Sudah Sukses, Mengapa Masih Merasa Gagal ?
Pernahkah kita merasa sudah mencapai banyak hal, tetapi tetap saja merasa kurang?
Bisnis berkembang, penghasilan meningkat, rumah sudah terbeli. Namun, begitu melihat teman yang perusahaannya lebih besar atau kehidupannya terlihat lebih mewah, tiba-tiba pencapaian kita terasa tidak berarti.
Mengapa keberhasilan orang lain bisa membuat kita merasa gagal?
Mark Manson, dalam bukunya The Subtle Art of Not Giving a Fck*, menceritakan dua musisi yang mengalami nasib hampir sama, tetapi akhirnya memandang kehidupan dengan cara berbeda.
Kisah pertama tentang Dave Mustaine.
Tahun 1983, Mustaine dipecat dari bandnya menjelang rekaman album pertama. Ia dipulangkan dengan bus dari New York menuju Los Angeles.
Bayangkan sakit hatinya. Marah, kecewa, dan merasa dikhianati oleh teman-temannya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Mustaine bertekad membentuk band baru yang jauh lebih sukses. Ia ingin membuktikan bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar.
Lahirlah Megadeth.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Megadeth menjadi salah satu band heavy metal paling berpengaruh di dunia. Albumnya terjual puluhan juta kopi. Mustaine menjadi musisi terkenal dan dihormati.
Tetapi ada satu masalah.
Band yang dahulu memecatnya adalah Metallica, yang ternyata meraih kesuksesan jauh lebih besar.
Menurut kisah Manson, Mustaine masih merasa gagal karena belum berhasil melampaui Metallica. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2003, Mustaine bahkan meneteskan air mata.
Mustaine mengaku bahwa ia masih menganggap dirinya sebagai pria yang gagal — karena di dalam pikirannya -- ia akan selalu menjadi orang yang dipecat dari Metallica.
Padahal, jutaan musisi mungkin bermimpi memiliki karier seperti dirinya.
Mustaine berhasil meraih kesuksesan besar, tetapi menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ukuran keberhasilan dirinya.
Akibatnya, apa pun yang dicapai selalu terasa kurang.
Sekarang kita mundur ke tahun 1962.
Seorang pemain drum bernama Pete Best dikeluarkan dari bandnya di Liverpool. Tidak lama kemudian, posisinya digantikan oleh Ringo Starr.
Nama band tersebut adalah The Beatles.
Kita tahu bagaimana kelanjutannya. The Beatles menjadi salah satu grup musik paling terkenal sepanjang sejarah.
Sementara itu, Pete Best harus menyaksikan teman-temannya menikmati ketenaran dunia tanpa dirinya.
Ia sempat mengalami masa-masa sulit. Kekecewaan itu tidak mudah diterima.
Namun, perlahan kehidupannya berubah.
Best membangun keluarga, menemukan pekerjaan, dan menjalani kehidupan yang lebih tenang.
Bertahun-tahun kemudian, sebagaimana dikisahkan Manson, ia justru mengatakan bahwa dirinya lebih bahagia dibandingkan seandainya tetap bersama The Beatles.
Mengapa?
Karena ukuran keberhasilannya telah berubah.
Belajar dari dua musisi dunia tentang arti keberhasilan dan kebahagiaan.
Ia tidak lagi menilai hidup semata-mata dari ketenaran atau jumlah penggemar. Keluarga, hubungan yang hangat, dan ketenangan hidup menjadi jauh lebih berarti.
Best tidak mendapatkan kehidupan yang dahulu diimpikannya, tetapi belajar menghargai kehidupan yang akhirnya dimilikinya.
Dua kisah ini mengingatkan kita pada satu hal penting.
Sering kali persoalan hidup bukan terletak pada apa yang belum kita capai, melainkan pada ukuran yang kita gunakan untuk menilai diri sendiri.
Kalau sukses berarti harus lebih kaya daripada tetangga, selalu ada orang yang lebih kaya.
Kalau sukses berarti memiliki perusahaan paling besar, selalu ada perusahaan yang lebih besar.
Kalau sukses berarti harus lebih hebat daripada teman, kita akan terus membandingkan diri tanpa pernah merasa cukup.
Dalam bisnis, membandingkan kinerja dengan pesaing tentu penting. Kita perlu belajar, memperbaiki strategi, dan menetapkan target yang menantang.
Tetapi membandingkan kinerja perusahaan berbeda dengan menggantungkan harga diri pada keberhasilan orang lain.
Seorang pengusaha boleh bercita-cita mencapai omzet seratus miliar rupiah.
Namun, ketika target itu tercapai dan ia tetap merasa gagal hanya karena temannya memiliki omzet satu triliun, mungkin persoalannya bukan lagi pada bisnisnya.
Melainkan pada cara ia mengukur keberhasilan.
Pagi ini, sebelum kembali mengejar target, coba tanyakan kepada diri sendiri.
Apakah bisnis kita semakin sehat? Apakah pelanggan semakin percaya? Apakah karyawan semakin sejahtera? Apakah keluarga masih mendapatkan perhatian kita?
Dan apakah kita masih bisa menikmati kehidupan yang sedang dijalani?
Jangan sampai kita berhasil membangun perusahaan besar, tetapi kehilangan hal-hal yang membuat kehidupan berharga.
Belajarlah dari kegigihan Dave Mustaine. Belajarlah pula dari kemampuan Pete Best menemukan makna baru.
Kita tidak harus memilih antara ambisi dan kebahagiaan. Keduanya bisa berjalan bersama, selama kita tahu apa yang benar-benar penting.
Jangan sampai kita menghabiskan hidup untuk memenangkan perlombaan, lalu menyadari bahwa perlombaan itu sebenarnya tidak pernah ingin kita ikuti.
Teruslah bekerja keras. Kejar cita-cita setinggi mungkin.
Tetapi jangan lupa, kehidupan yang hari ini terasa biasa saja mungkin adalah kehidupan yang dahulu pernah kita doakan.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
RUJUKAN
Manson, M. (2016). The subtle art of not giving a fck: A counterintuitive approach to living a good life. HarperOne.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar