Esai

Takut Tidak Disukai

SW60Plus.com, 14 Juli 2026, 07:27 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 39x dilihat

KALIMAT itu terdengar paradoks. Namun, jika sejarah mengajarkan sesuatu kepada kita, perubahan besar hampir selalu dimulai oleh orang-orang yang berani mengecewakan zamannya.


Pada tahun 399 Sebelum Masehi, sekitar lima ratus warga Athena menjatuhkan hukuman mati kepada seorang filsuf tua bernama Socrates. Ia tidak mencuri. Ia juga tidak memberontak terhadap negara. "Dosanya" hanya satu: mengajarkan kaum muda untuk berpikir sendiri dan mempertanyakan keyakinan yang selama ini diterima tanpa dipersoalkan (Plato, 2002).


Socrates sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan hidupnya. Ia hanya perlu menarik kembali ajarannya dan meminta maaf kepada para hakim. Namun, ia memilih meminum racun hemlock daripada mengingkari apa yang diyakininya benar. Di ruang sidang itu, ia mengucapkan kalimat yang kemudian bergema selama lebih dari dua puluh empat abad: "The unexamined life is not worth living"—"Hidup yang tidak pernah diperiksa tidak layak dijalani" (Plato, 2002).


Hari itu Athena mengira mereka sedang menghukum seorang pembangkang. Padahal sejarah sedang mengabadikan seorang filsuf. Nama para hakimnya hilang ditelan waktu, tetapi nama Socrates tetap hidup hingga hari ini.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan kita. Jika kita mengagumi Socrates karena keberaniannya, mengapa kita sendiri begitu takut tidak disukai? Mengapa kita memilih diam ketika memiliki gagasan yang lebih baik, atau berkata "ya" ketika hati sebenarnya ingin berkata "tidak"?


Psikolog Roy Baumeister dan Mark Leary menjelaskan bahwa kebutuhan untuk diterima merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Selama ratusan ribu tahun evolusi, manusia yang dikucilkan dari kelompok memiliki peluang hidup yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang diterima. Karena itu, rasa takut ditolak tertanam sangat dalam dalam diri kita (Baumeister & Leary, 1995).


Temuan itu diperkuat oleh penelitian Naomi Eisenberger dan Matthew Lieberman. Mereka menemukan bahwa penolakan sosial diproses oleh area otak yang juga terlibat ketika seseorang merasakan nyeri fisik. Tidak heran jika kritik, penolakan, atau komentar sinis kadang terasa benar-benar menyakitkan (Eisenberger et al., 2003).
Memahami rasa takut bukan berarti menyerah kepadanya. Justru dari pemahaman itulah keberanian lahir.


Dalam The Courage to Be Disliked, Alfred Adler mengingatkan bahwa penderitaan sering kali muncul ketika kita menjadikan pengakuan orang lain sebagai ukuran nilai diri. Setiap kali kita menggantungkan harga diri pada penilaian orang lain, saat itu pula kita menyerahkan kemudi kehidupan kepada mereka.


Karena itu, Adler menawarkan konsep separation of tasks atau pemisahan tugas. Tugas kita adalah bertindak jujur, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Apakah mereka menerima, memuji, atau membenci kita, itu adalah tugas mereka—bukan tugas kita.

Orang yang ingin disukai semua orang hampir tidak pernah mengubah dunia.

Gagasan itu mengingatkan pada kisah Alexander Agung ketika berdiri di depan Simpul Gordia. Selama bertahun-tahun, banyak orang berusaha mengurai simpul itu karena mereka percaya itulah satu-satunya cara untuk menyelesaikan persoalan. Alexander justru menghunus pedangnya dan menebas simpul itu dalam satu ayunan.
Alexander tidak sedang menebas tali. Ia sedang menebas cara berpikir lama yang membuat semua orang terjebak pada persoalan yang sama.


Bukankah kita juga demikian? Kita menghabiskan begitu banyak waktu mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah berada dalam kendali kita: penilaian orang lain. Kita ingin semua orang memahami pilihan kita, menyetujui keputusan kita, dan menyukai diri kita. Semakin keras kita mengurai simpul itu, semakin kusut hidup kita.


Mungkin yang perlu kita tebas bukan hubungan dengan orang lain. Yang perlu kita tebas adalah keyakinan bahwa harga diri kita bergantung pada persetujuan mereka.
Socrates memahami hal itu ketika memilih meminum racun. Alexander memahaminya ketika menghunus pedang. Adler memahaminya ketika mengatakan bahwa keberanian terbesar manusia adalah keberanian untuk tidak disukai. 


Socrates kehilangan hidupnya.
Alexander mempertaruhkan keyakinannya.
Adler mempertanyakan cara kita menjalani hidup.
Ketiganya mengajarkan pelajaran yang sama.
Kita tidak kehilangan kebebasan ketika orang lain menolak kita. Kita kehilangan kebebasan ketika kita mulai hidup demi mencegah penolakan itu. 

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000