Welcome Home: Dua Kata, Seuntai Janji (Telaah Ringan tentang Komunikasi Publik Lawrence Wong)
DEWASA ini, rasa-rasanya tak mudah untuk menemukan seorang pemimpin yang lewat pidato ataupun pernyataan publiknya mampu menenangkan dan menumbuhkan optimisme di hati rakyat. Sebaliknya, publik kerap disuguhi adegan dimana pemimpin mempertontonkan kekuasaan dan tepuk dada, ataupun menyampaikan pidato dengan suara menggelegar, dengan janji manis yang diumbar namun kisruh dalam penerapannya. Bahkan tak jarang pula publik harus mengelus dada menyaksikan pemimpin yang justru memicu kontroversi dan kegaduhan lewat sejumlah pernyataannya.
Di tengah situasi semacam ini, dalam beberapa waktu terakhir saya menemukan contoh yang berbeda pada Lawrence Wong, Perdana Menteri Singapura. Entah bagaimana algoritma media sosial bekerja, potongan video pidatonya cukup sering muncul di timeline saya, meskipun saya tidak secara khusus mengikuti akun atau mencari-cari rekamannya. Saya menyimaknya bukan lantaran kehebatan retorika yang dia miliki, melainkan kemampuannya menjelaskan persoalan dengan jernih, menunjukkan dengan terang arah yang hendak ditempuh, dan memberikan alasan yang masuk akal mengapa rakyat perlu untuk tetap menggenggam harapan.
Tentu potongan video media sosial merupakan hasil seleksi, dan tim komunikasi pemerintah pasti memilih bagian yang paling menarik untuk disebarluaskan. Namun, setelah menyimak beberapa pidatonya secara lebih utuh, saya menemukan pendekatan yang relatif konsisten. Wong tak sekadar menawarkan optimisme, melainkan berusaha menjelaskan dasar optimisme tersebut. Perbedaan ini penting, sebab harapan yang dibangun di atas penjelasan dan tindakan jauh lebih berharga daripada semangat sesaat yang dibangkitkan oleh retorika.
Dua Kata di Riyadh
Salah satu penggalan pidato Wong yang paling membekas bagi saya berasal dari May Day Rally, peringatan Hari Buruh di Singapura, 1 Mei lalu. Dalam rekaman pidato lengkap yang berdurasi sekitar 48 menit itu (bagi yang berminat menontonnya, bisa dicek di tautan ini: www.youtube.com/watch?v=dn1syFajWw0), Wong membicarakan berbagai tantangan yang dihadapi negaranya, mulai dari konflik geopolitik dan ancaman krisis energi hingga perubahan besar dunia kerja akibat kecerdasan buatan.
Bagian yang paling menyentuh muncul menjelang akhir, di sekitar menit ke-43, ketika dia membacakan surat pembaca yang diterbitkan harian The Straits Times pada 12 Maret. (Ini tautan ke surat pembaca tersebut: https://www.straitstimes.com/opinion/forum/forum-what-welcome-home-means-to-a-singaporean-on-board-an-rsaf-evacuation-flight?).
Penulisnya, Nisar Keshvani, adalah warga Singapura berusia 50 tahun yang bekerja sebagai Pembantu Dekan Fakultas Komunikasi di Universitas Northwestern di Doha, Qatar. Bersama istri dan kedua anaknya, dia termasuk di antara 218 warga Singapura yang dievakuasi dari Riyadh, Arab Saudi, menggunakan pesawat Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) pada tanggal 10 Maret lalu, di tengah-tengah situasi konflik di Timur Tengah. Nisar menulis kisah tersebut bersama keluarganya dalam penerbangan pulang, semula sebagai ungkapan terima kasih kepada pemerintah dan petugas yang menolong mereka. Setelah tiba di Singapura, surat tersebut dikirimkannya kepada Kedutaan Besar Singapura di Qatar, sejumlah pihak yang membantu proses evakuasi, serta rubrik Forum di harian The Straits Times.
Ketika Nisar dan keluarganya menaiki pesawat evakuasi Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF), seorang anggota angkatan udara menyambut mereka dengan dua kata: ”Welcome Home”. Padahal, mereka masih berada di tanah bangsa lain (Arab Saudi) dan pesawat belum lagi meninggalkan landasan. Namun, ucapan tersebut seketika mengubah suasana. Sebagian penumpang tersenyum, sebagian menyeka air mata, dan ketika pesawat akhirnya lepas landas, mereka bertepuk tangan serta mulai menyanyikan “Majulah Singapura”, lagu kebangsaan negeri tetangga kita itu.
Dalam suratnya, Nisar menulis bahwa rumah bukkan semata-mata satu tempat di hamparan peta, melainkan satu perasaan memiliki dan keyakinan bahwa ketika keadaan memburuk, negara akan hadir dan datang untuk mengulurkan tangan menolong warganya. Kehadiran anggota angkatan udara di pintu pesawat membuat mereka merasa telah pulang, sekalipun masih berada ribuan kilometer dari tanah air. Negara, yang biasanya hadir melalui berbagai ketentuan dan peraturan, dan hal ihwal urusan administratif yang tak jarang membuat pusing kepala, mendadak memperoleh wujud yang sangat manusiawi, yaitu anggota AU yang datang menjemput ketika mereka membutuhkan pertolongan.
Ketika membacakan bagian surat tersebut, sepasang mata Wong tampak berkaca-kaca. Beberapa kali dia tercekat dan berhenti sejenak, untuk menguasai perasaannya. Bahkan dia harus mengambil gelas berisi air yang tersedia di sisi kirinya, meneguk isinya beberapa detik, sebelum meneruskan membaca surat Nisar. Namun, yang menarik bukan semata-mata emosinya, melainkan bagaimana dia menghubungkan pengalaman satu keluarga dengan tanggung jawab pemerintah menghadapi berbagai tantangan lain, termasuk ketidakpastian ekonomi dan perubahan teknologi. Pesannya jelas, bahwa negara harus memastikan bahwa tidak ada warga yang ditinggalkan ketika situasi sulit mulai tampak di ambang mata.
Nisar sendiri sama sekali tak menyangka surat tersebut kelak dibacakan oleh perdana menterinya dalam pidato pada peringatan Hari Buruh di tanggal 1 Mei itu. Dia baru mengetahui hal itu setelah menerima sejumlah pesan dari orang-orang yang menyaksikan pidato Wong. Dia pun lalu mencari dan menonton sendiri rekamannya. Dalam wawancara dengan Channel NewsAsia beberapa hari kemudian, Nisar mengaku sangat tersentuh menyaksikan Wong membacakan suratnya itu.
Kekuatan kisah ini terletak pada kenyataan bahwa operasi penyelamatan telah berlangsung sebelum Wong membicarakannya di hadapan publik. Pesawat disiapkan dan dikirim, dan warga kemudian dievakuasi, melibatkan sejumlah institusi pemerintah bekerja untuk memungkinkan kepulangan mereka. Wong tidak menciptakan keberhasilan tersebut melalui pidatonya, tetapi dia memahami makna yang terkandung di dalamnya. Suatu operasi yang semula dapat dilaporkan sebagai keberhasilan logistik, lalu diangkat ke tataran lebih tinggi, yaitu mengenai seuntai janji negara kepada rakyatnya yang diwakili dengan ucapan hangat berisi dua kata tersebut: “Welcome Home”.
Namun, jangan membayangkan Lawrence Wong sebagai pemimpin yang selalu berbicara dengan nada lembut dan menyejukkan. Ada kalanya dia tampak keras dan tegas. Contohnya pada pidatonya di National Day Rally pada 17 Agustus 2025, ketika menyoroti maraknya penggunaan vape, terutama yang mengandung zat berbahaya seperti etomidate. Singapura sebenarnya telah melarang vape sejak 2018, tetapi penyelundupan dan peredarannya terus berlangsung, termasuk di kalangan anak muda. Wong menyatakan bahwa pendekatan lama, yang terutama mengandalkan denda, tak lagi memadai. Karena itu, kini pemerintah akan memperlakukan penyalahgunaan vape berbahaya sebagai persoalan narkoba, memperberat hukuman terhadap para pemasok, sekaligus menyediakan pengawasan dan rehabilitasi bagi pengguna yang mengalami ketergantungan. Pernyataan tersebut kemudian diikuti pengetatan penegakan hukum dan perubahan undang-undang yang mulai berlaku pada Mei 2026.
Contoh ini penting juga untuk dipaparkan, untuk memperlihatkan bahwa kepemimpinan yang menenteramkan tidak identik dengan sikap lunak atau keengganan mengambil keputusan keras. Wong menjelaskan ancamannya, menunjukkan mengapa kebijakan sebelumnya tidak lagi memadai, kemudian mengarahkan tindakan pemerintah untuk mengatasinya. Dia dapat bersikap empatik kepada warga yang membutuhkan pertolongan, tetapi juga tegas menghadapi perilaku yang membahayakan masyarakat.
Membincangkan Wong Bersama Dubes Suryopratomo
Ketika mencoba menimbang lebih jauh sosok Wong, ingatan saya melayang ke satu momen di Singapura beberapa tahun lalu. Pada pertengahan tahun 2023 itu, saya bersama istri dan anak sulung melancong ke negeri tersebut selama beberapa hari. Kami menyempatkan diri mengunjungi Suryopratomo, kawan sekaligus senior saya ketika sama-sama bekerja sebagai wartawan di harian Kompas sekian puluh tahun silam. Mas Tommy, panggilan akrabnya, ketika itu menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura.
Dalam perbincangan santai di kediamannya itu, salah satu topik yang muncul adalahproses suksesi kepemimpinan Singapura. Mas Tommy antara lain bercerita mengenai dua tokoh yang sedang menonjol, yakni Tharman Shanmugaratnam dan Lawrence Wong. Tharman, yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan, sedang bersiap mengikuti pemilihan presiden, sedangkan Wong telah dipersiapkan sebagai penerus Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Keduanya memiliki pengalaman panjang sebagai teknokrat dan pejabat pemerintahan, meskipun menempuh jalur kepemimpinan yang berbeda.
Perkembangan selanjutnya yang dialami oleh kedua sosok itu berjalan sesuai dengan apa yang sudah kami duga. Tharman terpilih menjadi Presiden Singapura pada September 2023, sementara Wong dilantik sebagai Perdana Menteri di tanggal 15 Mei 2024. Dua tokoh yang dibicarakan Mas Tommy kini menduduki dua jabatan tertinggi dalam struktur ketatanegaraan Singapura, dengan kewenangan yang berbeda. Proses tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana Singapura mempersiapkan pergantian kepemimpinan melalui kaderisasi yang relatif panjang, meskipun berlangsung dalam sistem politik yang selama puluhan tahun didominasi Partai Aksi Rakyat (PAP).
Reputasi Wong sebagai komunikator publik mulai terbentuk ketika Singapura menghadapi pandemi Covid-19. Sejak Januari 2020, dia dipercaya menjadi salah satu ketua bersama Multi-Ministry Taskforce, gugus tugas lintas kementerian yang mengkoordinasikan penanganan pandemi. Ketika itu dia menjabat Menteri Pembangunan Nasional (sebelum kemudian menjadi Menteri Pendidikan, lalu Menteri Keuangan, dan Wakil PM). Dalam kapasitas tersebut, berulang kali dia tampil menjelaskan perkembangan penularan, alasan pembatasan kegiatan, serta langkah-langkah pemerintah menghadapi krisis.
Pekerjaan itu menuntut kemampuan yang tidak sederhana. Informasi ilmiah terus berkembang, keputusan harus diambil dengan cepat, sementara kebijakan yang dianggap tepat pada suatu waktu dapat memerlukan penyesuaian beberapa minggu kemudian. Wong berusaha menjelaskan alasan perubahan tersebut secara sistematis, termasuk ketika pemerintah belum memiliki jawaban pasti. Di bulan Maret 2020, dia sempat menangis ketika menyampaikan penghargaan kepada tenaga kesehatan dan petugas garis depan. Namun, penampilannya secara keseluruhan tetap mencerminkan seorang pejabat yang serius dan menguasai persoalan.
Kejelasan Visi dan Arah
Setelah menjadi PM, Wong berusaha merumuskan arah pembangunan melalui gagasan Forward Singapore, yang proses konsultasinya telah dimulai sebelum dia memimpin pemerintahan. Program tersebut melibatkan berbagai kelompok masyarakat untuk membicarakan harapan, kecemasan, dan pilihan jalan masa depan yang akan ditempuh Singapura. Wong memahami bahwa keberhasilan ekonomi selama beberapa dasawarsa tidak menjamin negara kecil tersebut akan terus berhasil dengan cara-cara yang sama. Persaingan global semakin ketat, penduduk kian menua dari segi usia, dan perubahan teknologi berpotensi membawa guncangan bagi dunia kerja.
Dalam berbagai pidatonya, Wong menghubungkan persoalan-persoalan tersebut dengan kebutuhan memperbarui kontrak sosial Singapura. Dia berbicara mengenai kesempatan kerja, dukungan bagi keluarga, biaya hidup, perumahan, serta perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang rentan tertinggal. Ketika membahas kecerdasan buatan, misalnya, dia tak hanya menekankan peluang meningkatkan produktivitas, melainkan juga kebutuhan melatih ulang pekerja yang menghadapi perubahan jenis pekerjaan. Teknologi dipandang sebagai sarana memperkuat kemampuan masyarakat, bukan tujuan yang harus dikejar tanpa memperhitungkan akibat sosialnya.
Tentu visi yang disampaikan dengan baik tidak menjamin keberhasilan saat dilaksanakan. Singapura tetap menghadapi setumpuk persoalan, mulai dari biaya hidup tinggi, persaingan pendidikan dan pekerjaan, tekanan terhadap keluarga muda, serta ketimpangan yang menjadi sumber kegelisahan sebagian masyarakat. Keberhasilan Forward Singapore harus dinilai dari perubahan nyata yang dihasilkannya, bukan dari kualitas pidato yang menjelaskannya. Namun, setidaknya Wong berusaha memperlihatkan hubungan antara masalah yang dihadapi, pilihan kebijakan, dan arah yang hendak dituju. Dengan kata lain, sebagai nakhoda Wong memiliki visi dan arah yang jelas, kemana kapal akan menuju.
Apa yang dilakukan Wong lewat komunikasinya barangkali terdengar sederhana, tetapi justru sering menjadi kelemahan satu pemerintahan. Seringkali kita mendengar daftar program yang dipaparkan oleh pemimpin dari suatu negara, berikut dengan target pertumbuhan, angka investasi, atau janji pembangunan, namun tanpa memperoleh gambaran yang utuh mengenai bagaimana semuanya saling berhubungan dan bagaimana cara menggapai lalu mencapainya. Padahal, rakyat tak hanya membutuhkan informasi mengenai apa yang sedang dikerjakan pemerintah. Mereka juga berhak mengetahui mengapa suatu kebijakan diprioritaskan, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang akan terdampak langsung dan menanggung beban, dan bagaimana keberhasilannya kelak akan diukur.
Ardern dan “They Are Us”, serta Roosevelt di Tepi Pediangan
Wong bukan satu-satunya pemimpin yang memperlihatkan kemampuan membangun kepercayaan melalui komunikasi yang sederhana dan manusiawi. Jacinda Ardern, ketika menjabat Perdana Menteri Selandia Baru, merupakan contoh lainnya. Tanggal 15 Maret 2019 terjadi peristiwa serangan teroris dengan pelaku tunggal terhadap dua masjid di Christchurch. Serangan yang menewaskan 51 orang itu mengguncang masyarakat Selandia Baru, terutama komunitas Muslim yang menjadi sasaran. Ardern merespons dengan menegaskan bahwa para korban, termasuk imigran dan pengungsi, merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsanya.
Ungkapan “They are us” (mereka adalah kita) yang digunakan Ardern kemudian dikenang luas sebagai simbol solidaritas nasional. Melalui ungkapan tersebut, Ardern menegaskan bahwa para korban, termasuk kaum imigran dan pengungsi Muslim, bukanlah orang asing yang berada di luar masyarakat Selandia Baru, melainkan bagian dari bangsa yang sama. Duka mereka adalah duka seluruh bangsa. Namun, Ardern tidak berhenti pada pernyataan empati dan kunjungan kepada keluarga korban. Pemerintahannya segera mengambil langkah memperketat kepemilikan senjata semi otomatis tertentu serta mendorong kerja sama internasional menghadapi penyebaran konten terorisme melalui internet. Pada titik ini kita melihat adanya kesejajaran tindakan yang diambil Ardern dengan kisah “Welcome Home” yaitu bahwa kata-kata memperoleh kekuatan karena diikuti atau didahului tindakan negara yang nyata.
Jauh sebelum Ardern dan Wong, ada sosok lainnya yang tersohor ke seantero dunia, sebagai pembanding untuk memperlihatkan bagaimana komunikasi dapat menjadi bagian penting dari penyelesaian krisis. Sosok tersebut adalah Franklin Delano Roosevelt alias FDR. Ketika dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat di bulan Maret 1933, negaranya sedang dilanda Depresi Besar, sementara sistem perbankan berada dalam keadaan yang sangat genting. Banyak bank ditutup sementara, masyarakat panik menarik simpanan, dan kepercayaan terhadap lembaga keuangan nyaris runtuh. Dalam keadaan tersebut, FDR memilih berbicara langsung kepada rakyat melalui radio.
Tanggal 12 Maret 1933, hanya delapan hari setelah pelantikannya, FDR menyampaikan pidato -- yang kemudian dikenal sebagai fireside chat -- yg pertama. Pada kesempatan itu, dia menjelaskan mengapa bank harus ditutup sementara, bagaimana sistem perbankan bekerja, serta langkah-langkah pemerintah untuk memulihkan kepercayaan. Penjelasannya tidak dipenuhi istilah teknis yang sulit dipahami, melainkan disampaikan seolah-olah dia sedang berbincang dengan keluarga-keluarga Amerika di ruang tamu mereka. Tujuannya bukan sekadar meminta masyarakat percaya kepada pemerintah, melainkan memberikan alasan yang dapat dipahami mengapa kepercayaan tersebut layak diberikan.
Pidato itu menjadi awal dari serangkaian fireside chat alias obrolan di tepi pediangan (perapian), yang kemudian menjadi salah satu ciri kepemimpinan Roosevelt. Pediangan adalah tempat khusus untuk menyalakan api di dalam rumah di negeri-negeri bermusim dingin; biasanya berupa ceruk pada dinding dengan cerobong asap, yang berfungsi menghangatkan ruangan saat cuaca dingin. Pediangan juga menjadi tempat keluarga berkumpul, bercakap-cakap, dan menikmati suasana akrab.
Diplomasi Denting Gitar
Ada sisi lain Wong yang juga menarik perhatian saya, yakni kegemarannya bermain gitar. Dia telah memainkan alat musik tersebut sejak kecil, jauh sebelum memasuki dunia politik. Di media sosial, beberapa kali dia memperlihatkan kemampuannya membawakan berbagai lagu, termasuk “Love Story” dari Taylor Swift. Namun, penampilan yang paling mengesankan bagi saya terjadi dalam kunjungannya ke Bangkok pada tanggal 2 September 2026, untuk menghadiri Singapore–Thailand Leaders’ Retreat, yakni pertemuan tingkat tinggi bilateral tahunan antara pemimpin Singapura dan Thailand. Pertemuan tersebut merupakan yang kelima, tetapi yang pertama antara Wong dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, setelah forum tersebut sempat terhenti selama 11 tahun.
Dalam jamuan sebagai bagian dari acara tersebut, Wong memainkan gitar akustik mengiringi sang tuan rumah bernyanyi. Mereka membawakan "Let It Be" karya The Beatles dan "Blowin' in the Wind" gubahan Bob Dylan. Rekaman tersebut memperlihatkan dua kepala pemerintahan yang sebelumnya membicarakan persoalan serius mengenai kerja sama ekonomi, ketahanan pangan, energi, dan teknologi, kini menikmati musik bersama. Wong mengambil posisi sebagai pengiring, membiarkan Anutin bernyanyi sambil menikmati kebersamaan tersebut.
Tentu saja permainan gitar tak dapat dijadikan ukuran keberhasilan diplomasi, sebagaimana hubungan pribadi yang akrab tidak otomatis menyelesaikan perbedaan kepentingan antarnegara. Namun, diplomasi juga membutuhkan kepercayaan, dan hubungan antarmanusia sering kali membantu membuka ruang percakapan yang lebih cair. Dalam hal ini, Wong memperlihatkan bahwa kewibawaan seorang pemimpin tak harus ditunjukkan melalui jarak yang kaku dan penampilan yang selalu serba resmi.
Bukan Sekadar Pandai Bicara
Saya tak bermaksud menjadikan Lawrence Wong sebagai pemimpin ideal yang bebas dari kekurangan. Singapura mempunyai sistem politik yang berbeda dari Indonesia, sementara dominasi PAP selama puluhan tahun terus menimbulkan perdebatan mengenai kompetisi politik, kebebasan berekspresi, dan ruang bagi oposisi. Di bidang ekonomi dan sosial, pemerintah Wong harus menjawab berbagai persoalan yang tidak ringan. Karena itu, kemampuan berkomunikasinya haruslah ditempatkan secara tepat, yakni sebagai salah satu aspek yang menopang kualitas kepemimpinan, namun bukan sebagai bukti bahwa seluruh kebijakannya sudah tepat dan telaksana.
Namun, kita juga tak perlu menunggu seorang pemimpin menjadi sempurna sebelum dapat mempelajari sesuatu darinya. Justru kemampuan mengambil pelajaran tanpa harus mengagumi seluruh aspek yang melekat pada diri seorang tokoh merupakan gian dari penilaian yang sehat. Dalam kasus Wong, pelajaran tersebut terletak pada hubungan antara kejelasan visi, penguasaan persoalan, dan kemampuan menjelaskan tanggung jawab negara kepada rakyatnya. Ketiganya harus berjalan bersama karena komunikasi yang baik tanpa kebijakan yang benar hanya akan menghasilkan pencitraan yang tampak apik di luar, namun kosong di dalam.
Indonesia tentu mempunyai sejarah panjang kepemimpinan dengan berbagai gaya komunikasi. Soekarno, misalnya, memiliki kemampuan luar biasa membangkitkan imajinasi kebangsaan melalui pidato, sementara para pemimpin setelahnya mengembangkan pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakter dan zamannya. Namun, tantangan pemerintahan dewasa ini menuntut lebih dari kemampuan membakar semangat. Masyarakat membutuhkan penjelasan yang masuk akal mengenai pilihan kebijakan, konsekuensi yang harus ditanggung, serta ukuran yang dapat digunakan untuk menilai apakah pemerintah berhasil menepati janjinya.
Negara yang Menepati Janji
Dari sekian banyak potongan video Lawrence Wong yang muncul di timeline saya, kisah ”Welcome Home” barangkali akan paling lama tinggal dalam ingatan. Bukan karena Wong sempat sangat emosional saat menyampaikannya, melainkan karena dua kata tersebut merangkum hubungan yang memang sudah sepatutnya terbangun antara negara dan rakyatnya. Seorang warga yang berada dalam bahaya di negeri orang akhirnya merasa aman ketika bertemu dan disapa oleh anggota angkatan udara negaranya. Sang warga belum lagi tiba di rumah, tetapi sudah merasa berada di tanahnya sendiri karena negara telah hadir untuk melindunginya.
Barangkali itulah pelajaran yang paling relevan untuk direnungkan di Indonesia. Rakyat tidak kekurangan pidato, slogan, atau penjelasan mengenai besarnya cita-cita pemerintah. Apa yang lebih dibutuhkan adalah wujud kepemimpinan yang mampu menentukan prioritas secara masuk akal, menjelaskan keputusan dengan jernih, dan memastikan bahwa negara benar-benar hadir ketika warganya membutuhkan perlindungan. Sebab, kepercayaan publik tidak dapat dipaksakan melalui kampanye komunikasi yang bombastis, melainkan harus ditunjukkan melalui kerja-kerja yang dapat dirasakan manfaatnya.
Dua kata, “Welcome Home” yang diucapkan seorang prajurit AU di Riyadh kepada Nisar Keshvani dan para penumpang lainnya yang berada di pesawat RSAF itu, terasa memiliki kekuatan, karena mewakili sesuatu yang kerap kali gagal disampaikan oleh pidato-pidato panjang para pemimpin. Negara yang baik bukanlah negara yang sering meminta rakyat untuk mencintainya, melainkan negara yang membuat rakyat mempunyai alasan untuk merasa dicintai dan dilindungi. Dan pemimpin yang menenteramkan hati bukanlah pemimpin yang menjanjikan kehidupan tanpa masalah, melainkan sosok pemimpin yang membuat rakyat percaya bahwa ketika masalah datang di depan mata, mereka tak akan dibiarkan menghadapinya sendirian. *
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar