Esai

Tidak!

SW60Plus.com, 06 Agustus 2026, 07:29 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 1x dilihat

SUATU hari, Arthur C. Brooks—profesor Harvard yang selama bertahun-tahun meneliti apa yang membuat manusia hidup lebih bahagia—menerima sebuah undangan yang terdengar terlalu menarik untuk ditolak. 
Ia diminta berbicara tentang sains kebahagiaan di sebuah pesta ulang tahun di Fairbanks, Alaska, sambil membuat balon berbentuk binatang untuk anak-anak yang hadir. Permintaan itu terdengar unik, sedikit konyol, tetapi justru di situlah letak pesonanya.
Tanpa banyak berpikir, Brooks langsung menjawab, "Ya, tentu saja." Dalam hitungan detik, ia membayangkan perjalanan yang menyenangkan, pengalaman yang tidak biasa, dan cerita yang suatu hari bisa ia bagikan kepada orang lain. Lagi pula, seberapa sering seorang profesor Harvard mendapat kesempatan mengajarkan kebahagiaan sambil memelintir balon menjadi jerapah?
Beberapa hari kemudian, keajaiban itu memudar. Ia membuka kalender, menghitung jam penerbangan, membayangkan pekerjaan yang harus ditunda, dan mulai merasakan beratnya komitmen yang telah ia buat. Undangan yang semula tampak seperti hadiah perlahan berubah menjadi beban.
Belakangan, Brooks menyadari sesuatu yang sangat sederhana, tetapi mengubah cara pandangnya. Masalahnya bukan Alaska. Bukan pula pesta ulang tahunnya.
Masalahnya adalah ia terlalu cepat jatuh cinta pada sebuah kemungkinan.
Kalimat itu seperti cermin. Kita jarang berkata "ya" kepada kenyataan. Kita lebih sering berkata "ya" kepada bayangan tentang kenyataan. Kita membayangkan pujian yang akan diterima, relasi yang akan terbangun, atau peluang yang akan terbuka. Yang jarang kita bayangkan adalah harga yang harus dibayar setelah semua itu benar-benar dimulai.
Bukankah kita semua pernah melakukannya? Kita menerima proyek tambahan karena terdengar menjanjikan. Kita menyanggupi undangan karena takut mengecewakan teman. Kita berkata, "Tenang, saya bisa," padahal daftar pekerjaan sudah hampir tumpah dari meja. Pada saat berkata "ya", kita merasa menjadi orang yang baik. Pada saat menjalaninya, kita diam-diam berharap ada yang membatalkannya.
Orang dewasa memiliki kebiasaan yang aneh. Kita sangat berhati-hati ketika mengeluarkan uang, tetapi sering kali begitu murah hati ketika membagikan waktu. Padahal uang bisa dicari kembali. Waktu tidak.
Arthur Brooks menjelaskan bahwa otak memang memiliki kelemahan itu. Ketika sebuah peluang baru muncul, sistem penghargaan di otak melepaskan dopamin yang membuat kesempatan tersebut tampak lebih indah daripada kenyataannya. Kita melihat hadiahnya lebih dulu, sementara tagihannya baru datang belakangan. Para psikolog menyebut kecenderungan ini sebagai hyperbolic discounting: kita memberi nilai lebih besar pada kesenangan hari ini daripada beban yang baru muncul esok.
Itulah sebabnya kalender bulan depan selalu terlihat begitu lapang. Kita membayangkan diri kita di masa depan akan lebih disiplin, lebih sehat, lebih efisien, dan entah bagaimana memiliki lebih banyak waktu. Padahal orang yang hidup bulan depan tetaplah kita juga, dengan tubuh yang sama, tenaga yang sama, dan dua puluh empat jam yang tidak pernah bertambah.
Kesempatan tidak pernah gratis. Ia selalu meminta bayaran berupa waktu. Pertanyaannya hanya satu: apakah harganya layak?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi mampu mengubah cara kita mengambil keputusan. Setiap "ya" selalu memiliki saudara kembar yang tidak terlihat: sebuah "tidak" kepada hal lain. Ya kepada rapat tambahan mungkin berarti tidak kepada makan malam bersama keluarga. Ya kepada proyek baru mungkin berarti tidak kepada kesehatan. Ya kepada permintaan orang lain bisa berarti tidak kepada impian yang diam-diam sedang menunggu perhatian kita.

Ada harga yang selalu tersembunyi di balik setiap kata "ya". Namanya: waktu.

Pelajaran yang sama pernah mengubah hidup Greg McKeown, penulis Essentialism. Ketika istrinya melahirkan anak mereka, Greg memilih tetap mendampingi keluarganya di rumah sakit. Namun, di saat yang sama, atasannya berharap ia hadir dalam sebuah rapat penting. Peristiwa itu mengguncangnya. 
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa jika ia tidak menentukan apa yang paling penting dalam hidupnya, orang lain akan dengan senang hati menentukannya.
Kesadaran itu melahirkan sebuah prinsip sederhana: jika kita tidak memilih prioritas, dunia akan memilihkannya untuk kita. Dan dunia hampir selalu memilih lebih banyak kesibukan daripada lebih banyak kehidupan.
Ada observasi lain yang juga menarik. Tidak ada orang yang berkata, "Aku terlalu sibuk," setelah menghabiskan tiga jam bermain dengan anaknya atau berjalan santai bersama pasangan. Kalimat itu hampir selalu muncul setelah kita menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sebenarnya tidak pernah kita pilih dengan sadar. Kesibukan sering kali bukan hasil dari keputusan besar, melainkan akumulasi dari ratusan kata "ya" yang keluar tanpa dipikirkan.
Lalu bagaimana cara keluar dari jebakan itu?
Brooks menawarkan tiga langkah yang sederhana. Pertama, jangan pernah merasa harus menjawab saat itu juga. Biasakan berkata, "Terima kasih. Izinkan saya memikirkan dulu." Dua puluh empat jam sering kali cukup untuk membiarkan antusiasme mereda dan kebijaksanaan mengambil alih.
Kedua, ubahlah jawaban bawaan Anda. Jangan menganggap "ya" sebagai respons otomatis. Mulailah dari "tidak", lalu ubahlah menjadi "ya" hanya jika kesempatan itu benar-benar selaras dengan nilai hidup Anda.
Ketiga, jangan berjuang sendirian. Brooks menceritakan empat ilmuwan perempuan yang membentuk No Club, sebuah kelompok kecil yang saling mendukung untuk berani menolak tugas-tugas tambahan yang tidak lagi menjadi prioritas. Mereka merayakan setiap kata "tidak", karena setiap penolakan berarti ada ruang hidup yang berhasil dipertahankan.
Pada akhirnya, saya teringat kisah Bronnie Ware, seorang perawat yang bertahun-tahun mendampingi pasien menjelang akhir hayat. Ia mendengar banyak penyesalan, tetapi hampir tidak pernah mendengar seseorang berkata, "Seandainya aku menghadiri lebih banyak rapat," atau, "Seandainya aku menerima lebih banyak pekerjaan." 
Yang paling sering ia dengar justru kerinduan untuk memiliki lebih banyak waktu bersama orang-orang yang dicintai dan keberanian menjalani hidup sesuai pilihan sendiri.
Barangkali itulah makna terdalam dari mengatakan "tidak". Bukan menolak orang lain, melainkan berhenti meninggalkan diri sendiri. Sebab hidup tidak dibentuk oleh semua kesempatan yang datang menghampiri kita. Hidup dibentuk oleh kesempatan yang dengan sadar kita pilih untuk diberi sebagian dari waktu kita.
Suatu hari nanti, kalender kita semua akan kosong. Bukan karena akhirnya kita pandai berkata "tidak", tetapi karena waktu memang telah selesai menjalankan tugasnya. Ketika hari itu tiba, dunia tidak akan bertanya berapa banyak undangan yang pernah kita terima. Dunia hanya menyisakan satu pertanyaan yang sangat sunyi:
Apakah hidup ini benar-benar hidup yang kupilih sendiri?

Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000