Feature

Antara KL-Shanghai

SW60Plus.com, 01 Juni 2026, 15:32 WIB
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan
· 111x dilihat

ADA anggota Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) atau SW60+ yang hebat sekali: tiap hari menulis artikel tanpa absen. Sudah sejak Pak Prabowo menjabat presiden. Sampai hari ini. Anda sudah tahu namanya: Ahmadie Thaha. Kini bergelar kiai. Ia pemilik pesantren dengan santri 4000 orang.

Saya menulis artikel ini karena sungkan. Terutama pada ketua kita: Wahyu Muryadi. Ia mengndang saya untuk hadiri deklarasi SW60+ tidak bisa datang. Ia minta saya menulis artikel ini tidak kunjung punya waktu. Untung hari ini saya harus terbang dari Kuala Lumpur ke Shanghai: 5,5 jam. Tidak ada WA masuk. Tidak bisa rapat. Duduk kami pun terpisah-pisah. Cari tiket ke luar negeri bukan main sulitnya: habis lebaran para pemudik antar negara kembali ke tempat cari rejeki masing-masing. 

Di ruang tunggu saya wawancara anggota SW60+ tersebut. Wawancara lewat WA. Maka pertanyaan saya dan jawaban nara sumber saya jadikan bahan tulisan ini. Di pesawat, tinggal saya susun sebagai berikut:

Dahlan Iskan (DI): Kang Thaha menulis tiap hari sejak tahun berapa? Saya lihat kadang dua kali sehari?

Ahmadie Thaha (AT): Saya nulis terinspirasi oleh Abah Dahlan Iskan. Terima kasih banyak. Dan itu saya mulai sejak awal pemerintahan Prabowo. Saya jarang sekali menulis dua artikel sehari. Cukup satu saja, agar pembaca tidak bosan. Saya tidak mengelola website sendiri. Saya bagikan saja artikel itu kepada kawan-kawan  redaksi, puluhan jumlahnya, sebagai  wakaf.

DI: Terbit di mana setiap jam berapa?

AT: Terbit di banyak media, seperti Duta, Tagar, Teropong Senayan, Hatipena, Satupena, Singgalang, Republika. Juga ada yang muat di Facebook. Tak ada yang  saya pantau. Tapi kadang ada yang kirim laporan jumlah pembaca. Saya kirim naskah tulisan via WhatsApp, sekitar pukul 6 pagi WIB. Kadang butuh waktu lebih, kalau artikel harus saya tulis lebih hati-hati  karena isunya sensitif dan bisa berdampak hukum. Catatan Cak AT yang kemarin sudah 21 ribu tayangan.

DI: Jam 6 pagi?

AH: Iya, jam 6 pagi. Seperti di newsroom, saya siapkan beberapa tulisan yang awet waktu. Saya jadwalkan pemuatannya, dengan diberi nama file sesuai tanggal tambah  judul. 

Namun, sangat sering tiba-tiba  ada isu baru, dan itulah yang kemudian saya tulis dan saya kirimkan artikelnya ke kawan-kawan. Setiap tulisan, saya perlakukan seperti layaknya di newsroom. Ada peg, ada isu, ada konteks, ada pendalaman hasil riset. Ada kritik, yang sering saya sampaikan pakai humor dan permisalan. Lalu, saya akhiri dengan renungan.

DI: Kenapa dulu meninggalkan Tempo?

AH: Keluar tahun 1990, saat asyik-asynya jadi jurnalis. Saya keluar baik-baik, pamit ke Pemred Tempo Goenawan Mohamad (GM), bersama Mas Zaim Uchrowi, Budiono Darsono, Suharjo HS, Tommy Utomo, untuk mendirikan koran Islam. Pemodalnya Mas Sutrisno Bachir. Saat di Tempo, kami nama-nama  tadi, sering ngobrol usai rapat perencanaan Tempo. Akhirnya muncul ide bikin koran Islam sekelas Kompas, tapi dengan manajemen dan gaya Tempo. Kami pun menyusun konsep. Matang. Giliran cari SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), enggak dapat. Semula kami bikin di daerah saja, misalnya di Bogor, yang masih dibolehkan bikin SIUPP. Nama korannya, Lokomotif.  Belakangan, kami ketemu Mas Tris (Sutrisno Bachir). Kami pun pindah rapat-rapat  di rumahnya. Dialah yang  kemudian menghadirkan kerjasama dengan pemilik koran Berita Buana. Gedung Republika di Buncit itu, dibeli Mas Tris habis Subuh, saat jalan kaki dari rumahnya dekat situ. Kebetulan ketemu pemiliknya di lokasi, dan langsung transaksi. Harganya Rp 2 miliar. Konsep siap. Kantor siap. Koran siap. Maka, kami pun dg Bismillah, minta izin ke GM untuk bikin koran tadi.
Koran Berita Buana edisi baru terbit 1991, dengan konsep dan manajemen ala Tempo. Layout sederhana, dengan foto-foto  menarik. Tak ada berita bersambung.
Sayangnya, keindahan ini hanya berlangsung sekitar dua tahun, karena si pemilik SIUPP yang tentara diteror kawan-kawannya di ABRI. Isi Berita Buana dianggap banyak yang mengancam kemapanan. Kami nganggur, tapi tetap masuk kantor, kadang gajian, kadang tidak. Sampai kemudian, didapat izin Republika atas nama ICMI.

DI:  Kang, buku apa yang Kang Thaha terjemahkan sampai tidak perlu tes masuk Tempo. Kenapa GM tahu kalau Anda menerjemahkan itu?

AT:  Banyak kitab klasik Islam yang  saya terjemahkan. Kitab-kitab babon semua. Kitab-kitab sulit, sangat sulit bahasanya karena keklasikannya. Di antaranya, kitab Shahih Bukhari (9 jilid, Panjimas), kitab al-Risalah karya Imam Syafii, kitab Tahafut al-Falasifah karya Imam Ghazali, kitab novel filsafat klasik Hayy bin Yaqzan karya Ibnu Tufayl, kitab al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun. Juga kitab at-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk karya Imam Ghazali. Kitab al-Milal wan Nihal karya al-Syahrastani. Dan banyak lagi. Kawan-kawan Tempo kenal terjemahan saya via pak Amak Baljun dan beberapa kawan redpel yg jadi editor terjemahan kitab Muqaddimah tadi. 
Semula, kakak saya membawa naskah Muqaddimah ke kantor Tempo di Senin. Niatnya, agar diterbitkan Pustaka Grafiti, punya Tempo. 
Naskah diterima pak Amak Baljun, yang rupanya punya penerbit sendiri, Pustaka Firdaus. Penerbit inilah yg mencetak Muqaddimah pertama kali tahun 1985.

DI: Semua itu sebelum masuk Tempo?

AT: Iya, tapi tidak semua. Kebanyakan saya kerjakan sebelum masuk Tempo, sejak saya masih jadi guru pengabdian dua tahun sejak 1981 di Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Saya lulus dari sana pada 1980, angkatan keempat. Di Prenduan, saya sempat kuliah sarjana muda, dua semester di IAIN Sunan Ampel cabang Pamekasan. Usai pengabdian di Al Amien, saya ke Yogya, agar bisa meneruskan kuliah. Tapi tidak bisa, karena ijazah pesantren tidak diakui. Lontang-lantung di sana enam bulan, tinggal di ruang pengimaman Masjid IAIN, mengurus buletin masjid, padahal bukan mahasiswa di sana. Sambil terus menerjemahkan dengan mesin ketik kecil warna kuning, Brother. Saat itu, rame²nya penerbitan buku² penulis Iran, diterbitkan Salahudin Press.

DI: Tapi kang Thaha Sunda kan?

AT: Saya bukan Sunda. Saya asli Jember, Jawa Timur, tapi bapak dan ibu saya asal Madura, tetanggaan dengan pesantren Al Amien. Istri saya yang  Sunda, asal Cirebon. Saat awal bekerja di Tempo, saya ditantang mertua memulai mendirikan pesantren di sana. Alhamdulillah, jadi. Namanya Pesantren Manbaul Ulum. Kini santrinya sekitar 4000-an.Istri saya masih bersaudara dengan Kang Imam Jazuli (pemilik pesantren BIMA Cirebon -DI). Ayahnya sering mengisi acara di Manbaul Ulum. Ahli spiritual. Saya duga, kesuksesan Kang Imam juga karena faktor ayahnya.

DI: Oh... Saya sering jadikan kang Imam contoh keberanian bikin pesantren terobosan. Kurikulum sendiri dengan hanya tiga mata pelajaran.

AT: Saya tahu persis bagaimana pesantrennya dia mulai. Kami sering diskusi, suka ketemu, pernah sama-sama jadi staf ahli sambilan di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Saya, belakangan, saat Covid, merintis pesantren dengan kurikulum Gontor/Al-Amien tapi untuk gen Z. Kelas dua sudah bisa baca kitab. Kapan Abah DI ada waktu mampir ke pondok, dekat pintu tol Ciawi. Ini juga terobosan, Insya Allah. Tapi karena masih baru jalan empat tahun, hasilnya belum terlalu kelihatan. Selain di Gadog, sudah sedang jalan bersamaan pesantren yang di Sukaraja, Sukabumi. ***

Tags: KL-Shanghai
Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000