Rumus Bejo
DALAM bahasa Jawa, orang yang beruntung disebut wong bejo. Hampir setiap orang mendambakan hidup yang penuh kesempatan, rezeki yang baik, kesehatan, kemudahan, dan kehidupan yang bermakna.
Namun, ketika melihat seseorang berhasil, kita sering berkata, "Dia memang orang yang bejo." Seolah-olah keberhasilannya lahir semata-mata karena nasib baik yang selalu berpihak kepadanya. Benarkah demikian? Ataukah ada sesuatu yang tidak kita lihat?
Saya pernah membaca buku The Power of Bejo karya Octavia Pramono. Pada halaman 79, penulis menyampaikan sebuah rumusan yang sederhana, tetapi sangat mengena:
Kesiapan + Kesempatan = Keberuntungan (Pramono, 2013, hlm. 79).
Menariknya, penulis juga mengutip pepatah Latin, Fortune favours the brave—keberuntungan berpihak kepada mereka yang berani (Pramono, 2013, hlm. 79).
Berani mengambil peluang.
Berani mencoba.
Berani gagal.
Berani bangkit setiap kali gagal.
Pramono mengingatkan bahwa jika kita ingin menjadi wong bejo, kita harus menyiapkan diri untuk menjadi bejo. Sebab, keberuntungan tidak akan singgah kepada orang yang tidak siap menerimanya. Sebaliknya, ketika kesempatan datang kepada orang yang tidak siap, hasilnya justru menjadi ketidakberuntungan.
Pandangan ini ternyata sejalan dengan isi buku The Science of Being Lucky karya Nick Trenton. Menurut Trenton (2023), orang-orang yang tampak beruntung bukanlah mereka yang memiliki jimat atau memperoleh keajaiban. Mereka memiliki pola pikir yang membuat mereka lebih peka melihat peluang, lebih berani mengambil langkah, lebih mudah membangun relasi, dan lebih gigih menghadapi kegagalan.
Salah satu contoh yang menarik adalah Soichiro Honda, pendiri Honda Motor Company.
Kini, jutaan orang mengenal Honda sebagai salah satu merek otomotif terbesar di dunia. Tidak sedikit yang menganggap Soichiro Honda adalah orang yang beruntung. Padahal, jika kita menelusuri perjalanan hidupnya, kita akan menemukan kisah yang sangat berbeda.
Pada awal kariernya, Honda berusaha menjual hasil temuannya berupa cincin piston kepada Toyota. Produknya beberapa kali ditolak karena belum memenuhi standar kualitas. Penolakan itu tidak membuatnya menyerah. Ia terus belajar hingga akhirnya mampu menghasilkan produk yang diterima.
Perjuangannya belum selesai. Pabrik yang dibangunnya rusak akibat Perang Dunia II. Ketika berusaha bangkit, gempa bumi kembali menghancurkan usahanya. Banyak orang mungkin memilih menyerah.
Namun, Honda justru melihat peluang di tengah kesulitan. Saat masyarakat Jepang membutuhkan kendaraan yang hemat bahan bakar, ia memasang mesin kecil pada sepeda. Dari inovasi sederhana itulah lahir perusahaan yang kemudian dikenal dunia sebagai Honda Motor Company (Smitka, 2011).
Ketika Honda mendunia, orang berkata, "Dia memang beruntung."
Padahal, yang mereka lihat hanyalah hasil akhirnya. Mereka tidak melihat puluhan tahun belajar, kegagalan, keberanian untuk bangkit, dan ketekunan yang menjadi fondasi keberhasilannya.
Siapa yang tidak ingin menjadi wong bejo?
Kisah Honda menunjukkan satu hal. Orang sering menyebut hasil akhirnya sebagai keberuntungan, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah proses panjang yang tidak terlihat.
Pandangan ini ternyata juga didukung oleh penelitian psikologi. Dalam bukunya, Nick Trenton mengutip penelitian Richard Wiseman mengenai keberuntungan.
Salah satu eksperimennya sangat menarik. Sejumlah orang diminta menghitung jumlah foto dalam sebuah koran. Padahal, di halaman kedua terdapat tulisan besar berbunyi, "Berhenti menghitung. Jawabannya ada di sini."
Orang-orang yang menganggap dirinya beruntung lebih cepat menemukan pesan tersebut. Sebaliknya, mereka yang merasa dirinya tidak beruntung justru terlalu fokus menghitung sehingga melewatkan petunjuk yang sangat jelas (Wiseman, 2003).
Betapa sering kita mengalami hal yang sama.
Kita terlalu sibuk menghitung masalah sehingga lupa mencari peluang.
Terlalu fokus pada pintu yang tertutup sehingga tidak menyadari ada pintu lain yang telah terbuka.
Keberuntungan sering kali bukan karena kesempatan itu tidak ada, melainkan karena kita tidak siap melihatnya.
Di berbagai budaya, filsafat, dan ajaran agama, kita menemukan pesan yang hampir sama: keberuntungan lebih mudah menghampiri mereka yang telah mempersiapkan diri.
Kesempatan dapat datang kepada siapa saja, tetapi hanya mereka yang siap yang mampu mengubahnya menjadi keberhasilan.
Sebagai seorang Muslim, saya memandang prinsip ini selaras dengan makna ikhtiar dan tawakal. Al-Qur'an mengajarkan bahwa manusia diminta untuk berusaha, sementara hasil akhirnya berada dalam kuasa Allah (QS. At-Taubah [9]: 105; QS. Ar-Ra'd [13]: 11).
Barangkali di situlah makna bejo yang sesungguhnya. Bukan sekadar sering beruntung, melainkan selalu mempersiapkan diri ketika kesempatan datang. Sebagian orang menyebutnya keberuntungan, sebagian lagi menyebutnya berkah.
Dalam keyakinan saya, keduanya adalah rahmat Allah yang hadir melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar