Rumus Kebahagiaan
SUATU hari, sebuah perahu kecil bersandar di sebuah desa nelayan di pesisir Meksiko. Seorang turis lulusan MBA dari universitas ternama memperhatikan hasil tangkapan seorang nelayan yang tampak segar dan berkualitas.
“Berapa lama kamu menangkap ikan sebanyak itu?” tanyanya.
Sang nelayan menjawab dengan tenang, “Tidak terlalu lama.”
Turis itu heran dan bertanya mengapa ia tidak memancing lebih lama agar hasil tangkapannya lebih banyak. Nelayan itu tersenyum dan berkata bahwa ikan yang diperolehnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Lalu apa yang kamu lakukan setelah itu?” tanya sang turis. Nelayan menjelaskan bahwa ia bermain bersama anak-anaknya, tidur siang dengan istrinya, lalu menghabiskan malam dengan bercengkerama, bernyanyi, dan bermain gitar bersama teman-temannya.
Mendengar jawaban itu, naluri bisnis sang turis segera bekerja. Ia menyarankan agar sang nelayan bekerja lebih lama, membeli kapal yang lebih besar, merekrut pekerja, membangun perusahaan, membuka pabrik, dan pada akhirnya pindah ke New York.
Menurut sang turis, setelah bekerja keras selama 20 sampai 25 tahun, nelayan itu bisa menjual perusahaannya dan menjadi jutawan. Nelayan tersebut lalu bertanya, “Setelah itu, apa yang akan saya lakukan?”
Turis itu tersenyum bangga dan menjawab bahwa ia bisa pensiun di sebuah desa kecil dekat pantai. Di sana, ia bisa bangun siang, bermain dengan anak-anak, memancing sedikit, tidur siang bersama istrinya, dan menghabiskan malam bersama teman-temannya.
Sang nelayan hanya tersenyum. Kehidupan yang dijanjikan setelah 25 tahun ternyata adalah kehidupan yang sudah ia miliki hari itu juga.
Kisah yang dikutip Neil Pasricha dalam The Happiness Equation ini menggambarkan perbedaan antara budaya yang selalu menginginkan lebih dan budaya yang merasa sudah cukup. Kisah itu juga menjadi cermin bagi manusia modern yang sering menunda kebahagiaan demi mengejar kehidupan yang sebenarnya sudah ada di depan mata.
Inilah salah satu paradoks terbesar dalam kehidupan modern. Kita menghabiskan masa muda untuk mengumpulkan uang, lalu menghabiskan uang untuk membeli kembali masa muda yang hilang.
Kita mengejar lebih banyak uang agar bisa hidup dengan tenang. Namun, dalam prosesnya, kita justru sering kehilangan ketenangan, kesehatan, dan hubungan dengan orang-orang terdekat.
Kita mengorbankan kesehatan demi karier, lalu menggunakan hasil karier untuk memulihkan kesehatan yang telah hilang. Kita menjauh dari keluarga demi masa depan, tetapi ketika masa depan tiba, hubungan itu belum tentu bisa dibeli kembali.
Masalahnya bukan pada keinginan untuk maju. Masalah muncul ketika kita percaya bahwa kebahagiaan baru boleh hadir setelah semua target tercapai.
Garis finis kebahagiaan pun terus bergerak menjauh. Ketika satu impian tercapai, impian baru segera mengambil tempatnya.
Setelah rumah pertama dibeli, kita menginginkan rumah yang lebih besar. Setelah jabatan naik, kita mulai membandingkan diri dengan orang yang memiliki posisi lebih tinggi.
Neil Pasricha menyebut keadaan ini sebagai Culture of More, yaitu budaya yang terus membisikkan bahwa hidup kita belum cukup. Padahal, semakin kita mengikuti bisikan itu, semakin sulit kita merasakan kepuasan.
Pertanyaannya, mengapa kita begitu mudah merasa hidup ini belum cukup? Mengapa satu kekurangan terasa lebih besar daripada seratus nikmat yang kita miliki? Jawabannya ternyata ada di dalam otak kita.
Pernahkah Anda menyadari bahwa satu kritik bisa menghapus seratus pujian? Itulah cara kerja otak kita. Ia lebih cepat menangkap ancaman daripada mensyukuri kelimpahan. Selama ribuan tahun, kemampuan melihat kekurangan membantu manusia bertahan hidup.
Nenek moyang kita harus terus memikirkan makanan, perlindungan, dan bahaya yang mungkin datang. Perasaan belum aman mendorong mereka untuk tetap waspada dan bertahan.
Dunia kini telah berubah, tetapi pola kerja otak kita tidak berubah secepat itu. Ancaman fisik berganti menjadi tekanan sosial, persaingan karier, angka di rekening, dan perbandingan di media sosial.
Kita tidak lagi dikejar hewan buas, tetapi kita merasa dikejar pencapaian orang lain. Kita tidak kelaparan, tetapi tetap cemas karena merasa hidup orang lain lebih berhasil.
Inilah alasan mengapa rasa cukup tidak selalu bergantung pada jumlah harta. Rasa cukup adalah kemampuan psikologis untuk mengenali bahwa kebutuhan utama kita telah terpenuhi.
Seseorang bisa memiliki penghasilan besar, tetapi tetap merasa miskin karena selalu membandingkan dirinya. Sebaliknya, seseorang dengan kehidupan sederhana bisa tidur dengan damai karena ia tidak terus-menerus berperang dengan keinginannya sendiri.
Nelayan Meksiko memahami sesuatu yang tidak dipahami oleh sang turis. Ia tahu bahwa kebahagiaan bukanlah hadiah di akhir perjalanan, melainkan cara menjalani perjalanan itu sendiri.
Penelitian yang dikutip dalam The Happiness Equation menunjukkan bahwa orang yang bahagia memiliki produktivitas sekitar 31 persen lebih tinggi, penjualan 37 persen lebih baik, dan kreativitas yang tiga kali lebih besar. Dengan kata lain, kebahagiaan bukan hadiah setelah sukses, melainkan salah satu bahan bakar yang membantu kita mencapainya.
Sejak kecil, banyak orang diajarkan satu rumus yang terasa masuk akal. Kita percaya bahwa kerja keras akan menghasilkan kesuksesan, lalu kesuksesan akan menghasilkan kebahagiaan.
Rumus itu terlihat seperti ini: bekerja hebat, meraih sukses besar, kemudian menjadi bahagia. Namun dalam kenyataan, kebahagiaan sering tidak pernah benar-benar tiba.
Setelah satu target tercapai, kita segera membuat target baru. Akibatnya, kita tidak sempat menikmati kemenangan karena pikiran sudah sibuk mengejar pencapaian berikutnya.
Neil Pasricha membalik rumus tersebut. Ia menawarkan gagasan bahwa kebahagiaan seharusnya menjadi titik awal, bukan hadiah terakhir.
Rumus barunya adalah: bahagia lebih dulu, lalu bekerja dengan baik, kemudian meraih kesuksesan. Ketika seseorang memulai dari keadaan batin yang positif, ia cenderung lebih kreatif, lebih terbuka, dan lebih berenergi dalam bekerja.
Mengapa Kita Sibuk Mengejar Kehidupan yang Sebenarnya Sudah Kita Miliki?
Kebahagiaan bukan berarti tidak memiliki masalah. Kebahagiaan berarti tidak membiarkan semua masalah menentukan kualitas hidup kita.
Dari sinilah lahir rumus utama dalam The Happiness Equation: Want Nothing + Do Anything = Have Everything. Rumus sederhana itu menghubungkan rasa cukup, kebebasan, dan kebahagiaan dalam satu persamaan.
Menariknya, Pasricha tidak mengatakan bahwa "memiliki segalanya" berarti memiliki semua yang diinginkan. Ia justru mengatakan bahwa ketika kita berhenti menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang belum kita miliki, dunia terasa cukup. Dan ketika kita bebas melakukan hal-hal yang bermakna, kita akan merasa memiliki lebih banyak daripada yang bisa dibeli uang.
Want Nothing bukan berarti kehilangan ambisi atau berhenti bermimpi. Artinya, kita tidak menjadikan hal yang belum dimiliki sebagai syarat untuk merasa berharga.
Do Anything berarti memiliki kebebasan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan nilai, tujuan, dan jati diri kita. Kebebasan itu bukan selalu tentang memiliki waktu tanpa batas, tetapi tentang memiliki ruang untuk memilih hidup yang bermakna.
Ketika rasa cukup dan kebebasan bertemu, kita mulai merasa telah memiliki segalanya. Bukan karena semua benda berhasil dikumpulkan, tetapi karena hati tidak lagi terus-menerus merasa kekurangan.
Pasricha juga memperkenalkan gagasan sederhana bernama Remember the Lottery. Gagasan ini mengajak kita menyadari bahwa kesempatan untuk hidup saja sudah merupakan kemenangan yang luar biasa.
Kita masih bisa bangun pagi, bernapas, melihat orang yang kita cintai, dan menjalani satu hari lagi. Hal-hal yang tampak biasa itu sebenarnya adalah hadiah yang tidak pernah dijanjikan akan selalu ada.
Kita sering meminta hidup untuk memberi lebih banyak. Namun, kita jarang berhenti untuk melihat betapa banyak yang telah diberikan.
Barangkali hidup tidak pernah pelit kepada kita. Yang pelit adalah perhatian kita terhadap hal-hal yang sudah kita miliki.
Nelayan Meksiko tidak memenangkan lotre dengan hadiah jutaan dolar. Namun, ia memenangkan sesuatu yang jauh lebih langka, yaitu kemampuan untuk mengetahui kapan harus berkata, “Ini sudah cukup.”
Ia tidak menolak kemajuan dan tidak membenci kekayaan. Ia hanya tidak bersedia menukar seluruh hidupnya demi membeli kembali kehidupan yang sebenarnya sudah ia nikmati.
Kebahagiaan mungkin bukan tentang memiliki segalanya. Kebahagiaan adalah kemampuan untuk merasakan bahwa apa yang ada hari ini sudah cukup untuk disyukuri.
Jangan sampai setelah bekerja keras selama 25 tahun, kita baru sadar bahwa tujuan hidup kita hanyalah kembali ke tempat yang sebenarnya tidak pernah perlu kita tinggalkan.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
RUJUKAN
Pasricha, N. (2016). The happiness equation: Want nothing + do anything = have everything. G. P. Putnam's Sons.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar