Rem
FRANK adalah seorang insinyur brilian yang kemudian menjadi CEO sebuah perusahaan Fortune 100. Sebelum menduduki kursi tertinggi, ia terkenal karena satu kemampuan luar biasa: hampir tidak ada angka mencurigakan yang bisa lolos dari matanya.
Berikan Frank proposal investasi teknologi, dan ia akan membedahnya sampai ke tulang-belulang. Asumsi diperiksa, risiko dihitung, proyeksi diuji, dan kalau diberi waktu sedikit lebih lama, mungkin ia juga akan memeriksa apakah pembuat proposal cukup tidur malam sebelumnya.
Ketelitian itulah yang membuat Frank dihormati. Beberapa investasi buruk berhasil dihentikan, sampai orang-orang percaya ia memiliki sesuatu yang langka dalam bisnis: rem yang sangat bagus.
Lalu Frank menjadi CEO. Dan rem yang menyelamatkan kariernya mulai menghancurkan perusahaannya.
Di kursi barunya, Frank membawa keyakinan lama: semakin banyak data, semakin kecil kemungkinan salah. Maka ketika ketidakpastian muncul, responsnya sederhana: jangan bergerak sebelum benar-benar yakin.
Kedengarannya bijaksana. Sampai kita menyadari bahwa dalam bisnis, menunggu juga sebuah keputusan—dan sering kali keputusan yang paling mahal.
Setiap kali tim membawa proposal baru, Frank meminta studi tambahan. Setelah studi datang simulasi, lalu pengujian pasar, analisis risiko, dan tentu saja satu rapat lagi untuk menentukan apakah mereka membutuhkan rapat berikutnya.
Perlahan budaya perusahaan berubah. Orang-orang yang direkrut untuk menciptakan masa depan justru sibuk membuktikan kepada Frank bahwa masa depan tidak berbahaya.
Kalender penuh, laporan menumpuk, kopi mengalir deras—semua orang sibuk, tetapi perusahaan hampir tidak bergerak. Mereka begitu takut mengambil keputusan yang salah sampai kehilangan kesempatan untuk mengambil keputusan yang benar.
Di sinilah paradoks Frank menjadi kejam. Ia ingin menghilangkan risiko, tetapi usaha menghilangkan risiko justru menjadi risiko terbesar.
Perusahaannya seperti Ferrari yang setiap pagi dicuci, tekanan bannya diperiksa, mesinnya dipanaskan, lalu sore hari dimasukkan kembali ke garasi karena jalan raya dianggap terlalu berbahaya. Ferrarinya sempurna; sayangnya, Toyota tetangga sudah sampai kota sebelah.
David L. Dotlich dan Peter C. Cairo dalam Why CEOs Fail menjelaskan bahwa karakter yang membawa seorang eksekutif menuju kesuksesan dapat berubah menjadi derailer ketika digunakan berlebihan. Di bawah tekanan, kita justru cenderung menggenggam semakin erat perilaku yang dahulu membuat kita berhasil.
Orang agresif menjadi semakin agresif, perfeksionis semakin sulit puas, dan orang berhati-hati mulai melihat jurang di jalan yang sebenarnya cuma punya polisi tidur. Kita tidak selalu dihancurkan oleh kelemahan; terkadang kita dihancurkan oleh kekuatan yang melewati dosisnya.
Bagi Frank, kekuatan itu adalah analisis. Semakin tidak pasti keadaan, semakin banyak data yang ia tuntut.
Masalahnya, bisnis tidak pernah menyediakan kepastian seratus persen. Bahkan laporan setebal bantal hotel bintang lima tidak mampu memastikan apa yang dilakukan pelanggan enam bulan kemudian.
Ketika Takut Salah Membuat Kita Benar-Benar Salah
Pada titik tertentu, tambahan informasi tidak lagi meningkatkan kualitas keputusan. Ia hanya mengurangi kecemasan orang yang harus mengambil keputusan.
Kita menyebutnya analysis paralysis. Dan kadang-kadang kalimat “kita membutuhkan lebih banyak data” hanyalah cara yang mahal dan intelektual untuk mengatakan: “Saya takut salah.”
Sementara Frank menganalisis, pesaing bergerak. Mereka meluncurkan produk, memasuki pasar baru, dan merebut pelanggan yang tidak punya kewajiban moral menunggu rapat direksi Frank selesai.
Frank mengira ia sedang membeli kepastian. Padahal yang ia bayar adalah momentum.
Talenta terbaik mulai frustrasi, pertumbuhan melambat, dan perusahaan yang dahulu ditakuti mulai terlihat seperti dinosaurus yang sedang rapat untuk memastikan apakah asteroid benar-benar akan datang. Akhirnya dewan direksi melakukan sesuatu yang semakin sulit dilakukan Frank: mereka mengambil keputusan.
Frank dipensiunkan. Tidak lama kemudian, perusahaan masuk ke dalam merger hingga kehilangan kemandiriannya.
Ironinya nyaris sempurna. Frank menghabiskan kariernya melindungi perusahaan dari keputusan yang salah, tetapi keputusan termahal ternyata adalah keputusan yang tidak dibuat tepat waktu.
Pelajarannya bukan membuang data, menutup Excel, lalu mengambil keputusan berdasarkan zodiak. Kehati-hatian tetap penting, tetapi pemimpin sering menghitung mahalnya sebuah kesalahan sambil lupa menghitung harga kesempatan yang dibiarkan lewat.
Tetapkan tenggat keputusan, sepakati kapan informasi dianggap cukup, dan bedakan keputusan yang sulit dibalik dari keputusan yang masih bisa diperbaiki sambil berjalan. Tujuan analisis bukan menghilangkan ketidakpastian, melainkan membuat kita cukup siap untuk bertindak di tengah ketidakpastian.
Sekarang pikirkan satu keputusan yang terlalu lama berada di meja Anda. Lalu tanyakan sesuatu yang lebih mengganggu: mana yang lebih berisiko—bergerak dan mungkin salah, atau menunggu sampai kesempatan itu tidak lagi ada?
Sebab ketakutan di dunia profesional jarang masuk ke ruang rapat sambil berkata, “Halo, saya takut.” Ia jauh lebih pintar.
Ia memakai jas rapi, membuka spreadsheet, menampilkan grafik indah, lalu berkata dengan suara paling rasional: “Bagaimana kalau kita analisis sekali lagi?”
Lalu tiga bulan berlalu. Pasar berubah, kompetitor bergerak, dan kesempatan yang dahulu berdiri di depan pintu sekarang sudah minum kopi di kantor pesaing.
Mungkin itulah bagian paling menghantui dari kisah Frank. Mesin perusahaannya tidak pernah rusak, bahan bakarnya tidak pernah habis, bahkan remnya bekerja dengan sempurna.
Terlalu sempurna.
Sebab terkadang kecelakaan terbesar dalam karier bukan terjadi karena kita gagal menginjak rem. Ia terjadi karena kita tidak pernah berani melepaskannya.
Edhy Aruman
*JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
RUJUKAN
Dotlich, D. L., & Cairo, P. C. (2003). Why CEOs fail: The 11 behaviors that can derail your climb to the top—and how to manage them. Jossey-Bass.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar