Esai

Semar Gugat, Dari Panggung Sandiwara ke Politik

SW60Plus.com, 31 Agustus 2026, 09:47 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 139x dilihat

BAGI kerja jurnalistik, peristiwa diterimanya Botok oleh pimpinan DPR pada 27 Agustus lalu mungkin sudah dianggap "basi" sebab nilai beritanya (news value) merosot karena ditelan arus peristiwa baru. Namun bagi saya, peristiwa itu justru meninggalkan ganjalan pertanyaan yang relevan yaitu mengapa tidak semua suara rakyat yang menggedor pintu Senayan beruntung mendapatkan ruang dialog yang sama seperti Botok dan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB)?  Selain itu, masih juga ditunggu mengenai bagaimana perwujudan komitmen tarhadap tuntutan aksi demo .


Mas Botok dan kawan-kawannya tidak sekadar berorasi di jalanan. Mereka diizinkan melangkah masuk, menyaksikan langsung Sidang Paripurna DPR  tentang Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset Koruptor dari atas balkon, hingga akhirnya diterima hangat di dalam ruangan jajaran pimpinan DPR yaitu  Sufmi Dasco Ahmad, Saan Mustopa, dan Cucun Ahmad Syamsurijal.


Fenomena ini seketika melempar ingatan saya pada salah satu lakon ikonik pewayangan Jawa yaitu Semar Gugat. Lakon ini pernah diadaptasi secara bernas oleh N. Riantiarno bersama Teater Koma pada 1995 di Gedung Kesenian Jakarta.

Riantiarno memboyong tokoh Semar ke panggung teater modern sebagai simbol gugatan terhadap ketimpangan dan kesewenang-wenangan kekuasaan Orde Baru. Di masa ketika masyarakat luas dipaksa menjadi silent majority, keberanian teater menghadirkan Semar Gugat adalah bentuk kritik sosial-politik yang sangat tajam.


Dalam narasi pewayangan maupun adaptasi teaternya, Semar bukanlah raja, pejabat, atau pemegang tampuk kekuasaan. Ia adalah pengejawantahan wong cilik. Justru dari posisi tak berjarak dengan tanah itulah, Semar memiliki keberanian moral (moral courage) untuk menegur mereka yang bertakhta di atas.


Mengapa Semar menggugat? Sebab harkatnya sebagai wong cilik dilecehkan. Demi menuruti keinginan Srikandi, Arjuna dengan semena-mena memotong kuncung—rambut keramat di dahi Semar. Sedumuk bathuk, senyari bumi—kehormatan yang diinjak memicu murka. Semar melangkah melintasi batas Kahyangan, mendemo para Dewa yang merasa digdaya mengatur nasib dunia.


Di titik inilah, Semar bertransformasi dari panggung wayang dan panggung sandiwara, melompat ke panggung politik.


Botok adalah "Semar" dalam realitas hari ini. Ia rakyat biasa tanpa jabatan, datang jauh-jauh dari Pati membawa aspirasi warga yang merasa bahwa DPR telah melecehkan kehendak masyarakat untuk mensahkan Rancangan Undang Undang Perampasan Aset Koruptor.  Aksinya bermula di luar gedung DPR, tetapi ketukan pintunya menembus hingga ke ruang paripurna.


Ada semacam kesamaan antara panggung politik dengan  panggung pertunjukan, baik wayang atau drama yaitu memiliki dua sisi panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Panggung depan adalah pertunjukan yang disaksikan penonton dan panggung belakang adalah seluk beluk dari persiapan hingga pementasan.


Sosiolog Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959) mengabstraksikan bagaimana manusia mengelola penampilan dirinya di depan publik. Konsep ini kemudian ditarik ke dalam analisis kebijakan publik oleh Sarah Ayres, Mark Sandford, dan Tessa Coombes (2017). Mereka menjelaskan front stage sebagai arena formal tempat pejabat politik dan pejabat  publik mempertontonkan akuntabilitasnya di hadapan kamera dan wartawan. Sementara back stage adalah tempat wacana, negosiasi, dan kompromi politik yang sebenarnya diracik jauh dari pemglihatan masayarakat, liputan dan sorot lampu dan kamera.


Maka, apa yang kita lihat di layar kaca atau baca di berita cetak maupun online sangat boleh jadi belum menjadi keseluruhan cerita. Ada kalkulasi momentum, efektivitas komunikasi, kemampuan membangun simpati publik, hingga dinamika kompromi di balik layar yang menentukan mengapa aksi Botok berhasil mendobtrak pagar depan  pintu Senayan. 


Dalam mitologi pewayangan, gugatan Semar didengar Kahyangan karena ia tahu kapan para Dewa berkumpul dan Semar berhasil mendapatkan akses masuk. Maka ketika Semar atau Batara Ismaya, menemui Batara Guru, para dewa mendengar yang sudah mengetahui apa yang bakal disampaikan Semar, langsung menangkap kegelisahan Semar dan berjanji memulihkan martabatnya. Namun, komitmen Kahyangan tidak serta-merta menjadi kenyataan seketika, sebab Semar tetap harus mengawal janji itu sampai mewujud nyata.


Dengan metafora cerita wayang dan adaptasi Semar Gugat oleh teater Koma, muncul pertanyaan, apakah janji dan komitmen elite DPR kepada Botok dan AMPB terkait pengesahan RUU Perampasan Aset pada Desember 2026 mendatang benar-benar diwujudkan? Atau justru menguap begitu panggung depan ditutup dan lampu sorot dimatikan sedangkan di panggung belakang, kita tidak pernah tahu apa sajian yang sedang disiapkan (mkb).

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000