Risalah Maulid Gubahan Kiai Wardan
AROMA minyak misik yang pekat bercampur wangi kemenyan yang tipis mengharumkan malam-malam Sekaten di Kauman, pada paruh kedua abad kedua puluh. Alun-Alun Utara belum sepadat hari ini, namun ketegangannya sudah terasa. Ruang transisi mistisisme Jawa dan puritanisme Islam bertemu di bawah temaram lampu petromaks.
Mari kita bayangkan pelataran Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Utamanya pada malam Miyos Gangsa, ketika Kiai Haji Muhammad Wardan Diponingrat masih menghela nafas di sana. Langit pertengahan bulan Mulud biasanya pekat. Dua paviliun kecil yang disebut Pagongan—satu di sisi utara dan satu di selatan gerbang masjid—berubah menjadi episentrum magis.
Di dalam sana, para abdi dalem wiyaga berpakaian peranakan duduk bersila menghadapi Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga. Ketika gending Rambu dan Rangkung pertama kali ditabuh, suaranya yang berat, lambat, dan berwibawa menyapu atap-atap sirap Kauman. Merambat hingga ke gang-gang sempit tempat para santri sedang mendaras kitab.
Ada keriuhan pasar malam rakyat. Ada barisan lapak bambu yang menjual sego gurih dengan suwiran ayam dan kedelai hitam yang disajikan di atas tekor daun pisang. Orang-orang tua dari pelosok Bantul dan Gunungkidul duduk di selasar masjid sambil mengunyah kinang—racikan sirih, gambir, dan bunga kantil. Kinang dipercaya membawa berkah awet muda jika dikunyah tepat saat gamelan Sekaten berbunyi.
Bocah-bocah berebut membeli endhog abang (telur merah) yang ditusuk bambu dan dihiasi kertas warna-warni--simbol kesuburan sekaligus kelahiran yang suci.
Sungguh merupakan keindahan sejati malam Sekaten saat itu. Ada ketegangan ideologis yang berhasil diredam secara anggun. Bayangkan, Kauman adalah jantung Muhammadiyah, benteng gerakan pemurnian agama yang antipati terhadap takhayul, bid’ah dan khurafat. Di seberangnya berdiri keraton dengan segala ritus spiritualnya.
Di sinilah peran Kiai Wardan menjadi penengah yang sunyi. Tengoklah pada malam-malam menjelang puncak Garebeg, ketika alunan gamelan diredam sejenak karena waktu salat tiba. Ia memastikan transisi dari bunyi gending menuju kumandang azan berjalan tanpa riak.
Malam puncak Sekaten ditandai dengan pembacaan Risalah Maulid. Ketika Sultan atau Utusan Dalem hadir di Masjid Gedhe, Kiai Wardan duduk takzim sebagai Penghulu Keraton. Teks puji-pujian yang ia susun disuarakan, mengalun di antara tiang-tiang jati masjid.
Sekaten bukan lagi sekadar hiburan rakyat atau pameran pusaka feodal. Di bawah asuhan spiritual Kiai Wardan, menjelma menjadi sebuah ruang zikir kebudayaan yang agung. Momen pendek tatkala syariat yang tegas dan hakikat Jawa yang lembut bersanding. Dua unsur ini larut dalam kerinduan yang sama kepada sang Nabi.
Kanjeng Raden Tumenggung Kiai Haji Muhammad Wardan Diponingrat (1911–1991) adalah jembatan sunyi antara puritanisme Muhammadiyah dan keanggunan mistik Keraton Yogyakarta. Sebagai Ketua Majelis Tarjih terlama (selama 22 tahun dan berakhir di Muktamar ke 41 di Surakarta pada 1985), sekaligus penghulu keraton, ia menulis risalah Maulid dan syair Sekaten yang menyatukan nalar falak dengan kidung cinta Rasul, tanpa kehilangan arah iman.
Ada riuh yang tak pernah gaduh manakala kita membayangkan Kiai Wardan berjalan melintasi batas-batas tipis di Serambi Kauman. Di satu sisi, ia adalah anak kandung dari pencerahan yang rasional. Ia memegang erat kepastian angka, melacak gerak rembulan di langit malam dengan ketepatan ilmu falak yang nyaris tanpa cela demi memandu langkah hisab hakiki wujudul hilal.
Namun, di bawah jubah keulamaan modernisnya, ia juga seorang abdi dalem yang duduk bersila di Kepengulon Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mengenakan blangkon dan surjan, merawat keanggunan tradisi Jawa yang telah berurat-akar di tanah Mataram. Bagaimana pola pikir kita yang tersekat memahami keindahan persilangan ini?
Gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga yang bertalu-talu menyambut Sekaten bukanlah sebentuk berhala yang harus dicurigai. Tapi sebuah instrumen kebudayaan untuk memanggil nurani manusia agar mendekat pada kemuliaan kelahiran sang Nabi. Kiai Wardan tak pernah melihat seni dan budaya sebagai ancaman bagi iman. Melainkan sebagai rahim yang ramah bagi agama.
Di sinilah letak paradoksnya yang memikat. Kepala dingin seorang arsitek hitungan matematis langit, ternyata tak pernah sanggup membekukan kehangatan hatinya. Ketika rindu kepada nabi akhir zaman membuncah, ia meletakkan jangka falak dan mengambil pena. Lalu mengalirkan bait-bait puisi dalam sebuah risalah maulid yang sabar.
Puji-pujian itu meluncur bukan sebagai dogma teologis yang menuntut ketakutan. Melainkan laksana desau angin sore yang menyelinap di antara pilar-pilar jati Masjid Gedhe. Teks-teks dalam Risalah Maulid Nabi Muhammad SAW karya Kiai Wardan digubah menggantikan tradisi lama yang dinilai berbaur dengan riwayat yang bersifat apokrif, yang belum teruji keabsahannya.
Risalah Maulid gubahan Kiai Wardan menjembatani hal ini. Kitab ini menjadi media alternatif yang sah secara hukum fikih Tarjih untuk mengekspresikan rasa cinta (mahabbah) kepada Rasulullah SAW. Namun tetap dengan cara yang tertib, rasional, dan jauh dari takhayul.
Risalah ditulis dengan prosa liris dan bahasa Arab yang lugas. Didominasi saduran ayat Al-Qur'an dan hadis sahih. Kitab ini menghindari hiperbola dan mitologi yang bertaburan dalam kitab maulid tradisional. Bait-baitnya berfokus pada penegasan tauhid, kronik sejarah hidup Nabi secara presisi, dan diakhiri dengan doa keselamatan. Sejak itulah, naskah yang diperdengarkan langsung kepada Sultan atau Utusan Dalem, tak lagi menggunakan Bazanji dan Ghaiti.
Syair Risalah disuarakan dengan syahdu untuk menyambut detik-detik dua belas Rabi’ul Awal. Ini membuktikan bahwa ingatan pada yang suci tidak melulu harus diukur dengan dalil-dalil hukum yang kering. Tapi perlu dirawat dengan kehalusan irama. Kita diingatkan bahwa kebenaran yang agung sering kali membutuhkan keindahan agar tidak menjelma menjadi sebilah pedang yang melukai.
Sajak-sajaknya berupaya keras melarutkan ketegangan antara teks Arab yang sakral dan rasa Jawa yang subtil. Tapi jangan salah, Kiai Wardan tidak sedang melakukan sinkretisme murahan. Ia sedang melakukan penerjemahan cinta, tatkala asma sang Nabi tak lagi terasa asing bagi telinga penabuh gamelan. Gending tak lagi terdengar berdosa di telinga para pencari sunnah.
Kiai Wardan menolak pemagaran diri dengan kotak-kotak identitas yang sempit. Modernitas dan tradisionalitas bukan tak bisa dipersandingkan. Baginya, menjadi modernis tak berarti harus menjadi asing dan tercerabut dari pekarangan rumah sendiri. Menjadi pengamal sunnah tak menuntut seseorang menebang akar budaya leluhurnya.
Ijtihad hukum yang ia rumuskan selama memimpin Majelis Tarjih, selalu berjalan seiring dengan kearifan lokal yang luhur. Ikhtiar ini membuktikan bahwa Islam di Nusantara mampu bertahan melintasi badai sejarah justru karena sifatnya yang lentur, bukan keras dan tak mudah patah oleh angin kekakuan.
Kitab maulid yang ditulis bukanlah sebuah bentuk pengultusan yang buta. Melainkan sebuah upaya estetik untuk menghadirkan kembali sirah sejarah hidup sang Nabi dalam bahasa yang membumi. Sebuah naskah yang bisa dibaca dengan takzim baik oleh rakyat jelata yang berkeringat maupun oleh para abdi dalem di dalam benteng istana.
Kiai Wardan akhirnya melangkah pulang ke rahmatullah. Jasadnya disatukan dengan tanah di pemakaman Hastorenggo, Kotagede. Karyanya hadir sebagai teguran yang lembut, ketika kebudayaan setempat dipandang penuh prasangka. Tatkala agama kerap ditampilkan berwajah beringas dan penuh amarah.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar