Esai

Sulit

SW60Plus.com, 02 November 2026, 08:30 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 8x dilihat

George Dantzig datang terlambat ke kelas statistik di University of California, Berkeley. Di papan tulis ada dua soal yang belum dihapus. Ia menyalinnya, mengira itu pekerjaan rumah, lalu pulang tanpa mengetahui bahwa kedua soal tersebut merupakan persoalan statistik yang belum berhasil diselesaikan.


Dosennya melarang peserta kuliah saat itu menghapusnya. “Besok kita bahas lagi, dan kita selesaikan bersama.” 


Bayangkan kalau kejadian itu berlangsung di kantor kita. Seorang karyawan datang terlambat. Jadinya dia tidak mengikuti semua diskusi yang berkembang dalam rapat. Ia bisa salah memahami instruksi. Menariknya, ia justru menghasilkan terobosan. 
Biasanya, sebelum sempat menjelaskan hasil pekerjaannya, ia sudah diminta memperbaiki kedisiplinannya. Sang bos meningatkannya untuk tidak datang terlambat. 


Di rumah, Dantzig mulai mengerjakan soal tersebut. Beberapa kali mencoba menyelesaikannya selalu gagal. Ia mencoba berbagai pendekatan, menemui jalan buntu, mengulang perhitungan, lalu mencoba lagi. Ia tidak menyerah karena baginya, soal sesulit apapun tetaplah soal yang harus dikerjakan.


Tidak ada keajaiban yang membuat jawabannya tiba-tiba muncul.


Pada akhirnya, ia menemukan penyelesaiannya yang membuat dosennya, Jerzy Neyman, terkejut. 


Enam minggu berselang, dengan penuh antusias, Neyman memberi tahu Dantzig bahwa masalah yang telah ia selesaikan merupakan dua masalah statistika yang paling terkenal karena belum terpecahkan.
Di sinilah paradoksnya. 


Dantzig, karena datang terlambat tadi, ia tak mengetahui kalau reputasi kesulitan soal itu dibicarakan teman-temannya di kelas sebelum ia datang. Artinya, ketidaktahuan yang biasanya dianggap kelemahan justru membebaskannya dari prasangka tentang batas kemampuan. Disini, Dantzig tidak harus terlebih dahulu mengalahkan keyakinan bahwa persoalan tersebut mustahil.


Kisah ini kemudian menyebar dan digunakan sebagai pelajaran motivasi yang menunjukkan kekuatan berpikir positif. Ceritanya menjadi legenda urban dan muncul sebagai adegan pembuka dalam film tahun 1997, Good Will Hunting.
Carol Dweck, psikolog dari Stanford University menulis kisah itu dalam Mindset: Changing the way you think to fulfil your potential. (Robinson, 2017).


Tentu, kisah ini bukan bukti bahwa semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan berpikir positif. Dantzig memiliki kemampuan matematika yang kuat, disiplin, dan ketekunan luar biasa. Saat meninggal dunia, Dantzig menjabat sebagai profesor emeritus bidang ilmu transportasi serta profesor bidang riset operasi dan ilmu komputer di Universitas Stanford.


Namun kisahnya mengingatkan kita bahwa persepsi tentang kesulitan dapat memengaruhi keberanian untuk mencoba.
Dweck meneliti sesuatu yang dekat dengan pengalaman itu. Ia membedakan _fixed mindset, keyakinan bahwa kemampuan relatif menetap, dengan growth mindset, keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui pembelajaran, strategi, latihan, dan umpan balik.


Perbedaannya sering muncul dalam kalimat sederhana. Orang dengan pola pikir tetap bertanya, “Apakah saya cukup pintar?” Sementara orang dengan pola pikir berkembang lebih tertarik bertanya, “Apa yang belum saya pahami?”


Pertanyaan pertama membuat kesalahan terasa memalukan. Pertanyaan kedua menjadikan kesalahan sebagai informasi. Keduanya mungkin menghadapi persoalan yang sama, tetapi respons mereka bisa sangat berbeda.


Saya teringat kebiasaan dalam banyak rapat di kantor. Ketika seseorang mengusulkan gagasan baru, respons pertama sering kali, “Itu sulit dilaksanakan.” Anehnya, belum ada yang mencoba, tetapi kesimpulannya sudah selesai.
Kadang kita begitu berpengalaman sehingga terlalu cepat mengetahui alasan sesuatu tidak mungkin dilakukan. Pengalaman memang berharga, tetapi sesekali ia membuat kita berhenti bertanya. Kita menjadi ahli dalam menjelaskan hambatan, bukan mencari alternatif.


Penelitian Dweck tentang pujian juga memberi pelajaran menarik. Memuji seseorang semata-mata karena pintar dapat membuatnya takut kehilangan reputasi tersebut. Sebaliknya, perhatian terhadap strategi, proses belajar, dan perbaikan membantu membangun keberanian menghadapi tantangan.
Bagi pemimpin, implikasinya sangat praktis. Ketika anggota tim gagal, jangan langsung menilai kapasitas pribadinya. Tanyakan pendekatan apa yang digunakan, asumsi mana yang keliru, dan dukungan apa yang diperlukan untuk percobaan berikutnya.


Namun jangan pula memuji kerja keras tanpa melihat hasilnya. Kesibukan bukan prestasi, dan lembur bukan bukti bahwa strategi sudah benar. Usaha perlu dipertemukan dengan evaluasi yang jujur.


Ada tiga kebiasaan kecil yang layak dicoba. Berikan ruang bagi pertanyaan yang belum memiliki jawaban, hargai orang yang berani menguji asumsi, dan biasakan membahas pelajaran dari kegagalan tanpa mempermalukan pelakunya.
Pemimpin yang baik bukan orang yang selalu memiliki jawaban. Ia menciptakan lingkungan tempat orang berani mencari jawaban, termasuk ketika jawaban pertama ternyata salah.


Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari Dantzig. Ia datang terlambat, tetapi tidak terlambat untuk berpikir. Sementara dalam organisasi, kita kadang datang paling awal hanya untuk memastikan gagasan baru segera ditolak.


Besok pagi, ketika menghadapi persoalan yang terasa mustahil, ingatlah dua soal dipapan tulis Berkeley itu. Sebelum mengatakan tidak bisa, periksa dahulu apakah kita benar-benar telah mencoba, atau sekadar terlalu percaya pada kesimpulan lama.

Sebab batas paling sulit dilampaui sering kali bukan yang tertulis di papan tulis, melainkan yang diam-diam sudah kita tulis dalam pikiran sendiri.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000