Cepat Naik
Ada masa ketika melihat keberhasilan orang lain terasa seperti melihat jam dinding. Bukan karena kita tidak senang melihat mereka berhasil, tetapi karena diam-diam keberhasilan mereka mengingatkan kita bahwa waktu kita juga terus berjalan.
Teman seangkatan sudah menjadi direktur. Orang yang dulu belajar bersama kita sudah memimpin ratusan orang, sementara kita masih berada di kursi yang sama dan mulai bertanya dalam hati: “Kok saya masih di sini?”
Lalu sebuah ketakutan kecil muncul. Jangan-jangan saya terlambat.
Padahal mungkin ada kemungkinan lain yang jarang kita pikirkan. Mungkin kita bukan sedang terlambat, melainkan sedang diperdalam.
Jauh sebelum menduduki kursi tertinggi di Nestlé, Paul Bulcke pernah menjalani tahun-tahun yang jauh dari kemewahan seorang eksekutif global. Karier membawanya ke Peru, negeri yang ketika itu menghadapi gejolak politik, terorisme, dan tekanan ekonomi yang berat.
Di sana, pasar tidak cukup dipahami dari laporan yang dikirim ke kantor. Ia harus ditemui langsung, toko demi toko, jalan demi jalan, percakapan demi percakapan.
Bulcke pernah ikut menjual produk dari van dan mendatangi toko-toko kecil sejak pagi. Terlambat sedikit saja bisa berarti uang pemilik toko sudah lebih dahulu dibelanjakan kepada salesman perusahaan lain.
Bayangkan pelajarannya. Bertahun-tahun sebelum mengambil keputusan besar sebagai CEO, ia belajar bahwa keputusan konsumen kadang ditentukan oleh sesuatu yang sangat sederhana: siapa yang datang lebih pagi.
Ketika anggaran pemasaran terbatas, mereka tidak bisa menyelesaikan persoalan hanya dengan menambah biaya. Timnya mengadakan kelas memasak menggunakan produk Maggi di desa-desa dan memanfaatkan dinding toko kecil untuk memperkenalkan merek.
Tidak glamor. Bahkan mungkin tidak terdengar seperti pekerjaan yang sedang mempersiapkan seseorang menjadi CEO.
Tetapi mungkin justru di situlah kita sering keliru membaca perjalanan karier. Kita mengira seseorang sedang berkembang hanya ketika jabatannya berubah, padahal pertumbuhan terbesar terkadang terjadi ketika kartu namanya masih sama.
Kita sering ingin segera memikul tanggung jawab yang besar. Padahal, bisa jadi justru pengalaman-pengalaman kecil hari ini yang sedang menyiapkan bahu kita untuk itu.
Paul Bulcke bukan satu-satunya.
Jean-François van Boxmeer juga menjalani bagian penting dari kariernya jauh dari kenyamanan kantor pusat. Penugasannya di Afrika membawanya berhadapan dengan lingkungan ketika persoalan bisnis dapat bersinggungan dengan ketidakstabilan politik dan keselamatan manusia.
Di tempat seperti itu, spreadsheet tetap berguna. Tetapi ada keadaan ketika seorang pemimpin harus mengambil keputusan sementara kenyataan berubah lebih cepat daripada laporan yang sampai ke mejanya.
Bertahun-tahun kemudian, Satya Nadella menghadapi medan yang sama sekali berbeda. Tidak ada jalanan Peru atau gejolak Afrika, tetapi ada Microsoft—perusahaan raksasa yang harus belajar kembali ketika keberhasilan masa lalu berisiko membuatnya terlalu nyaman dengan cara berpikir lama.
Nadella mendorong pergeseran yang sederhana untuk diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Dari budaya know-it-all menuju learn-it-all: dari merasa harus selalu punya jawaban menjadi cukup rendah hati untuk terus mencari jawaban.
Kita baik-baik saja, sampai seseorang seusia kita tiba-tiba naik lebih tinggi
Tiga pemimpin. Tiga medan yang berbeda.
Bulcke ditempa pasar yang keras. Van Boxmeer menghadapi situasi ketika bisnis bertemu krisis, sementara Nadella menghadapi sesuatu yang mungkin sama berbahayanya: kesuksesan yang membuat organisasi berhenti belajar.
Di sinilah paradoksnya.
Semakin tinggi seseorang naik, semakin mudah ia kehilangan kontak dengan kenyataan. Ia menerima lebih banyak laporan dan menghadiri lebih banyak rapat, tetapi mungkin semakin jarang melihat sendiri bagaimana keputusan dari lantai atas dirasakan oleh orang-orang di bawahnya.
Riset tentang pengembangan kepemimpinan menemukan pola yang menarik. Banyak pembelajaran penting justru lahir dari challenging assignments: tanggung jawab baru, lingkungan asing, perubahan, kegagalan, konflik, dan persoalan yang jawabannya belum tersedia.
Namun, pengalaman saja tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Dua orang bisa melewati badai yang sama dan keluar dengan sesuatu yang sangat berbeda.
Yang satu hanya membawa cerita tentang betapa beratnya badai itu. Yang lain membawa cara baru membaca langit.
Mungkin perbedaannya ada pada keberanian untuk berhenti dan bertanya: “Apa yang sebenarnya sedang diajarkan pengalaman ini kepada saya?”
Karena itu, pekerjaan yang hari ini terasa kecil belum tentu benar-benar kecil. Atasan yang sulit mungkin sedang mengajarkan cara mengelola ego, pelanggan yang marah mengajarkan empati, dan proyek yang gagal menunjukkan kelemahan yang selama ini tersembunyi saat keadaan masih nyaman.
Anehnya, kita sering baru memahami kegunaan sebuah pengalaman setelah cukup jauh meninggalkannya. Saat menjalaninya, kita hanya merasa lelah, kesal, bahkan ingin segera keluar darinya.
Bulcke mungkin tidak tahu sejauh apa toko-toko kecil di Peru akan ikut berjalan dalam perjalanan kepemimpinannya. Van Boxmeer pun mungkin tidak mengetahui bahwa pengalaman sulit di Afrika kelak ikut membentuk cara ia mengambil keputusan.
Begitu pula Nadella. Pelajaran tentang empati, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus belajar akhirnya menjadi bagian penting dari cara ia memimpin salah satu perusahaan terbesar di dunia.
Barangkali kita pun sedang berada dalam salah satu masa seperti itu sekarang. Hanya karena ceritanya belum selesai, kita belum tahu untuk apa semua ini kelak berguna.
Maka, mungkin pertanyaan tentang karier perlu sedikit diubah. Bukan hanya “Kapan saya naik?”, tetapi “Apa yang masih perlu tumbuh dalam diri saya sebelum saya naik?”
Sebab jabatan bisa berubah dalam satu email. Kapasitas tidak.
Seseorang bisa menjadi direktur pada Senin pagi. Tetapi tidak ada surat keputusan yang otomatis membuat judgment-nya matang, egonya mengecil, empatinya bertambah, atau bahunya mendadak lebih kuat.
Itulah sebabnya tidak semua yang berjalan lambat sedang tertinggal. Ada masa ketika kehidupan seolah menahan kita di tempat yang sama karena masih ada sesuatu yang perlu diselesaikan di sana.
Mungkin pagi ini kita sedang berada di tempat itu. Melihat orang lain naik, sementara pintu kita seolah belum juga terbuka.
Sebelum mengetuknya lebih keras, mungkin ada baiknya kita melihat kembali ruangan tempat kita berdiri. Bisa jadi masih ada sesuatu yang belum kita pelajari, seseorang yang belum kita pahami, atau bagian dari diri sendiri yang belum berani kita hadapi.
Ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada terlambat mendapatkan jabatan besar. Mendapatkannya terlalu cepat, lalu menyadari bahwa jabatan kita berkembang lebih cepat daripada diri kita.
Dan ketika itu terjadi, bukan hanya kita yang harus membayar harganya. Orang-orang yang kita pimpin bisa ikut menanggungnya.
Jadi, pagi ini, mungkin ada satu pertanyaan yang layak tinggal sedikit lebih lama bersama kopi kita.
Kalau besok pagi semua yang selama ini kita kejar benar-benar diberikan kepada kita.... apakah kita sudah menjadi manusia yang mampu menanggungnya?
Atau jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menunggu kehidupan membuka pintu berikutnya....
Sementara itu, kehidupan masih menunggu kita menyelesaikan pelajaran di ruangan yang sekarang?
Selamat pagi....
Kopinya jangan sampai dingin.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar