Esai

Tebakan

SW60Plus.com, 04 Juli 2026, 08:41 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 75x dilihat

STEPHANE Bancel adalah CEO Moderna, perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat yang kemudian dikenal luas karena keberhasilannya mengembangkan vaksin COVID-19. Menariknya, Bancel bukan seorang dokter ataupun ahli epidemiologi. Ia adalah seorang insinyur kimia yang kemudian meraih gelar MBA dari Harvard University. 
Namun, selama bertahun-tahun ia memiliki ketertarikan yang besar terhadap sejarah penyakit menular. Ia banyak membaca tentang berbagai pandemi besar, termasuk pandemi influenza tahun 1918 yang mengubah kehidupan jutaan orang di seluruh dunia.
Pengetahuan itulah yang membuat Bancel melihat pandemi COVID-19 lebih cepat dibanding banyak orang lain. 
Pada liburan Natal tahun 2019, ia membaca sebuah artikel singkat tentang munculnya virus baru di Tiongkok. 
Bagi sebagian besar pembaca, berita tersebut mungkin tidak terlihat istimewa. Akan tetapi, bagi Bancel, informasi itu terasa mengkhawatirkan. Ia kemudian mencoba membuat simulasi sederhana menggunakan Excel untuk memperkirakan bagaimana virus tersebut dapat menyebar. Dari perhitungan itu, ia sampai pada kesimpulan bahwa dunia kemungkinan sedang menghadapi ancaman pandemi global.
Beberapa minggu kemudian, di Davos, Swiss, orang-orang masih membicarakan ekonomi global, investasi, dan masa depan bisnis. Namun di tengah berbagai diskusi itu, Bancel justru memikirkan sesuatu yang berbeda. Ia membayangkan bagaimana sebuah virus yang saat itu masih jauh di Wuhan mungkin akan segera mengetuk pintu negara-negara lain. 
Di sana ia berdiskusi dengan sejumlah pakar kesehatan masyarakat dan semakin yakin bahwa situasinya jauh lebih serius daripada yang diperkirakan banyak orang. Saat itulah ia mulai memikirkan satu pertanyaan penting: apakah Moderna memiliki kemampuan untuk membantu mengatasi krisis yang sedang berkembang ini?
Jawabannya ada pada teknologi messenger RNA atau mRNA yang selama bertahun-tahun dikembangkan oleh Moderna. Teknologi tersebut memungkinkan para ilmuwan merancang kandidat vaksin hanya berdasarkan informasi genetik virus. Berbeda dengan pendekatan vaksin tradisional yang sering membutuhkan waktu lama, platform mRNA menawarkan peluang untuk bergerak jauh lebih cepat.
Menyadari potensi tersebut, Bancel segera mengambil keputusan besar. Ia menghubungi Noubar Afeyan, salah satu pendiri Moderna, dan mengusulkan agar perusahaan memusatkan seluruh perhatian pada pengembangan vaksin COVID-19. Keputusan ini sangat berisiko. Saat itu Moderna belum pernah memiliki vaksin yang dipasarkan secara luas dan jumlah karyawannya hanya sekitar 800 orang. Jika proyek ini gagal, masa depan perusahaan dapat terancam.
Bancel tahu satu hal. Waktu tidak akan menunggu mereka. Virus terus bergerak. Kalau Moderna terlalu lama berpikir, kesempatan itu bisa hilang begitu saja. Karena itu, setelah keputusan dibuat, Moderna langsung masuk ke dalam apa yang disebut sebagai “mode krisis”. Berbagai prosedur yang biasanya memerlukan waktu panjang dipersingkat. Jalur komunikasi dibuat lebih sederhana. Semua tim diarahkan untuk bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu menghasilkan kandidat vaksin secepat mungkin.
Lalu datanglah momen yang mengubah segalanya.
Para ilmuwan Tiongkok merilis urutan genetik virus SARS-CoV-2.
Bagi kebanyakan orang, deretan kode genetik itu mungkin hanya kumpulan huruf dan angka yang sulit dipahami. Namun bagi tim Moderna, itu seperti seseorang baru saja menyerahkan peta menuju garis start.

Pemimpin tidak menunggu kepastian, melainkan berani memulai ketika yang lain masih kebingungan memahami keadaan.

Mereka bekerja dalam tempo yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap hari terasa penting karena virus terus menyebar ke berbagai negara.
Keputusan cepat yang diambil Bancel mulai menunjukkan hasil. Hanya 34 hari setelah urutan genetik virus dipublikasikan, Moderna berhasil menghasilkan kandidat vaksin dan mengirimkannya untuk memasuki tahap pengujian klinis. Dalam dunia farmasi, pencapaian seperti ini hampir sulit dipercaya. Pengembangan kandidat vaksin biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Namun, dalam situasi darurat global, Moderna berhasil melakukannya hanya dalam waktu sedikit lebih dari satu bulan.
Saat membaca bagian ini dari artikel Leadership lessons from Moderna's COVID-19 vaccine development tulisan Bancel, saya justru merasa teknologi bukan tokoh utama dalam cerita tersebut. Teknologi mRNA memang penting, tetapi teknologi tidak pernah menelepon orang tengah malam untuk mengambil keputusan. Yang melakukannya adalah manusia. Dalam kasus Moderna, manusia itu bernama Stéphane Bancel.
Ia tidak menunggu semua informasi tersedia sebelum bertindak. Ia juga tidak menunggu kepastian bahwa proyek tersebut akan berhasil. Sebaliknya, ia mengambil keputusan berdasarkan data terbaik yang dimiliki saat itu dan berani menanggung risiko yang muncul dari keputusan tersebut.
Kadang-kadang kepemimpinan memang bukan soal memiliki semua jawaban. Akan tetapi, pandemi menunjukkan bahwa menunggu terlalu lama juga memiliki risiko yang besar. Bancel memahami hal tersebut. Karena itulah ia memilih bergerak cepat, bahkan ketika hasil akhirnya belum dapat dipastikan.
Pada akhirnya, kandidat vaksin yang dikembangkan dalam waktu 34 hari itu menjadi fondasi bagi vaksin Moderna yang kemudian digunakan di berbagai negara. Jutaan orang memperoleh perlindungan dari vaksin tersebut, sementara Moderna berkembang menjadi salah satu perusahaan bioteknologi paling berpengaruh di dunia.
Yang membuat kisah Bancel menarik bukan hanya keberhasilan Moderna menghasilkan vaksin. Banyak perusahaan memiliki teknologi yang baik. Perbedaannya terletak pada keberaniannya dalam mengambil keputusan ketika informasi yang tersedia masih sangat terbatas. Ia memilih bergerak ketika sebagian besar orang masih mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Yang paling menarik bagi saya bukanlah fakta bahwa Moderna akhirnya berhasil. Yang menarik adalah keputusan itu dibuat ketika keberhasilan masih terlihat seperti tebakan.
Pada Januari 2020, tidak ada yang tahu pandemi akan berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak ada yang tahu vaksin itu akan berhasil. Bahkan tidak ada yang tahu seberapa besar ancaman virus tersebut.
Namun, Bancel tetap bergerak.
Kadang-kadang kepemimpinan memang bukan soal memiliki semua jawaban. Kadang-kadang kepemimpinan adalah keberanian mengambil langkah pertama ketika sebagian besar orang masih sibuk bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Edhy Aruman

RUJUKAN
Bancel, S. (2024). Leadership lessons from Moderna's COVID-19 vaccine development. Dalam D. Maor, H.-W. Kaas, K. Strovink, & R. Srinivasan (Eds.), The journey of leadership: How CEOs learn to lead from the inside out. Portfolio/Penguin.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000