Usia Menua Nurani Bersuara
Menjelang deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+), gaungnya bersambut di dunia maya. Dukungan berdatangan, tetapi tak sedikit pula yang menyelipkan satire—bahkan guyon: lansia itu sudah bau tanah. Heum…
SW60+ berangkat dari obrolan ringan para kolega saat menghadiri puncak Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2026 di Serang, Banten. Nama seperti Wahyu Muryadi, Firdaus Baderi, Rahmi Hidayati, dan Marthen Selamet Susanto menggagas satu ikhtiar: menggalang potensi wartawan senior untuk terus berkarya dan menebar kebaikan—tanpa kecuali—demi cita-cita berbangsa.
Argumennya sederhana, tetapi kuat. Wartawan senior bukan hanya memiliki kemampuan mencari, menggali, mengolah, hingga menyampaikan informasi berbasis fakta. Mereka juga memiliki jaringan luas, pengalaman panjang, serta karakter sosial yang relatif egaliter—nyaris tanpa sekat.
Dari situ, inisiator menggelar konsolidasi yang melibatkan 17 orang. Pertemuan berlangsung di sebuah kedai kopi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Hasilnya: kesepakatan bulat untuk segera mendirikan perkumpulan bernama SW60+.

Selembar dokumen pesanan untuk pertemuan pertama pendiri SW 60+, diteken Rahmi Hidayati. (*)
Diskusi lanjutan digelar—masih di kedai yang sama, lalu berlanjut ke warung kopi di Bendungan Hilir, hingga rumah makan tradisional di kompleks TVRI, Senayan. Meski masih embrio, jejak digitalnya cepat menyebar. Maklum, wartawan memang gemar woro-woro. Respons pun berdatangan: “Oye… ikut gabung!”
Namun di antara antusiasme itu, terselip komentar miring—atau mungkin sekadar guyon: lansia sudah bau tanah. Ada juga suara kelompok oposan yang dijawab Wahyu Muryadi, “Bukan ini oplosan”. Oplosan dari berbagai macam industry dan media.
Usia tua adalah anugerah. Bisa tetap berinteraksi secara positif, apalagi dengan kawan lama, adalah berkah tersendiri. Tetapi menikmati berkah itu tidak selalu mudah. Ia membutuhkan ikhtiar.
Sekadar ilustrasi: hampir setiap hari tampak penghuni panti sosial milik Pemprov DKI Jakarta di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Lokasinya hanya dipisahkan pagar dari lingkungan permukiman. Sekitar 250 lansia—laki-laki dan perempuan—hidup dengan kebutuhan dasar yang terjamin, tetapi tetap menyisakan rasa pilu.
Boro-boro bertemu kawan lama, sanak keluarga pun entah di mana. Hari-hari mereka berjalan seperti penantian panjang—menunggu, dan terus menunggu, hingga tiba jemputan menuju kehidupan abadi.
Di sisi lain, ada kabar baik. Program jaminan sosial kesehatan yang diselenggarakan negara berdampak positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan BPJS Kesehatan menunjukkan jumlah lansia di Indonesia terus meningkat, seiring naiknya usia harapan hidup.
Pada 2024, usia harapan hidup rata-rata mencapai 74,15 tahun, naik dari 73,93 tahun pada 2023. Jumlah lansia pada 2025 diperkirakan mencapai 33,94 juta jiwa atau 11,93 persen dari total populasi. Dari jumlah itu, sekitar 1,71 juta jiwa hidup sendirian.
Namun, ketika kondisi sosial-ekonomi tak selalu berpihak, muncul pemandangan lain: lansia duduk di teras rumah, menatap kosong. Plonga-plongo.
Berbeda dengan itu, watak dasar wartawan cenderung ekstrovert. Terbiasa bergaul, terbuka, dan egaliter. Bahkan hingga usia senja, kebutuhan untuk tetap terhubung dengan sesama tidak pernah hilang.
Dalam konteks itulah, bergabung dengan SW60+ menjadi pilihan yang relevan—bahkan strategis. Ia bukan sekadar wadah, tetapi ruang solidaritas. Tempat saling menguatkan, berbagi pengalaman, sekaligus menjaga martabat agar tidak terjebak dalam kesunyian yang memilukan.
Menguatkan solidaritas wartawan senior juga berarti menghidupkan kembali tanggung jawab sosial: memanusiakan manusia. Mereka yang telah menikmati kemerdekaan pers selama puluhan tahun—minimal seperempat abad—memiliki bekal yang cukup untuk meredupkan, bahkan memadamkan, bara arogansi dalam kehidupan publik.
Maka, satire bahwa lansia sudah “bau tanah” mungkin adalah bagian dari takdir yang tak terelakkan. Namun sebelum waktu benar-benar menjemput, masih ada ruang untuk berbuat.
Selagi bisa, mari kita kuatkan kiprah SW60+.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar