Sengkuni, Dale Carnegie, dan Pengakuan Bersalah
DALAM hampir setiap proses pengadilan, banyak terdakwa mengaku tidak bersalah. Penegasan tidak bersalah sering kita ketahui ketika seseorang divonis bersalah oleh hakim. Lantas, mengapa seseorang yang melakukan kesalahan cenderung tetap merasa dirinya benar?
Banyak orang yang ditangkap KPK atau Kejaksaan, mereka dan pembelannya merasa tidak bersalah. Saya ingat apa yang ditulis oleh Dale Carnegie dalam bab pertama buku How to Win Friends and Influence People. Buku yang saya baca pertama kali ketika masih menjadi reporter muda RRI, memberi kesan mendalam.
Dalam bukunya, sebelum berbicara tentang seni memengaruhi orang lain, Carnegie terlebih dahulu mengajak pembacanya memahami tabiat manusia. Pada Bab pertama bukunya, Ia mengisahkan Francis "Two-Gun" Crowley, penjahat terkenal di New York yang dikepung ratusan polisi setelah menembak seorang aparat hingga tewas. Anehnya, menurut Carnegie, ketika menunggu ajalnya di penjara, Crowley tidak menyesali perbuatannya. Ia justru menulis bahwa di balik dadanya bersemayam "hati yang baik", hati yang tidak pernah berniat menyakiti siapa pun. Bahkan ketika dijatuhi hukuman mati, ia menganggap dirinya bukan penjahat, melainkan korban yang hanya membela diri.
Dari kisah itu Carnegie menarik sebuah kesimpulan sederhana, tetapi sungguh mendalam yaitu bahwa manusia hampir tidak pernah menganggap dirinya bersalah.
Fenomena itu dalam psikologi disebut sebagai self-serving bias dan cognitive dissonance. Manusia memiliki kecenderungan mempertahankan citra dirinya sebagai orang baik. Ketika berbuat salah, ia akan mencari alasan, menyusun pembenaran, atau menyalahkan keadaan, agar tidak perlu mengakui kesalahannya sendiri.
Mengenai hal ini telah lama hadir dalam khazanah budaya Nusantara melalui cerita wayang.
Di antara sekian tokoh pewayangan, Sengkuni adalah gambaran paling menarik mengenai kecerdikan yang kehilangan kompas moral. Dalam epos Mahabharata, Shakuni dikenal sebagai perancang tipu daya, penghasut, dan ahli intrik dalam upaya menghancurkan Pandawa. Akal Sengkuni itu yang menjadi salah satu penyebab Hastina menuju Perang Bharatayudha yang destruktif. Namun, dalam berbagai tutur pewayangan Jawa, menjelang akhir hayatnya ketika tubuhnya dirobek oleh Bima, Sengkuni tidak menganggap dirinya penjahat. Ia tetap merasa dirinya orang baik. Pada detik detik sebelum menghembuskan nafas, ketika tubuhnya luka parah Sangkuni mendesis mengatakan " Kulo tiang saè, kulo siang saèèè...." ( Saya orang baik. )
Mengapa?
Karena menurut logikanya, semua yang dilakukannya semata-mata untuk melindungi Kurawa, para keponakannya. Ia ingin mereka tetap hidup, tetap berkuasa, dan tetap menikmati singgasana Hastina. Tipu daya yang dilakukannya bukan dipandang sebagai kejahatan, melainkan sebagai bentuk kesetiaan kepada keluarga.
Di sinilah letak kejeniusan para empu wayang. Mereka tidak sedang menciptakan tokoh licik semata, melainkan sedang mengajarkan bahwa kejahatan sering kali lahir bukan dari orang yang merasa jahat, tetapi dari orang yang merasa dirinya paling benar.
Pelajaran itu rasanya menjadi relevan dengan kejadian kejadian dalam kehidupan bangsa saat ini.
Berbagai perkara korupsi yang mencuat hampir selalu diiringi narasi pembelaan. Ada yang merasa hanya menjalankan kebijakan. Ada yang menyatakan sekadar melaksanakan tugas. Ada yang mengaku tidak menikmati hasilnya. Ada pula yang menempuh seluruh upaya hukum karena meyakini dirinya tidak bersalah.
Memang, dalam negara hukum, setiap orang memang berhak membela diri dan menggunakan seluruh mekanisme peradilan yang tersedia. Namun, fenomena ini di sisi lain, sekaligus memperlihatkan betapa sulitnya manusia berdamai dengan kesalahannya sendiri.
Barangkali, persoalan terbesar bukanlah pada proses hukumnya, melainkan pada proses batinnya. Ketika hati tidak lagi mampu berkata, "Mungkin aku telah keliru," saat itulah nurani mulai kehilangan suaranya.
Agama mengingatkan kecenderungan itu. Islam mengajarkan pentingnya muhasabah, yaitu mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain. Umar bin Khattab pernah berpesan, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab." Sebuah nasihat yang menempatkan kejujuran terhadap diri sendiri sebagai fondasi kepemimpinan dan akhlak.
Bangsa ini tentu membutuhkan sistem hukum yang tegas untuk memberantas korupsi. Namun, setidaknya menurut saya, hukum saja tidak cukup. Yang lebih mendasar adalah membangun karakter yang berani mengakui kesalahan sesuai tuntunan agama.
Sebab seseorang yang takut kehilangan pengaruh, harta dan jabatan sering kali akan mencari pembenaran apa yang dilakukannya dan mengabaikan aturan agama dan etika.
Dale Carnegie menemukan pelajaran itu dari seorang penjahat New York.
Para empu wayang menitipkannya melalui sosok Sengkuni. Agama mengajarkannya melalui perintah untuk bermuhasabah.
Ketiganya bertemu pada satu kesimpulan yang sama, musuh terbesar manusia bukanlah kesalahan itu sendiri, melainkan kesombongan dan ego manusia yang membuatnya tidak pernah merasa bersalah. ika itu terjadi pada perorangan, kelompok masyarakat dampaknya tentu terbatas. Namun jika itu menimpa orang orang yang memegang daulat rakyat, maka dampaknya sungguh luas dan destruktif.
Semoga pemimpin bangsa ini tidak terjangkiti sindrom Francis two-gun Frowley, atau Sengkuni.
Norma (baik buruk, benar salah, dll) merupakan kesepakatan yg ditetapkan bersama dlm memastikan kelangsungan hidup bersama (obyektif), maka semua pihak dituntut menerima dan berdamai dengan norma yg telah ditetapkan agar lebih tertib, itulah menjadi ukurannya. Bukan lg menggunakan ukuran2 personal/subyektif, karena sifat awalnya manusia sesungguhnya merasa benar adalah untuk bertahan hidup menurut versinya. “Selamat menikmati hidup bersama”
Tulisan yg sarat dg pesan moral, ada nilai budaya ( wayang')'dan ilmu pengetahuan ( psikologi'), dan enak dibaca, ingat filosofi jawa...." uwong ora biso ndelok gitokke dewe " orang tidak bida lihat tenggkuknya sendiri.. Orang yg berbudaya dan berkarakter yi yg bisa muhasabah..mengevaluasi dirinya sendiri.. Saran utk pak Kabul tulisan2 berbasis kisah wayang ini di bukukan dg gaya bahasa yg enak dibaca.. Salut utk pak Kabul yg tidak bosan memberikañ pencerahan melalui tulisan2nya..sekaligus uri2 budaya adi luhung..👍🙏
Terimakasih Pak Jati dan Dimas Hasto. Salam bahagia dan semangat selalu