Semesta Itu Maha Asyik
Kadang apa yang tampak, belum tentu sesuai pikiran.
Dan apa yang kita pikirkan, justru tak sesuai dugaan.
Sungguh, Semesta Maha Asyik buat mereka yang tidak ruwet dengan hidup orang lain.
Tiga kalimat di atas bukan kata saya, guys. Ini saya baca dari postingan teman saya yang hobi menyanyi di beranda Facebook-nya 22 Juli 2025.
Tiga kalimat pendek di atas sebenarnya ajakan sederhana : berhenti nge-judge, berhenti ngarang cerita, dan mulai urus diri sendiri.
Tulisan tersebut bukan buat ngasih solusi. Ini buat ngajak mikir bareng sambil tarik napas, meski saya percaya teman saya itu tidak bermaksud begitu. Apalagi yang bermotif menggurui.
Kita tuh gampang banget salah paham. Cuma gara-gara satu status, atau ekspresi wajah orang, lantas kita mikir macem-macem.
Misalnya, suatu pagi ada guru yang kelihatan galak di kelas. Padahal imbas dari rumah, semalam dia begadang jaga anaknya yang sakit.
Di kehidupan sehari-hari juga begitu. Orang luar gampang komen "kok gitu sih", padahal mereka nggak tahu "cerita di balik pintu" seperti apa.
Tampilan luar memang jarang jujur soal isi hati.
Terus terang, yang sering menyakitkan kita bukan kejadiannya. Tapi cerita yang kita bikin sendiri di kepala. Chat nggak dibales 2 jam, langsung mikir "dia cuek". Padahal bisa jadi HP-nya ketinggalan di motor. Kita ini sutradara hebat, guys. Bisa bikin film drama panjang, padahal naskahnya nggak ada.
Capek itu datang pas kita sibuk mikirin hidup orang.
Tenang itu datang pas kita balik ke diri sendiri: kerja yang beres, ibadah yang khusyuk, sering nolong orang.
Orang dulu bilangnya wara' dan zuhud. Orang Tao bilangnya wu wei, ngalir aja.
Epictetus bekas budak yang kemudian guru filsafat di zaman Yunani-Romawi, juga pernah bilang: kita nggak menderita karena kejadian, tapi karena cara kita menilainya.
Begitu kita berhenti maksa dunia harus sesuai mau kita, rasanya lega banget. Semesta jadi terasa luas.
Kalimat ini dampaknya besar buat hidup bareng-bareng.
Kalau kita berhenti menilai dari luar, gosip dan prasangka bisa berkurang.
Kalau kita berhenti berasumsi, ribut karena "katanya" juga bisa dihindari.
Kalau kita berhenti ikut campur, energi kita bisa dipakai buat hal yang real berguna: kerja, belajar, berkarya.
Di medsos juga sama. Prinsip ini bisa jadi tameng biar kita nggak iri lihat hidup orang.
Kalau dilihat dari sisi filsafat,
ternyata tiga kalimat ini punya 3 tahap.
Pertama, sadar kalau kita nggak pernah benar-benar tahu isi kepala orang.
Kedua, sadar kalau otak kita suka ngarang.
Ketiga, sadar kalau damai itu adanya pas kita ngurus diri sendiri.
Plato bilang hidup ini bayangan.
Edmund Husserl "Bapak Fenomologi" bilang tahan dulu jangan langsung menilai.
Socrates bilang "kenalilah dirimu".
Nah, tiga kalimat itu boleh jadi versi zaman sekarang, yang dengan cerdas dan bijak ditulis ulang oleh teman saya itu.
Mungkin tugas kita bukan nebak isi kepala orang lain.
Tugas kita cuma satu: jaga hati sendiri tetap bersih. Kalau itu sudah, hidup kerasa ringan. Dan pada akhirnya apa yang dibilang teman saya yang hobi menyanyi itu, memang iya: semesta itu memang maha asyik.(*).
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar