Zikir Kolosal Sebatas Monas
DARI pelantang suara yang menggelegar, lafal-lafal suci itu dipekikkan menembus langit malam. Melintasi aspal yang basah dan sederetan bangunan beton kota yang gagah. Acara yang baru saja digelar itu diberi judul Zikir dan Doa Kebangsaan. Ini sebuah ritus tahunan yang riuh dan kepasrahan yang diproduksi secara massal.
Dalam gemuruh acara yang dijadwalkan rutin menjelang perayaan kemerdekaan ini sepertinya telah terjalin kesepahaman dalam diam. Atau mungkin kesepakatan tak tertulis, sadar atau pun tidak, bahwa Tuhan membutuhkan lantunan zikir yang digaungkan melalui sistem pengeras suara ribuan watt.
Sejatinya ada sesuatu yang ganjil ketika keintiman iman ditarik ke dalam industri tontonan yang menghadirkan puluhan ribu, bahkan ratusan ribu umat berseragam serba putih. Mereka memadati stadion olahraga bahkan lapangan terbuka di sekitar Monumen Nasional (Monas). Bus-bus sewaan berderet memacetkan arteri kota, mengangkut rombongan dari pinggiran kota yang lelah demi sebuah janji spiritual yang dikemas kolosal.
Padahal, di masa lalu, para sufi dan pencari kebenaran justeru berjalan menjauhi keramaian. Mereka mendatangi gua-gua yang sepi, sudut-sudut pesantren yang syahdu, atau keheningan sepertiga malam di kamar yang terkunci. Di sana, dalam kesunyian yang mencekam, mereka berbisik dengan gemetar, menyadari betapa kerdilnya diri mereka di hadapan Sang Khalik, pencipta bumi, langit dan seisinya.
Zikir adalah sebuah dialog yang paling privat. Sebuah wilayah intim manakala ego manusia diluruhkan ke titik nol. Namun, dalam format kolosal yang kita saksikan belakangan ini, zikir telah berubah dari dialog menjadi monolog kolosal yang dikomandoi dari atas podium. Ada dirigen yang mengatur kapan air mata harus tumpah. Ada kamera yang memperbesar wajah-wajah khusyuk untuk ditayangkan di layar LED raksasa. Kesunyian itu telah mati, digantikan teatrikal kesalehan. Spiritualitas kita hari ini kerap menyerupai pasar malam.
Kritik ini bukanlah penolakan terhadap aktivitas beribadah. Tapi wujud kecemasan terhadap hilangnya makna. Ketika zikir diubah menjadi sebuah festival akbar, ia secara tak sadar mengadopsi watak dari kerumunan. Di dalam kerumunan, individu kehilangan kediriannya. Seseorang menangis bukan karena ia benar-benar sedang menyesali dosanya dalam perenungan yang sunyi. Melainkan karena getaran suara ribuan orang di sekeliling memaksa kelenjar air matanya bereaksi di tengah histeria massa yang disakralkan.
Puncak katarsis yang dicapai dalam zikir kolosal sering kali hanyalah sebuah pelepasan emosi sesaat—sebuah "anestesi spiritual"—yang membuat kita merasa suci setelah beberapa jam menangis bersama. Lalu kembali menjadi manusia yang sama egoisnya ketika mengantre di tempat parkir bus seusai acara. Menjadi umat yang cuek bebek terhadap sampah yang menggunung di atas rerumputan.
Lebih mencemaskan jika ritus kolosal ini kerap kali menjadi panggung kompromi yang paling nyaman para pihak yang berkepentingan. Di barisan paling depan, di atas karpet-karpet beludru yang mahal, kita hampir selalu melihat wajah-wajah yang tak asing. Mereka adalah para pejabat negara, menteri, politisi yang sedang bersiap menghadapi musim pemilu, atau pebisnis kakap yang membutuhkan stempel kesalehan.
Di bawah payung zikir nasional, semua dosa sosial seolah-olah bisa dibasuh secara instan. Kebijakan yang mencekik rakyat, korupsi yang meremukkan sendi-sendi keadilan, serta penggusuran tanah-tanah adat yang sepi dari pemberitaan, mendadak lebur dalam gemuruh doa-doa keselamatan bangsa.
Agama, dalam titik ini, kembali menjalankan fungsi klasiknya yang paling sinis: sebagai opium yang meninabobokkan amarah publik. Rakyat diajak untuk mengetuk pintu langit demi perbaikan nasib. Sedangkan pintu-pintu kantor birokrasi tertutup rapat bagi keadilan sama sekali tidak digedor.
Mungkin ada segelintir kiai kampung yang mengajukan pertanyaan menggelitik. Apakah doa-doa yang diteriakkan dengan pelantang suara ini mampu menggantikan kewajiban moral untuk menegakkan keadilan di bumi? Apakah tumpukan pahala yang dikejar melalui jumlah rakaat dan hitungan tasbih massal bisa menebus utang ekologis dari hutan-hutan kita yang digunduli?
Kerumunan para pezikir yang diatur kolosal sering kali melupakan hal yang paling esensial. Bahwa kesalehan ritual tanpa komitmen pada keadilan sosial tak lain merupakan kepalsuan yang megah. Kita menjadi sangat fasih memohon ampunan atas dosa-dosa pribadi, namun mendadak bisu dan tuli terhadap dosa-dosa struktural yang terjadi di depan mata.
Matahari esok akan selalu terbit membawa kenyataan yang sama pahitnya. Setelah lampu-lampu stadion dipadamkan dan sisa-sisa botol plastik serta sampah kemasan makanan dibersihkan oleh para petugas kebersihan, kota ini kembali ke watak aslinya. Kemacetan yang gila, polusi yang menyesakkan dada, dan struktur ekonomi yang timpang kembali menyambut para jemaah yang semalam menangis tersedu-sedu. Zikir kolosal tak mengubah apa-apa di luar dinding stadion. Ia hanya menjadi sebuah jeda hiburan yang religius di tengah hidup yang semakin berat.
Barangkali kita telah menjadi masyarakat yang takut pada kesunyian. Kita takut berdiri sendiri di hadapan cermin nurani kita tanpa ada suara latar yang bising. Kita membutuhkan kerumunan untuk merasa aman. Angka-angka yang besar perlu dihimpun untuk meyakinkan bahwa iman kita valid.
Padahal iman sejati tak diuji dalam stadion yang penuh sesak. Ia diuji di pasar-pasar tempat orang kecil ditipu, di jalan-jalan tempat hukum dipermainkan. Bahkan di dalam bilik-bilik kekuasaan tempat nasib jutaan orang ditentukan.
Zikir yang sejati tidak berteriak. Ia berbisik dalam tindakan nyata untuk membela mereka yang tertindas. Selama kita masih mengira bahwa Tuhan hanya hadir dalam kemegahan acara kolosal, selama itu pula kita akan terus terasing dari hakikat agama yang sesungguhnya—sebuah jalan sunyi menuju pembebasan manusia. Bukan festival untuk melanggengkan kenyamanan para elite.
Anggaran untuk satu malam itu menyentuh digit miliaran rupiah. Bersumber dari dana hibah daerah atau kas negara yang dipungut dari keringat para pembayar pajak yang kala itu duduk bersila di malam yang dingin. Maka terjadilah ironi yang klasik: mengapa untuk mengetuk pintu langit yang tak berjarak, kita membutuhkan kapital begitu besar? Apakah kita sedang bergerak menuju “teologi kebisingan”?
Ada keganjilan etis yang amat tajam ketika kemegahan ritual dibiayai oleh pundi-pundi masyarakat di negara yang sedang kesulitan anggaran. Padahal bujet untuk satu perhelatan zikir kolosal sanggup membiayai perbaikan belasan ruang kelas sekolah dasar di pelosok yang atapnya hampir runtuh menimpa kepala anak-anak kita. Uang miliaran yang habis terbakar menjadi sewa pelantang suara dan honor pengisi acara dalam semalam itu, sanggup menebus tunggakan BPJS kesehatan ribuan buruh harian lepas yang cemas setiap kali anak mereka batuk di malam hari.
Birokrasi kita selalu memiliki logika yang ajaib. Mereka lebih fasih mengalokasikan dana untuk sebuah kosmetik spiritual yang tampak agung di kamera ketimbang membasuh luka-luka sosial yang menganga di ruang-ruang publik. Lebih celaka jika perhelatan ini tak lebih dari sekadar transaksi politik yang dibungkus jubah kesalehan.
Barangkali ada yang menganggap bujet besar itu bukanlah biaya ibadah, melainkan premi asuransi politik. Dengan menggelontorkan dana publik untuk acara keagamaan yang masif, mereka sedang membeli keheningan massa. Mereka sedang menutupi nurani publik yang disilaukan cahaya panggung dan telinganya pekak oleh dengung doa.
Ini adalah bentuk spiritualitas konsumtif.
Sebuah ritus yang menuntut ongkos material mahal demi memproduksi kepuasan batin yang semu. Ketika tumpukan rupiah diubah menjadi panggung megah untuk memohon pengampunan, agama secara tak sadar telah ikut merayakan kapitalisme yang menindas. Kita membangun sebuah berhala baru bernama "kemegahan syiar"--sebuah konsep keliru yang mengukur berkah dari seberapa besar panggung didirikan.
Padahal, Tuhan yang kita ketuk nama-Nya malam itu adalah Sang Maha Pendengar yang mendengar bisikan lirih seorang ibu di gubuk bambu yang kelaparan. Tanpa perlu perantara lampu sorot berdaya ribuan watt. Kemewahan ritual di tengah kemiskinan struktural bukanlah sebuah pujian kepada Yang Maha Kuasa, tapi merupakan ejekan yang sarkas terhadap kemanusiaan.
Begitulah, anggaran negara tampaknya lebih mudah mencair untuk tontonan keagamaan yang kolosal. Bukan diutamakan untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan yang riel, yang sangat dibutuhkan masyarakat kebanyakan, juga umat. Jika tradisi ini terus dilanggengkan, maka selama itu pula zikir kita tak ubahnya sebuah kemegahan yang hampa. Riuh di luar, namun sepenuhnya keropos di dalam
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar