Terlibat
KADANG-kadang kita mudah menilai hidup orang lain dari kejauhan. Kita melihat orang miskin dan berpikir mereka hanya perlu bekerja lebih keras.
Padahal, kita tidak pernah tahu bagaimana rasanya bekerja dari pagi sampai malam, tetapi tetap tidak punya cukup uang untuk hidup. Ada bagian dari kehidupan orang lain yang memang tidak terlihat dari tempat kita berdiri.
Beatrice Webb pernah menjadi orang seperti itu. Lahir pada 1858 dari keluarga Inggris yang kaya dan berpengaruh, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras, disiplin, dan karakter adalah jalan utama untuk memperbaiki nasib.
Pemikiran Herbert Spencer ikut membentuk cara pandangnya. Kemiskinan mudah terlihat sebagai kegagalan pribadi: kurang rajin, kurang hemat, atau kurang mampu menolong diri sendiri.
Lalu pada 1887, Beatrice melakukan sesuatu yang perlahan meruntuhkan keyakinannya. Ia mencoba menjalani sendiri kehidupan yang selama ini hanya ia amati.
Ketika membantu penelitian Charles Booth tentang kemiskinan London, Beatrice merasa laporan dan statistik tidak lagi cukup. Ia mengenakan rok usang dan sepatu bot tanpa kancing, lalu berjalan ke East End untuk mencari pekerjaan seperti perempuan miskin.
Sebuah usaha pakaian kecil akhirnya menerimanya sebagai buruh kasar. Di ruangan sempit dan pengap, sekitar tiga puluh perempuan dan gadis berdesakan melakukan pekerjaan borongan dalam hari kerja yang panjang.
Beatrice mencoba mengikuti mereka. Tangannya lambat, jahitannya sering salah, jari-jarinya sakit, dan punggungnya terasa seperti hendak patah.
Tetapi rasa sakit bukanlah hal yang paling mengguncangnya. Yang paling mengguncang adalah kesadaran bahwa bagi dirinya semua ini hanya sementara.
Bagi Beatrice, penderitaan itu mempunyai tanggal berakhir. Bagi perempuan itu, besok pagi adalah pengulangan.
Di situlah keyakinannya mulai retak. Jika kemiskinan terjadi karena orang miskin tidak bekerja cukup keras, lalu bagaimana menjelaskan perempuan yang bekerja sampai tubuhnya sakit tetapi tetap miskin?
Beatrice hanya bertahan empat hari. Namun terkadang empat hari di dalam kenyataan mampu melakukan sesuatu yang gagal dilakukan teori selama bertahun-tahun.
Inilah paradoks empati. Kita sering paling yakin menilai kehidupan yang paling sedikit pernah kita alami.
Dari rumah yang nyaman, kemiskinan terlihat seperti persoalan pilihan. Dari bangku kerja setelah berjam-jam menjahit, pertanyaannya berubah dari “Mengapa mereka tidak bekerja lebih keras?” menjadi “Berapa lama manusia sanggup hidup seperti ini?”
Ada kehidupan yang tak akan kita pahami hanya dengan melihat dari jauh
Lebih dari tujuh puluh tahun kemudian, John Howard Griffin menghadapi persoalan serupa di Amerika. Pada 1959, penulis kulit putih asal Texas itu merasa ada sesuatu tentang rasisme yang tidak akan pernah ia pahami selama ia selalu melihatnya dari tubuh yang dilindungi oleh warna kulitnya.
Dengan bantuan medis, Griffin menggelapkan warna kulitnya dan melakukan perjalanan selama beberapa minggu di Deep South. Jalan-jalannya tetap sama, tetapi dunia di sekelilingnya berubah.
Tatapan berubah. Perlakuan berubah, pilihan menyempit, dan penghinaan yang sebelumnya merupakan informasi kini menjadi pengalaman sehari-hari.
Griffin kemudian menuliskannya dalam buku Black Like Me. Seperti Beatrice, ia menemukan bahwa ketidakadilan terlihat sangat berbeda ketika berhenti menjadi sesuatu yang terjadi pada “mereka”.
Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh kita romantisasi dari kedua eksperimen itu. Beatrice tidak pernah benar-benar menjadi buruh miskin, sebagaimana Griffin tidak pernah benar-benar menjadi orang kulit hitam Amerika.
Mereka memiliki kemewahan yang tidak dimiliki orang-orang yang kehidupan mereka masuki. Mereka mempunyai pintu keluar.
Beatrice dapat melepaskan pakaian lusuhnya. Griffin pada akhirnya dapat kembali hidup sebagai laki-laki kulit putih.
Justru di situlah makna empati menjadi lebih dalam. Empati bukan mengatakan, “Sekarang aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi dirimu.”
Empati justru dimulai dengan kerendahan hati untuk berkata, “Ternyata selama ini ada begitu banyak hal tentang hidupmu yang tidak pernah kulihat.”
Menurut Roman Krznaric, empati bukan sekadar merasa kasihan. Empati adalah keberanian mencoba melihat dunia dari posisi orang lain, lalu membiarkan apa yang kita pahami mengubah cara kita bertindak.
Salah satu caranya adalah mendekati kehidupan yang berbeda dari kehidupan kita sendiri. Itulah yang dilakukan Beatrice dan Griffin: memperpendek jarak antara pendapat dan pengalaman.
Sebab angka bisa menunjukkan berapa banyak orang yang miskin. Statistik bisa menunjukkan kesenjangan, diskriminasi, pengangguran, atau produktivitas.
Tetapi angka tidak mempunyai punggung yang sakit setelah bekerja seharian. Persentase tidak pernah menerima tatapan kebencian saat berjalan pulang.
Data memberi kita pola. Empati mengembalikan manusia ke dalam pola itu.
Karena itu kita tidak perlu menyamar seperti Beatrice atau Griffin. Namun, kita perlu menciptakan lebih banyak kesempatan agar kenyataan itu mengganggu keyakinan kita.
Bayangkan seorang direktur yang membaca laporan bahwa waktu tunggu pelanggan meningkat tujuh menit. Angka itu mungkin hanya satu sel merah dalam presentasi, sampai ia duduk di ruang tunggu dan melihat seorang ibu menggendong anak yang menangis sambil berkali-kali melihat jam karena sebentar lagi ia harus kembali bekerja.
Tidak ada data baru di sana. Yang berubah adalah jarak.
Mungkin itulah praktik empati yang paling sederhana. Sebelum menilai orang, mendekatlah; sebelum membuat keputusan tentang kehidupan mereka, dengarkan bagaimana keputusan itu terasa dari sisi mereka.
Dan sebelum kalimat “Seharusnya mereka...” keluar dari mulut kita, tahan sebentar. Gantilah dengan pertanyaan yang jauh lebih berbahaya: “Apa yang belum saya lihat dari tempat saya berdiri sekarang?”
Lebih dari seratus tahun setelah Beatrice memasuki East End, kita hidup pada zaman yang mengetahui manusia secara luar biasa rinci. Kita mengetahui klik mereka, pendapatan mereka, lokasi mereka, produktivitas mereka, preferensi mereka, bahkan berapa detik mereka berhenti menatap layar.
Kita mungkin menjadi generasi yang memiliki lebih banyak data tentang manusia daripada generasi mana pun sebelumnya. Tetapi mengetahui lebih banyak tentang manusia tidak otomatis membuat kita lebih memahami manusia.
Dan mungkin tragedi terbesar zaman kita bukanlah kekurangan informasi. Tragedinya adalah ketika kita mempunyai begitu banyak informasi tentang seseorang sehingga kita merasa tidak perlu lagi mendekatinya.
Beatrice Webb membutuhkan 4 hari untuk menyadari bahwa sebagian keyakinan yang selama ini terasa benar ternyata dibangun dari jauh. Yang seharusnya menghantui kita bukanlah bahwa Beatrice pernah salah.
Yang seharusnya menghantui kita adalah kemungkinan bahwa hari ini kita pun sedang keliru dalam menilai seseorang. Bukan karena kita jahat, tetapi karena kita masih melihat hidupnya dari jarak yang terlalu jauh.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar