Esai

Robert Angkasa

SW60Plus.com, 07 Agustus 2026, 08:15 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 4x dilihat

BAGAIMANA jika saya mengatakan bahwa salah satu kisah kepemimpinan yang dipilih John C. Maxwell bukan berasal dari Amerika, Jepang, atau Eropa, melainkan dari seorang profesional asal Indonesia?


Ketika buku Becoming a Person of Influence diterbitkan pada tahun 1997, Maxwell bersama Jim Dornan memilih untuk menceritakan perjalanan hidup Robert Angkasa. 
Alasannya bukan semata karena Robert berhasil menjadi Vice President Citibank Jakarta pada usia yang sangat muda. Yang membuat kisahnya layak ditulis adalah keputusan yang jauh lebih langka: ia memilih meninggalkan definisi sukses yang selama ini dikejar hampir semua orang.


Perjalanan Robert tidak dimulai dari ruang rapat perusahaan multinasional. Ia menempuh jalan yang sulit untuk memperoleh gelar MBA dari University of Sydney. Demi membiayai kuliahnya, ia pernah menyetir taksi, bekerja di dapur restoran, bahkan membersihkan stadion setelah konser usai. Tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah selama pekerjaan itu membawanya selangkah lebih dekat ke masa depan yang lebih baik. Justru pekerjaan-pekerjaan itulah yang menempa ketangguhan, disiplin, dan kerendahan hati yang kemudian menjadi fondasi kehidupannya.


Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Robert diterima bekerja di Citibank dan kariernya berkembang dengan sangat cepat hingga dipercaya menduduki posisi Vice President Citibank Jakarta ketika usianya baru sekitar tiga puluh tahun. 


Pada era 1990-an, jabatan tersebut adalah simbol prestise yang hanya dapat diraih oleh sedikit orang. Bagi sebagian besar profesional, itulah garis finis. Penghasilan tinggi, status sosial, dan masa depan yang mapan seolah telah berada di genggamannya.


Namun, justru ketika hampir semua orang berkata, "Kamu sudah sampai," Robert mulai bertanya kepada dirinya sendiri.
Apakah hidup hanya tentang naik jabatan?
Apakah kesuksesan berhenti pada kartu nama yang semakin panjang?
Di sinilah paradoks itu lahir.
Dunia mengajarkan kita cara menjadi orang penting.
Namun, dunia jarang mengajarkan cara membuat orang lain merasa penting.
Kita diajarkan membangun karier.
Namun, sangat sedikit yang mengajarkan cara membangun manusia.

Orang Indonesia yang Mengajarkan Bahwa Puncak Karier Bukanlah Puncak Kehidupan

Jabatan memang dapat membuka banyak pintu. Namun, jabatan tidak otomatis membuat hidup seseorang menjadi bermakna. Robert mulai menyadari bahwa ada perbedaan besar antara menjadi sukses dan menjadi berarti. Seseorang bisa mencapai puncak karier, tetapi tetap belum menemukan alasan mengapa ia berada di sana.


Titik balik kehidupannya terjadi ketika ia bertemu Mitch Sala, seorang pemimpin bisnis global yang dibimbing langsung oleh Jim Dornan. Pada awalnya Robert hanya mengagumi keberhasilan Mitch. Namun semakin lama mereka berinteraksi, semakin jelas bahwa yang membuat Mitch berbeda bukanlah bisnis yang ia bangun, melainkan manusia-manusia yang ia bangun. Mitch tidak sekadar mengajarkan strategi. 
Ia menunjukkan integritas, melatih karakter, dan membimbing orang-orang agar mampu menemukan potensi terbaik dalam diri mereka. Pengalaman itu mengubah cara Robert memandang arti keberhasilan.


Perubahan seperti ini sebenarnya telah lama dijelaskan oleh psikologi. Ada alasan mengapa banyak orang tetap merasa kosong meskipun semua target hidupnya telah tercapai. Psikologi menyebutnya hedonic adaptation—manusia sangat cepat terbiasa dengan keberhasilan. Gaji yang dahulu terasa luar biasa, beberapa bulan kemudian menjadi biasa. Jabatan yang dahulu menjadi impian, akhirnya berubah menjadi rutinitas. Karena itu manusia terus berlari mengejar target baru, bukan karena kurang berhasil, tetapi karena belum menemukan makna.
Makna lahir ketika pusat kehidupan bergeser.
Bukan lagi bertanya, "Apa yang bisa saya capai?"
Melainkan bertanya, "Siapa yang bisa saya bantu bertumbuh?"


Robert tampaknya menemukan jawaban itu. Sejak saat itu, ia tidak lagi mengukur keberhasilan dari berapa banyak orang yang bekerja untuknya. Ia mulai mengukurnya dari banyaknya orang yang bertumbuh karena dirinya. Ukuran suksesnya berubah: dari memiliki bawahan menjadi melahirkan pemimpin.


Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan utama John C. Maxwell dan Jim Dornan dalam Becoming a Person of Influence. 


Mereka menjelaskan bahwa pengaruh berkembang melalui empat tahap: menjadi teladan (modeling), memberi semangat (motivating), membimbing (mentoring), lalu mencapai tingkat tertinggi, yaitu melahirkan pemimpin-pemimpin baru (multiplying). 
Menurut Maxwell, hanya sedikit orang yang sampai pada tahap terakhir karena dibutuhkan waktu, pengorbanan, dan komitmen untuk mencurahkan hidup demi pertumbuhan orang lain. Justru di situlah letak kepemimpinan yang sesungguhnya.
Dalam konteks itulah kisah Robert Angkasa dimasukkan ke dalam buku tersebut.

Berdasarkan kisah yang diterbitkan pada tahun 1997, Robert telah berkembang menjadi salah satu pemimpin bisnis yang dibimbing oleh Mitch Sala. Ia tidak lagi hanya membangun karier pribadinya, tetapi juga mendedikasikan dirinya untuk membimbing para pemimpin di Indonesia, Malaysia, Tiongkok, hingga Filipina. Buku itu memang tidak menceritakan perjalanan Robert setelah tahun 1997, tetapi pada saat itu ia telah menjadi contoh nyata bahwa ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa tinggi ia naik, melainkan seberapa banyak orang yang ikut naik karena dirinya.


Barangkali, di sinilah pelajaran terbesar dari kisah seorang anak bangsa yang namanya tidak banyak dikenal publik. Kita sering menghabiskan puluhan tahun membangun karier, tetapi hanya sedikit waktu yang kita gunakan untuk membangun manusia. Kita bekerja keras agar nama kita dikenal, tetapi lupa memastikan apakah hidup kita benar-benar membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Suatu hari nanti, ruangan kerja yang kita banggakan akan ditempati orang lain.
Kartu nama yang kita simpan akan kehilangan artinya.


Jabatan yang kita perjuangkan akan diteruskan oleh penerus kita.
Tetapi tidak akan ada seorang pun yang dapat mengambil alih kehidupan yang telah kita ubah.
Robert Angkasa mengajarkan bahwa seseorang dapat mencapai puncak karier pada usia 30 tahun. Namun, pencapaian yang lebih agung bukanlah berdiri sendirian di puncak itu, melainkan mengulurkan tangan agar orang lain mampu mendakinya bersama.
Manusia tidak diabadikan oleh jabatan yang pernah ia pegang. Manusia diabadikan oleh manusia lain yang menjadi lebih baik karena pernah bertemu dengannya.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000