Sampah
MICHAEL Mauboussin sedang berada di tahun terakhir kuliahnya di Washington, D.C., pada pertengahan 1980-an. Ia belum punya gambaran jelas tentang pekerjaan yang akan dijalaninya setelah lulus. Yang ia tahu, sebentar lagi kuliah selesai dan ia harus mencari nafkah.
Ketika Drexel Burnham Lambert membuka rekrutmen di kampusnya, Mauboussin ikut mendaftar. Drexel bukan perusahaan sembarangan. Bank investasi itu sedang menjadi salah satu nama besar di Wall Street, tempat yang menarik bagi anak muda yang ingin memulai karier di dunia keuangan.
Wawancara pertama berjalan baik. Mauboussin kemudian diundang ke New York untuk mengikuti seleksi berikutnya. Ia datang dengan jas terbaik dan sepatu yang sudah disemir, berusaha terlihat seperti orang yang pantas bekerja di sana.
Di kantor Drexel, para kandidat mendapat pengarahan. Mereka harus menjalani enam wawancara dengan staf profesional, kemudian bertemu seorang eksekutif senior selama sepuluh menit. Pimpinan program menekankan pentingnya pertemuan terakhir itu. Kalau ingin diterima, mereka harus mampu membuat sang eksekutif terkesan.
Mauboussin menjalani keenam wawancara tersebut. Menurut perasaannya, semuanya berlangsung cukup baik. Tidak ada kejadian istimewa yang membuatnya khawatir, tetapi juga tidak ada alasan untuk merasa bahwa pekerjaan itu sudah berada dalam genggaman.
Seorang staf kemudian mengantarnya ke ruang kerja eksekutif senior. Ruangannya mengesankan, dengan dinding kayu gelap, karpet tebal, meja mahoni besar, dan jendela yang menghadap Manhattan. Saya membayangkan Mauboussin sempat memperhatikan semua kemewahan itu sambil berusaha menjaga sikap.
Namun, ada benda lain yang justru menarik perhatiannya. Dari bawah meja sang eksekutif, terlihat sebuah tempat sampah berlogo Washington Redskins, tim American football yang bermarkas di kota tempat Mauboussin berkuliah.
Ia langsung mengenalinya. Selama empat tahun tinggal di Washington, Mauboussin beberapa kali menonton pertandingan Redskins. Tanpa direncanakan, ia mengomentari tempat sampah itu dan memuji pilihan tim sang eksekutif.
Ternyata komentarnya mengenai sasaran. Wajah sang eksekutif berseri, lalu percakapan mereka beralih ke Redskins, olahraga, dan pengalaman tinggal di Washington. Sepuluh menit yang dijadwalkan untuk wawancara berkembang menjadi sekitar lima belas menit.
Tidak ada pembicaraan serius mengenai pasar modal. Tidak ada ujian analisis keuangan atau pertanyaan menjebak tentang investasi. Mauboussin lebih banyak mendengarkan, sesekali menanggapi, dan menikmati percakapan dengan orang yang rupanya memiliki kegemaran sama.
Kalau dipikir-pikir, cukup menggelikan. Ia sudah bersusah payah mengenakan jas terbaik untuk wawancara di Wall Street, tetapi yang paling berguna hari itu justru pengetahuannya tentang sebuah tim olahraga.
Beberapa waktu kemudian, kabar baik datang. Mauboussin diterima bekerja di Drexel Burnham Lambert. Ia memulai program pelatihan yang kemudian menjadi salah satu pijakan penting kariernya di dunia investasi.
Cerita itu mungkin akan berakhir sebagai kenangan wawancara yang menyenangkan jika beberapa bulan kemudian seorang pimpinan rekrutmen tidak mengajaknya berbicara.
Orang itu mengungkapkan sesuatu yang membuat Mauboussin terkejut. Katanya, keenam pewawancara sebelumnya ternyata sepakat bahwa ia tidak diterima. Namun eksekutif senior yang ditemuinya selama lima belas menit menggunakan kewenangannya untuk membatalkan keputusan tersebut.
Pimpinan rekrutmen itu penasaran. Ia tidak tahu apa yang dikatakan Mauboussin sampai bos besar begitu yakin ingin merekrutnya. Mauboussin sendiri tentu tahu percakapan apa yang membuat pertemuan mereka terasa berbeda.
Tempat sampah Redskins itu rupanya telah melakukan sesuatu yang tidak berhasil dilakukan jas rapi, sepatu mengilap, dan enam sesi wawancara.
Mauboussin menceritakan pengalaman tersebut dalam The Success Equation: Untangling Skill and Luck in Business, Sports, and Investing. Buku itu membahas hubungan antara keterampilan dan keberuntungan, dua hal yang sering bercampur ketika kita berusaha menjelaskan mengapa seseorang berhasil sementara orang lain tidak.
Keterampilan bisa dipelajari, dilatih, dan ditingkatkan. Keberuntungan berbeda. Ia datang dari kejadian yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan, termasuk kejadian sepele yang pada saat berlangsung bahkan tidak terasa penting.
Mauboussin jelas bukan orang yang datang tanpa persiapan. Ia berhasil melewati seleksi awal dan mendapat kesempatan mengikuti wawancara di New York. Namun kemampuan itu ternyata belum cukup meyakinkan enam pewawancara. Sebuah percakapan yang tidak direncanakan justru mengubah keputusan akhir.
Ada bagian dari kisah ini yang membuat saya berpikir tentang cara kita menilai keberhasilan. Setelah seseorang sukses, biasanya kita ingin tahu rahasianya. Kita bertanya tentang kebiasaan, strategi, disiplin, atau keputusan penting yang pernah diambilnya.
Jarang kita bertanya tentang kebetulan yang membantunya. Padahal mungkin ada pertemuan yang tidak direncanakan, orang yang sedang berbaik hati, atau kesempatan yang datang pada waktu yang tepat.
Bukan berarti kerja keras tidak penting. Tanpa kemampuan, Mauboussin mungkin tidak akan sampai ke ruangan eksekutif itu. Tetapi kemampuan saja juga tidak menjelaskan mengapa ia diterima ketika enam orang lain telah merekomendasikan penolakan.
Kisah tersebut sekaligus menyimpan catatan bagi perusahaan yang merekrut karyawan. Penilaian enam pewawancara bisa dikalahkan oleh kesan pribadi seorang atasan. Kesamaan kegemaran memang dapat membuat percakapan lebih akrab, tetapi belum tentu menunjukkan siapa yang paling mampu menjalankan pekerjaan.
Saya mencoba membayangkan apa yang terjadi seandainya tempat sampah itu berada di sisi meja yang tidak terlihat. Mungkin Mauboussin akan menjalani wawancara biasa selama sepuluh menit, menjawab beberapa pertanyaan, lalu pulang.
Dengan enam rekomendasi penolakan, peluangnya diterima tentu akan berbeda.
Tetapi tempat sampah itu ada di sana. Mauboussin melihatnya, mengenali logonya, lalu membuka percakapan yang ternyata menentukan nasibnya. Tidak ada strategi karier yang dirancang untuk menghasilkan rangkaian kejadian tersebut.
Bagi orang yang sedang mencari pekerjaan, cerita ini mungkin memberi sedikit penghiburan. Penolakan tidak selalu berarti seseorang kurang pintar atau kurang mampu. Kadang ada faktor lain yang bekerja, termasuk penilaian manusia yang tidak sepenuhnya objektif.
Sebaliknya, bagi mereka yang sudah berhasil, kisah ini memberi alasan untuk tidak terlalu cepat menganggap semua pencapaian sebagai hasil kehebatan pribadi. Boleh jadi ada orang lain yang sama tekun dan berbakatnya, tetapi tidak memperoleh kesempatan serupa.
Tentu kita tetap perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin. Belajar, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan mengambil keputusan yang masuk akal adalah bagian yang bisa kita kendalikan. Urusan apakah kelak kita bertemu orang yang tepat pada saat yang tepat, itu cerita lain.
Saya rasa hampir setiap orang punya pengalaman semacam itu, meskipun tidak selalu menyadarinya. Ada yang mendapat pekerjaan karena seorang teman kebetulan mengingat namanya. Ada yang menemukan peluang baru setelah percakapan singkat yang awalnya sama sekali tidak membahas pekerjaan.
Mauboussin kebetulan melihat tempat sampah Redskins. Kita mungkin pernah mengalami kejadian serupa, hanya saja bendanya berbeda dan ceritanya tidak cukup lucu untuk diceritakan di sebuah buku.
Barangkali, sebelum terlalu bangga menceritakan bagaimana kita berhasil sampai ditempat sekarang, ada baiknya mengingat kembali perjalanan itu. Siapa tahu, di antara semua keputusan hebat yang kita banggakan, pernah ada sebuah tempat sampah yang diam-diam ikut membantu.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
RUJUKAN
Mauboussin, M. J. (2012). The success equation: Untangling skill and luck in business, sports, and investing. Harvard Business Review Press.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar