipkan kata kata Pak Harto dalam temu-wicara tersebut: “Saya tidak akan mempercayakan pengurusan negara kepada politikus. Saya lebih percaya kepada kalian yang sekarang sedang berjuang mengejar ilmu dan pengetahuan. Mereka politikus hanya bikin ribut, melempar persoalan tapi tidak bisa memecahkannya. Lalu memanggil tentara. Sehingga kami yang berperang satu sama lain”.
“Pak Harto menekankan hal ini. Dan itu konsekuen dilakukan dalam kabinetnya. Lihatlah yang diangkat jadi menteri adalah kaum teknokrat. Tidak ada menteri dari kalangan politisi”.
Memang demikian adanya, menteri dari partai politik dalam kabinet Soeharto hanyalah menteri sosial atau menteri agama dan menteri negara (tanpa portofolio). Selebihnya diisi oleh teknokrat dan tentara. Yang disebut terakhir ini kemudian toh ada yang “dikaryakan” sebagai kader partai Golkar
Daoed Joesoef menyelesaikan studinya 1971, meraih dua gelar doctor, yakni dalam Ilmu Keuangan Internasional dan Hubungan Internasional (dari Université de Paris) serta Ilmu Ekonomi (Université de Paris I, Pantheon-Sorbonne). Ia langsung pulang ke Tanah Air. Tahun 1978 ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pada Kabinet Pembangunan III ini, Dr. B.J. Habibie juga diangkat menjadi Menteri Riset merangkap Kepala BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).
Catatan: Cerita tentang Pak Harto bertemu mahasiswa di Berteschgaden ini pernah saya tulis dalam buku “Pro dan Kontra Pak Harto” terbitan Pewaris (Persaudaraan Wartawan Istana) tahun 2
Tulisan menarik dan perlu. Daoed Joesoef kemudian menjadi Menteri Pendidikan yang menerapkan gagasan Normalisasi Kehidupan Kampus alias depolitisasi kampus. Banyak aktivis jadi korban. DJ pengikut aliran "Philosopher King" (Plato) yang terbukti gagal (Uni Soviet contoh terakhir). Aliran ini sebetulnya bertentangan dengan Pancasila, terutama sila "Kedaulatan Rakyat" dan merupakan variasi lunak (awal?) dari *Fasisme*